Tag: Nyeri

Obat pereda nyeri atau painkiller dapat menyebabkan efek samping jangka panjang. Kapan dan bagaimana seharusnya kita menggunakannya?       

 

Ada banyak pilihan pengobatan untuk menghilangkan rasa nyeri pada tubuh. Salah satunya adalah obat pereda nyeri atau painkiller yang juga dikenal dengan sebutan analgesik. Penggunaan pereda nyeri sebaiknya dilakukan dengan hati-hati dan sesuai dengan petunjuk dokter. Jenis pereda nyeri terbaik bergantung banyak faktor, termasuk jenis nyeri yang ditangani dan apakah pasien memiliki masalah medis lainnya.

Meskipun pereda nyeri dapat mengatasi rasa sakit, penggunaan yang berlebihan atau terus-menerus dapat menimbulkan efek samping dan risiko kesehatan yang serius, sesuai studi yang dilakukan oleh Carter dkk. dalam jurnal Physical Medicine and Rehabilitation Clinics of North America pada 2015.

Menurut hasil penelitian R. Andrew Moore dkk. yang dipublikasikan di jurnal The Cochrane Database of Systematic Reviews pada 2015, beberapa pereda nyeri dapat digunakan tanpa resep untuk berbagai jenis nyeri yang berbeda, yang umumnya untuk nyeri akut dengan durasi singkat. Mereka menemukan sejumlah penelitian telah melihat kemanjuran analgesik dari intervensi obat individual pada nyeri akut pascaoperasi.

Moore dkk. juga menyimpulkan bahwa beberapa jenis nyeri memerlukan resep dokter dan bahkan mungkin bersifat terbatas. Menurut mereka, penting untuk mengevaluasi penyebab nyeri yang dialami, terutama jika nyerinya parah walau hanya sebentar, berlangsung lama walau tidak parah, atau terus berulang. Hal ini bertujuan untuk menentukan penanganan terbaik dan jenis pereda nyeri yang sesuai untuk terapi.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) merekomendasikan agar orang berkonsultasi dengan dokter untuk pengobatan dan memilih opsi pereda nyeri dengan risiko terendah. Memahami penyebab dan jenis nyeri yang dialami akan membantu Anda memilih pilihan terbaik untuk mengobatinya. Terkadang, kata CDC, terapi non-obat, seperti pijat, terapi fisik, atau akupuntur, dapat membantu jika dikombinasikan dengan terapi obat. Selain itu, jika nyeri disebabkan oleh suatu penyakit atau kelainan, mengobati kondisi mendasarnya dapat meredakan nyeri.

Beberapa Jenis Obat Pereda Nyeri

Sebenarnya ada banyak pilihan obat pereda nyeri yang umum digunakan oleh masyarakat atas rekomendasi dokter. Berikut ini yang disarikan oleh CDC.

Parasetamol

Pereda nyeri jenis ini paling mudah didapatkan tanpa resep dokter. Parasetamol tidak memiliki sifat anti-inflamasi dan dapat digunakan untuk nyeri kepala/migrain, cedera ringan, nyeri punggung bawah kronis, bahkan arthritis. Apabila digunakan berlebihan, ia dapat menyebabkan kerusakan hati. Oleh sebab itu, Anda tidak boleh mengonsumsinya lebih dari 4 gram dalam 24 jam.

Obat Anti-inflamasi Nonsteroid (NSAID)

Beberapa jenis pereda nyeri NSAID antara lain adalah aspirin, ibuprofen, naproxen, meloxicam, diklofenak, flurbiprofen, dan ketorolac. Obat-obatan ini ada yang dijual bebas dan ada yang harus ditebus menggunakan resep dokter. Sebagian besar obat ini memiliki sifat anti-inflamasi. Obat anti-inflamasi hanya boleh digunakan 48 jam setelah cedera terjadi. Jika digunakan sebelum waktu tersebut, obat ini dapat mempengaruhi proses penyembuhan dalam beberapa kondisi. Nyeri yang dapat diobati dengan NSAID antara lain adalah sakit kepala/migrain, nyeri yang disertai peradangan, kram menstruasi, nyeri pinggang kronis, radang sendi, dan cedera, trauma, atau operasi ringan hingga berat.

Ibuprofen dan diklofenak dapat menyebabkan efek samping yang serius seperti tukak lambung dan pendarahan. Risiko ini dapat dikurangi secara signifikan dengan mengonsumsi obat untuk melindungi lapisan lambung. Pereda nyeri tertentu juga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, terutama bila dikonsumsi dalam waktu yang lebih lama dan dengan dosis yang lebih tinggi.

Opioid dan Opiat

Obat-obatan jenis ini di antaranya adalah kodein, tramadol, hidrokodon, oksikodon, morfin, hidromorfon, dan fentanil yang membutuhkan resep dokter. Jenis nyeri yang ditangani oleh obat-obatan ini adalah cedera atau trauma parah, operasi besar, dan nyeri kanker. Ada kekhawatiran bahwa obat-obatan ini mampu menyebabkan kecanduan sehingga Anda harus menggunakan dosis efektif terendah untuk durasi sesingkat mungkin.

Obat Antikejang, Antidepresan, dan Anestesi Lokal

Contohnya adalah gabapentin, pregabalin, karbamazepin, oxcarbazepine, amitriptyline, duloxetine, dan lidokain. Nyeri yang bisa diobati dengan obat-obatan tersebut adalah nyeri akibat kerusakan/gangguan saraf, neuropati, nyeri tungkai semu, fibromyalgia, nyeri pinggang kronis, dan nyeri kanker. Meski begitu, nyeri neuropatik cukup sulit diobati. Bisa saja membutuhkan beberapa minggu pengobatan antikejang atau antidepresan untuk melihat hasilnya.

 

Penggunaan Pereda Nyeri

Pereda nyeri dapat membantu Anda tetap beraktivitas normal. Namun, ada beberapa ketentuan dari CDC yang harus diketahui sebelum Anda mengonsumsinya.

  1. Jika Anda merasa nyeri yang intens atau kronis, konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan pereda nyeri secara teratur. Dokter akan memberikan panduan yang lebih spesifik sesuai dengan kondisi kesehatan Anda. Pereda nyeri tidak mengatasi akar penyebab nyeri dan obat itu dapat menyebabkan efek samping jangka panjang.
  2. Selalu mengikuti dosis dan petunjuk penggunaan yang diberikan oleh dokter atau yang tertera pada kemasan. Jangan menggunakan dosis lebih tinggi dari yang direkomendasikan.
  3. Gunakan pereda nyeri hanya saat benar-benar diperlukan, misalnya ketika rasa sakit tidak dapat diatasi dengan metode lain. Sebaiknya hindari penggunaannya secara rutin sebagai pencegahan. Gunakan hanya saat Anda benar-benar mengalami rasa sakit.
  4. Perhatikan efek samping. Jika Anda mengalami efek samping seperti mual, pusing, atau perubahan lain dalam kondisi kesehatan setelah mengonsumsinya, segera konsultasikan dengan dokter.

Penting untuk diingat bahwa setiap orang memiliki toleransi dan respons yang berbeda terhadap obat. Jika Anda memiliki kekhawatiran atau pertanyaan tentang penggunaan pereda nyeri yang tepat, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis untuk mendapatkan saran yang lebih spesifik sesuai dengan kondisi Anda.

Masalah nyeri punggung bawah tidak bisa diabaikan. WHO merekomendasikan langkah intervensi negara untuk mengatasinya. 

 

Sepintas nyeri punggung bawah kronis bukan penyakit yang membutuhkan penanganan serius. Ternyata, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit itu adalah penyebab utama kecacatan secara global. Oleh sebab itu, pada 7 Desember 2023, WHO mengeluarkan pedoman pertamanya mengenai penanganan nyeri punggung bawah non-bedah di layanan kesehatan primer dan komunitas dengan mencantumkan intervensi yang boleh digunakan dan tidak boleh digunakan oleh petugas kesehatan selama perawatan rutin.

Asisten Direktur Jenderal WHO Klaster Universal Health Coverage Life Course, Bruce Aylward, mengatakan bahwa untuk mencapai cakupan kesehatan universal, masalah nyeri punggung bawah tidak bisa diabaikan karena inilah penyebab utama kecacatan secara global. “Negara-negara dapat mengatasi tantangan yang sering terjadi namun sering diabaikan ini dengan melakukan intervensi-intervensi penting yang dapat dicapai, sembari memperkuat pendekatan mereka terhadap layanan kesehatan primer,” katanya dalam rilis WHO.

Panduan WHO ini mendefinisikan nyeri punggung bawah sebagai nyeri yang menetap atau berulang selama lebih dari tiga bulan yang diderita pasien dan berhubungan dengan gejala yang tidak dapat dijelaskan dengan lebih baik oleh diagnosis lain, seperti lesi struktural atau proses penyakit. Namun, panduan ini tidak menerapkan kriteria yang terkait dengan pengalaman tekanan emosional atau disabilitas fungsional pasien.

Menurut WHO, sekitar 619 juta orang mengalami nyeri punggung bawah pada tahun 2020, naik 60 persen dari tahun 1990. Kasus ini diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar 843 juta pada tahun 2050, dengan pertumbuhan terbesar diperkirakan terjadi di Afrika dan Asia, tempat populasi menjadi lebih besar dan harapan hidup masyarakat lebih lama.

Dalam pedoman tersebut, WHO merekomendasikan intervensi non-bedah untuk membantu orang yang mengalami penyakit ini. Intervensi itu meliputi program pendidikan yang mendukung pengetahuan dan strategi perawatan diri; program latihan; beberapa terapi fisik, seperti terapi manipulatif tulang belakang dan pijat; terapi psikologis, seperti terapi perilaku kognitif; serta obat-obatan, seperti obat anti-inflamasi nonsteroid.

Pedoman tersebut juga menguraikan prinsip-prinsip utama perawatan bagi penderita dewasa yang harus bersifat holistik, berpusat pada manusia, adil, tidak menstigmatisasi, tidak diskriminatif, terintegrasi, dan terkoordinasi. Perawatan harus disesuaikan untuk mengatasi berbagai faktor fisik, psikologis, dan sosial yang dapat mempengaruhi penyakit yang mereka derita. Serangkaian intervensi mungkin diperlukan untuk mengatasi penyakit ini secara holistik dibandingkan intervensi tunggal yang dilakukan secara terpisah.

Pedoman ini menguraikan 14 intervensi yang tidak direkomendasikan bagi kebanyakan orang di sebagian besar konteks. Intervensi semacam ini sebaiknya tidak dilakukan secara rutin karena evaluasi WHO terhadap bukti yang ada menunjukkan bahwa potensi kerugiannya lebih besar daripada manfaatnya. Beberapa contohnya adalah  penggunaan penyangga pinggang, ikat pinggang atau penyangga; beberapa terapi fisik, seperti traksi, yaitu menarik bagian tubuh; serta beberapa obat, seperti obat pereda nyeri opioid yang dapat menyebabkan overdosis dan ketergantungan.

Menurut WHO, nyeri punggung bawah adalah suatu kondisi umum yang dialami oleh kebanyakan orang pada suatu saat dalam hidup mereka. Namun, pedoman penatalaksanaan klinis sebagian besar dikembangkan di negara-negara berpendapatan tinggi. Bagi orang yang mengalami nyeri berkepanjangan, kemampuan mereka untuk berpartisipasi dalam aktivitas keluarga, sosial, dan pekerjaan sering kali berkurang, yang dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental mereka dan menimbulkan kerugian besar bagi keluarga, komunitas, dan sistem kesehatan.

Negara-negara mungkin perlu memperkuat dan mengubah sistem dan layanan kesehatan mereka agar intervensi yang direkomendasikan tersedia, dapat diakses dan diterima melalui cakupan kesehatan universal, sambil menghentikan pemberian intervensi tertentu secara rutin. Keberhasilan penerapan pedoman ini akan bergantung pada penyampaian pesan kesehatan masyarakat seputar perawatan yang tepat untuk nyeri punggung bawah kronis, peningkatan kapasitas tenaga kerja untuk perawatan penyakit ini, serta penyesuaian standar perawatan dan penguatan layanan kesehatan primer, termasuk sistem rujukan.

Direktur WHO untuk Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir, Anak, Remaja, dan Penuaan, Anshu Banerjee mengatakan bahwa penanganan penyakit ini memerlukan pendekatan terpadu dan berpusat pada individu. Ini berarti mempertimbangkan situasi unik setiap orang dan faktor-faktor yang mungkin memengaruhi pengalaman nyeri mereka. “Kami menggunakan pedoman ini sebagai alat untuk mendukung pendekatan holistik terhadap perawatan nyeri pinggang kronis dan untuk meningkatkan kualitas, keamanan, dan ketersediaan layanan,” kata dia.

Nyeri punggung bawah kronis mempengaruhi kualitas hidup dan berhubungan dengan penyakit penyerta dan risiko kematian yang lebih tinggi. Individu yang mengalaminya, khususnya orang lanjut usia, lebih besar kemungkinannya untuk mengalami kemiskinan, keluar dari dunia kerja sebelum waktunya, dan mengumpulkan lebih sedikit harta untuk masa pensiun.

Pada saat yang sama, orang lanjut usia lebih mungkin mengalami dampak buruk dari intervensi sehingga memperkuat alasan pentingnya menyesuaikan perawatan dengan kebutuhan setiap orang. Mengatasi nyeri punggung bawah kronis pada populasi lanjut usia dapat memfasilitasi penuaan yang sehat sehingga mereka memiliki kemampuan fungsional untuk menjaga kesejahteraan mereka sendiri.

 

Penulis: Redaksi Mediakom