Penulis: pbnbigesdi

Acar kuning adalah pelengkap dalam berbagai sajian makanan tradisional Makassar. Biasanya diolah bersama dengan daging sapi, ikan bandeng, ikan kakap, atau telur.  

 

Indonesia dikenal memiliki keragaman kuliner. Setiap daerah memiliki makanan khas, salah satunya adalah acar kuning khas Makassar.

Evi Indrawanto, dalam artikel “Acar dan Sejarahnya” di eviindrawanto.com, menyebutkan pada umumnya acar menjadi pendamping makanan utama, yang berfungsi mengangkat cita rasanya agar lebih segar.

Begitu pula dengan acar kuning yang merupakan pelengkap dalam berbagai sajian makanan tradisional Makassar, seperti bandeng acar kuning. Acar terdiri dari dua jenis, yakni ada acar mentah dan acar matang.

Acar kuning Makassar termasuk dalam jenis acar matang, karena biasanya diolah bersama dengan daging sapi, ikan bandeng, ikan kakap, atau telur.  Makanan ini biasanya dihidangkan pada acara-acara besar seperti pesta perkawinan, ulang tahun, syukuran, dan sebagainya.

Keistimewaan pada acar ini adalah kuahnya yang berwarna kuning, karena menggunakan kunyit. Cita rasanya lezat dan segar. Acar kuning bahkan menjadi salah satu menu terbaru di Gammara Hotel Makassar, yang ingin mempertahankan ciri khas hotel tersebut.

Meski setiap daerah memiliki racikan bumbu dan menggunakan sayuran berbeda untuk acar kuning, ciri khas pada bumbu kuningnya hampir sama.

Etik Iskundarti dalam artikelnya “Resep Membuat Acar Manado Khas Sulawesi Utara” di masakandapurku.com mengatakan bahan utama acar kuning adalah rebung dan kecipir muda. Bahan khas dari bumbu halus acar ini adalah kenari kupas. Acar ini bisa ditemukan di berbagai rumah makan tradisional khas Maluku di Ambon.

Acar jenis ini berbeda dengan acar mentah yang difermentasi menggunakan cuka. Dalam artikel berjudul “Peran Bioteknologi pada Fermentasi Acar Program Studi Budidaya Perairan” di academia.edu, Muhammad Amri Yusuf menyebutkan acar memiliki manfaat.

Dikutip dari laman Maggi.id, berikut ini adalah resep dan cara membuat acar kuning, serta nutrisi yang terkandung dalam seporsi acar kuning.

Bahan-bahan:

– 200 gr wortel, potong balok 3 cm

– 150 gr buncis, potong 3 cm

– 4 buah cabai merah, buang bijinya, belah 4 lalu potong 3 cm atau cabai rawit utuh

– 1 buah timun, potong balok 3 cm

– 150 gr kembang kol, ambil kuntumnya

– 2 sdm minyak goreng segar untuk menumis

– 1 batang serai

– 2 lembar daun salam

– 50 ml air

– 1 sdm gula pasir

– 1 sdm cuka

– 3 siung bawang putih, untuk bumbu halus

– 5 siung bawang merah, untuk bumbu halus

– 2 buah kemiri, sangrai, untuk bumbu halus

– 3 cm kunyit, untuk bumbu halus

– 1 sdt ketumbar, untuk bumbu halus

– 1 sdt merica, untuk bumbu halus

– 2 cm lengkuas, bumbu halus

– 50 ml air untuk bumbu halus

Cara membuat: 

  1. Haluskan semua bahan bumbu halus, kemudian tumis hingga harum dan matang.
  2. Masukkan daun salam dan serai, aduk hingga tercampur dengan bumbu, dan warna daun berubah.
  3. Tuangkan air, aduk hingga rata dan biarkan hingga mendidih, masukkan gula. Aduk hingga gula larut.
  4. Masukkan wortel, kemudian tumis hingga wortel setengah matang. Masukkan buncis, timun, dan kembang kol, serta Maggi Magic Lezat Rasa Ayam. Aduk dan masak hingga semua sayur cukup layu.
  5. Matikan api. Kemudian masukkan cuka, aduk hingga tercampur rata dengan semua bahan. Tambahkan potongan cabai merah sebagai pelengkap.

 

Acar ini memiliki banyak nutrisi karena terbuat dari bermacam sayur. Acar mengandung antara lain zat besi, vitamin C dan K, sodium, serat, dan berfungsi sebagai antioksidan. Satu porsi acar kuning mengandung energi 205,24 kcal; protein 7,81 gr; karbohidrat 28,14 gr; lemak 7,76 gr. Mentimun mengandung air, nutrisi, dan senyawa bioaktif yang bersifat antioksidan dan antimikroba.

Jeanna Salima dalam penelitiannya “Aktivitas Antibakteri pada Bawang Putih” pada 2015 di Jurnal Mayoritas menyebutkan setiap 100 gram bawang merah mengandung protein, lemak, serat, mineral, kalsium, fosfor, zat besi, dan vitamin C. Bawang putih mengandung organosulfur, minyak asiri, dan flavonoid yang bersifat antibakteri.

Cabai merah dan cabai rawit mengandung nutrisi dan senyawa antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan. Laos atau lengkuas mengandung transkoniferil disasetat, asetoksi chavikol asetat, asetoksi eugenol setat, minyak asiri, dan karioferida. Serai mengandung antimikroba, asam klorogenat, isoorientin, dan swertia japonica. Ketumbar mengandung antioksidan, vitamin C, vitamin K, protein, kalsium, fosfor, potasium dan tiamin.

Kembang kol mengandung vitamin C dan B1, fosfor, serat, kalium. Kemiri mengandung zat gizi dan nongizi. Merica atau lada mengandung zat besi (Fe), vitamin K, mangan, zat-zat piperin, piperidin, pati, protein, lemak, asam piperat, chavisin, felanden, kariolilen, dan terpen. Cuka mengandung vitamin, garam mineral, asam amino, senyawa polifenol.

Ni Putu Widiari Isni Arimbi, S.Pt, M.Si, dalam “Si Kuning Kunyit Kaya Khasiat” di disnakkeswan.jatengprov.go.id menyebutkan kunyit mengandung senyawa berkhasiat obat yaitu kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin, demetosikurkumin, dan bisdemetosikurkumin.

 

Penulis: Redaksi Mediakom

Banyak faktor berkontribusi terhadap perkembangan jerawat. Dapat dicegah dan diobati secara alami.

 

Tahukah Anda, jerawat akan muncul ketika zat berminyak, sel kulit mati, dan substansi lain menyumbat pori-pori kulit? Kondisi itu sangat disukai oleh Propionibacterium acnes (P. acnes) sehingga menginfeksi kulit.

Sebagian besar orang yang memiliki jenis kulit berminyak akan lebih mudah berjerawat. Hal itu terjadi karena kelebihan sebum (zat berminyak) yang dihasilkan oleh kelenjar sebasea yang terhubung langsung ke pori-pori kulit.

Meski begitu, banyak faktor yang berkontribusi terhadap perkembangan jerawat. Beberapa penyebabnya antara lain genetik, paparan cahaya matahari, pola hidup tidak sehat, perubahan hormon, infeksi kulit, kosmetik mengandung minyak, serta makanan dan obat-obatan yang dikonsumsi.

Lantas, bagaimana cara mencegah mampirnya jerawat dan mengobatinya secara alami?

  1. Membersihkan Wajah Secara Teratur

Menurut situs American Academy of Dermatology Association, seseorang dengan kulit berjerawat disarankan mencuci muka hanya dua kali sehari, yaitu setelah bangun dan sebelum tidur. Anda bisa menggunakan pembersih wajah yang mengandung bahan-bahan alami seperti lemon, pohon teh, Centella asiatica (pegagan), kunyit, dan peppermint untuk menghilangkan kotoran dan minyak yang dapat menyumbat pori-pori kulit.

  1. Hindari Menyentuh Wajah

Hindari menyentuh wajah agar terhindar dari perpindahan bakteri dan zat berminyak dari tangan ke wajah. Hindari juga memencet jerawat karena dapat menyebabkan infeksi bahkan jaringan parut.

  1. Hindari Produk Skincare dan Kosmetik Berminyak

Pilihlah produk perawatan kulit nonkomedogenik untuk menghindari penumpukan minyak berlebih di wajah. Berikut ini adalah rekomendasi bahan minyak alami nonkomedogenik menurut Skincraft Laboratory: minyak biji anggur, minyak biji rose hip, biji bunga matahari, minyak neem, minyak biji rami, minyak jarak, minyak kamelia, minyak calendula, dan minyak jojoba. Begitu pula dengan kosmetik, pilihlah kosmetik water-based (berbahan dasar air), tidak mengandung minyak (free oil), dan nonkomedogenik.

  1. Konsumsi Makanan Sehat

Diet seimbang dengan konsumsi makanan rendah glikemik (buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan gandum) dan cukup air mineral dapat membantu menjaga kesehatan kulit Anda dari dalam.

  1. Cukup Istirahat dan Mampu Mengelola Stres

Menurut Dr. Jhon Minni, salah seorang dermatolog di Water’s Edge Dermatology, stres tidak menyebabkan jerawat secara langsung. Namun kondisi stres dapat memengaruhi fungsi hormonal tubuh seperti peningkatan hormon stres (kortisol dan androgen) yang akan meningkatkan produksi minyak pada kulit. Produksi protein sitokinin juga akan meningkat karena stres dan kecemasan.

  1. Olahraga dan Meditasi Teratur

Olahraga teratur dapat membantu menghilangkan stres, meningkatkan kadar oksigen, dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Meditasi secara teratur mengurangi tingkat kortisol dalam tubuh yang bertanggung jawab atas timbulnya jerawat.

  1. Gunakan Bahan Alami untuk Perawatan dan Pengobatan

Tidak hanya untuk mencegah, menggunakan bahan-bahan alami di bawah ini juga dapat mengobati jerawat yang membandel pada kulit Anda.

  1. Minyak Pohon Teh (Tea Tree Oil)

Minyak esensial yang berasal dari daun pohon teh Melaleuca alternifolia asal Australia ini bisa digunakan mengobati jerawat. Pada sebuah studi (2019), para peneliti menemukan minyak pohon teh dapat mengurangi jumlah jerawat pada manusia karena kemampuan antimikroba dan anti-inflamasinya, bisa membunuh P. acnes.

  1. Lidah Buaya (Aloe Vera)

Hasil penelitian Hongyu Zhong, dkk. yang dipublikasikan dalam National Library of Medicine (NCBI) menunjukkan jumlah jerawat, lesi, dan kulit kering berkurang ketika menggunakan lidah buaya. Cara menggunakannya adalah dengan mengoleskan gel lidah buaya tipis-tipis pada kulit berjerawat dan biarkan 10-15 menit. Gunakan dua kali sehari untuk hasil maksimal.

  1. Madu

Madu mengandung hidrogen peroksida dan dapat membantu membunuh bakteri P. Acnes. Dengan cotton bud, oleskan sedikit madu ke jerawat atau bisa juga dijadikan masker. Bersihkan wajah terlebih dulu, lalu oleskan madu ke wajah, biarkan selama 15 menit, dan bilas dengan air bersih.

  1. Teh Hijau

Teh hijau mengandung antioksidan polifenol yang dapat membantu memecah bahan kimia dan produk limbah perusak sel. Teh hijau juga mengandung senyawa yang dapat membantu mengurangi produksi sebum, membasmi P. Acnes, dan mengurangi peradangan pada kulit.

Anda dapat meminum 1.500 mg ekstrak teh hijau per hari, selama 4 minggu berturut-turut. Anda juga bisa mengoleskan ekstrak teh hijau pada kulit wajah selama 8 minggu.

  1. Air Perasan Lemon

Kandungan asam askorbat yang tinggi pada lemon ampuh menghilangkan jerawat membandel karena membantu mencegah keparahan dan mempercepat proses penyembuhan.

Cara menggunakannya dengan membersihkan seluruh area wajah, lalu peras lemon dan aplikasikan airnya sebagai masker. Biarkan selama 10-15 menit, lalu bilas dengan air bersih. Pakai secara rutin untuk hasil maksimal.

  1. Bawang Putih

Bawang putih memiliki sifat antibakteri, antijamur, antivirus, dan antiseptik dari alisin. Alisin membantu membunuh bakteri penyebab jerawat, mengurangi pembengkakan, peradangan, dan meningkatkan sirkulasi darah. Tempelkan potongan bawang putih pada jerawat atau bekasnya. Biarkan selama 10-15 menit, lalu bilas dengan air bersih.

  1. Tomat

Tomat mengandung vitamin A dan C, zat anti-inflamasi, dan membantu memperkecil ukuran pori-pori wajah. Cara menggunakannya dengan menempelkan potongan tomat ke seluruh wajah secara merata, lalu biarkan selama 15-20 menit, dan bilas dengan air bersih.

  1. Pepaya

Pepaya mengandung enzim papain yang dapat mengontrol produksi minyak berlebih pada kulit. Haluskan pepaya dan aplikasikan ke seluruh wajah selama 30 menit, lalu bilas dengan air.

Jika bahan-bahan alami tersebut tak membuahkan hasil pada kulit, Anda bisa menemui dokter spesialis kulit untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat.

 

Penulis: Redaksi Mediakom

Penggunaan lensa kontak kini sudah menjadi hal biasa sebagai alat bantu medis. Jenis yang bisa digunakan bergantung pada situasi khusus dari penggunanya. 

 

Banyak orang menggunakan lensa kontak sebagai solusi dan alternatif untuk mengatasi mata rabun dan minus ketika merasa menggunakan kacamata terlalu merepotkan atau tidak praktis saat beraktivitas.

Menggunakan lensa kontak atau kacamata adalah pilihan. Seseorang yang membutuhkan kacamata korektif setiap hari untuk melihat dengan jelas terkadang memilih kombinasi keduanya. Misalnya, memakai kacamata di tempat kerja dan memakai lensa kontak saat pergi ke pesta atau acara kasual lainnya.

Penggunaan lensa kontak kini sudah menjadi hal biasa sebagai alat bantu medis. Menurut Gurnani B. & Kaur K. dalam Contact Lens (2022), lensa kontak adalah perangkat buatan yang dipasang pada permukaan depan mata untuk menggantikan permukaan anterior kornea.

Seperti halnya kacamata, lensa kontak dapat memperbaiki masalah penglihatan yang disebabkan oleh kelainan refraksi. Kesalahan refraksi adalah ketika mata tidak bisa membiaskan (membengkokkan atau memfokuskan) cahaya dengan tepat ke mata sehingga menghasilkan gambar yang buram.

Banyak jenis lensa kontak yang tersedia. Jenis lensa kontak yang bisa digunakan bergantung pada situasi khusus dari penggunanya. Jenis lensa kontak berdasarkan bahan penyusunnya menurut Gurnani B. & Kaur K. dalam bukunya Contact Lense (2022) adalah sebagai berikut:

  1. Lensa Kontak Lunak (Softlens)

Dikutip dari British Contact Lens Association lensa kontak, sesuai dengan namanya, memiliki struktur yang lembut, agak mirip dengan lapisan film tempel yang tebal, sehingga sangat nyaman dipakai. Sebagian besar lensa jenis ini berukuran lebih besar, sehingga mampu menutupi seluruh kornea dan menempel pada sklera.

Menurut Eric dkk. dalam Journal of Topometry tahun 2010, teknologi hidrogel silikon mampu meningkatkan permeabilitas oksigen ke mata dengan peningkatan daya fisiologis permukaan kornea dan okuler mata. Desain optik pada lensa lunak pun telah berkembang, sehingga memungkinkan optimalisasi penglihatan jarak jauh melalui penggunaan desain asferis, yang meningkatkan jarak fokus melalui lensa multifokal dan desain toric yang lebih mudah digunakan untuk perbaikan astigmatisma. Banyak juga jenis lensa kontak lunak yang mengandung penghambat UV (ultraviolet) untuk membantu melindungi mata.

  1. Lensa Kontak Kaku atau Rigid Gas Permeable (RGP) 

Rigid Gas Permeable Lens (RGP) hadir dalam beragam bahan, kekuatan, dan desain. Menurut Eric dkk. dalam Journal of Topometry tahun 2010, RGP telah memperlihatkan sebuah resurgensi, yang didasarkan pada penggunaan bahan yang meningkatkan permeabilitas oksigen, perkembangan desain sklera dan semi-sklera yang dapat disesuaikan dengan cara yang relatif mudah, dan kecanggihan geometri terbalik untuk mengurangi kelainan refraksi pada mata.

Meskipun terjadi penurunan angka penggunaan lensa kaku, sebuah riset retrospektif oleh Martin dkk. dalam Journal of Topometry (2010) yang membandingkan jumlah kunjungan pasien dengan diagnosis yang membutuhkan lensa, antara RGP, hidrogel, dan hidrogel silikon pada mata non-patologis menyimpulkan bahwa jumlah kunjungan pasien yang membutuhkan RGP sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan bahan lainnya dan menyarankan agar hasil penelitian ini dapat menjadi panduan klinis di masa depan untuk pemasangan lensa kontak.

Lensa ini lebih baik dalam hal perbaikan bentuk mata yang tidak beraturan dibandingkan lensa lunak dan lebih tahan lama sehingga biasanya diganti setiap enam atau 12 bulan sekali. Meski lensa ini membutuhkan waktu lebih lama untuk pembiasaannya dibandingkan dengan lensa lunak, pemakai reguler akan merasa nyaman.

  1. Lensa Hibrida

Lensa ini merupakan kombinasi dari lensa kaku atau bagian tengah RGP dan dikelilingi oleh lapisan lensa lunak. Perpaduan manfaat kedua lensa tentunya terdapat pada lensa hibrida ini.

Dikutip dari American Optometric Association, lensa kontak memiliki ragam manfaat, di antaranya bisa bergerak mengikuti mata Anda sehingga memungkinkan bidang pandang alami, tidak memiliki bingkai yang menghalangi penglihatan Anda, dan sangat mengurangi distorsi penglihatan, tidak berembun atau tidak mudah terkena cipratan lumpur atau hujan, sangat direkomendasikan untuk olahraga dan aktivitas fisik lainnya. Digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti alat bantu optik, terapeutik, preventif, diagnostik, operatif, kosmetik, dan untuk menunjang kelancaran pekerjaan.

Perawatan Lensa Kontak 

American Optometric Association juga memaparkan beberapa alasan yang harus diingat dalam penggunaan lensa kontak, misalnya penggunaan lensa kontak memerlukan pemeriksaan awal yang lebih lama dan kunjungan tindak lanjut untuk menjaga kesehatan mata.

Perawatan lensa juga memerlukan waktu yang lebih lama. Anda harus membersihkan dan menyimpannya dengan benar, mematuhi jadwal pemakaian lensa, dan membuat janji untuk perawatan lanjutan. Jika Anda memakai lensa sekali pakai atau lensa pengganti terencana, Anda harus mengikuti jadwal membuang lensa bekas dengan cermat.

Dalam menentukan jenis lensa kontak yang tepat, penting untuk mempertimbangkan kondisi kesehatan mata dan kebutuhan pribadi Anda. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan meliputi usia, jenis kelamin, merokok atau tidak, dan kondisi kesehatan mata. Selain itu, gunakanlah lensa kontak yang sesuai dengan standar dan melakukan perawatan lensa kontak dengan benar seperti membersihkan tangan dan mencuci tangan sebelum dan setelah memaksimalkan lensa, serta menjaga kenyamanan dan ketajaman yang tepat.

 

Penulis: Redaksi Mediakom

Belimbing wuluh dapat dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan 

 

Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) bukan sekadar penyedap rasa dalam masakan, tetapi secara etnomedisin menjadi tumbuhan untuk pengobatan tradisional. Merujuk naskah ilmiah yang telah dipublikasikan (1995 hingga 2015) yang diambil dari Medline, PubMed, EMBASE, dan basis data Science Direct, artikel dan laporan yang diterbitkan, mencakup literatur tradisional dan ilmiah yang berkaitan dengan peran potensial belimbing wuluh baik buah, daun, maupun bunganya, dapat dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan.

Klaim tradisional, serta peran khasiat belimbing wuluh dalam pengobatan berbagai penyakit menular dan tidak menular, telah dikonfirmasi oleh beberapa penelitian ilmiah yang relevan. Berbagai penelitian farmakologi termasuk penelitian in vitro dan in vivo (hewan) telah dilakukan pada daun dan buah belimbing wuluh.

  1. Antimikroba

Belimbing wuluh bukan sekadar buah, tetapi juga memiliki sifat antimikroba yang dapat menghancurkan mikroba penyebab infeksi dengan senyawa saponin, flavonoid, alkaloid, dan tanin yang terkandung di dalamnya. Menurut Katzung dan Hartini (2012), saponin adalah senyawa yang memiliki tegangan permukaan yang kuat dan berperan sebagai antimikroba dengan mengganggu kestabilan membran sel bakteri yang menyebabkan lisis sel bakteri tersebut.

Flavonoid  yang dapat menangkap radikal bebas, berperan sebagai superantioksidan yang juga memiliki aktivitas antiinflamasi, mencegah  kerusakan oksidatif serta memiliki aktivitas antikanker yang kuat berdasarkan hasil penelitan Valsan dan Raphael dalam South Indian  Journal  of  Biological  Science (2016).

  1. Mampu Mengatasi Asam Urat dan Kolesterol

Menurut Lee dkk., dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry (2015) saponin yang terkandung di dalam buah juga memiliki aktivitas antiinflamasi karena telah terbukti dapat menghambat pelepasan zat-zat proinflamasi yang distimulasi oleh lipopolisakarida. Serat yang terdapat di dalamnya juga membantu mengikat kolesterol dan membuangnya dari tubuh, sehingga dapat membantu mengurangi kadar kolesterol dalam darah.

  1. Antidiabetes, Mampu Mengatur Kadar Gula Darah

Kandungan flavonoid dalam buah ini membantu mengontrol aktivitas insulin dalam tubuh sesuai hasil penelitian Kopustinskiene, dkk. dalam Nutrients (2020). Aktivitas antioksidan dapat menekan aktivitas enzim α-glukosidase yang meningkatkan kadar glukosa darah. Efek sinergis dari beberapa metabolit sekundernya juga dapat menurunkan kadar gula darah (Solikhah dkk. 2020; Nufus dkk. 2021).

  1. Antihipertensi, Membantu Mengelola Hipertensi dan Kesehatan Jantung

Mengonsumsi rebusan belimbing wuluh secara teratur dapat membantu mengontrol tekanan darah dalam tubuh, sehingga mencegah tekanan darah tinggi (hipertensi). Antioksidan dan protein yang terdapat dalam buah ini bekerja sama untuk menurunkan tekanan darah.

Kalium membantu menurunkan tekanan darah, sedangkan serat membantu menurunkan kadar kolesterol dan glukosa darah sehingga sirkulasi darah dari dan menuju jantung seimbang. Vitamin C bersama saponin, tanin, dan terpenoid juga membantu mengurangi peradangan dan mencegah penyumbatan di pembuluh darah. Kandungan ini bekerja dengan merelaksasi otot jantung dan melebarkan arteri, vena, serta kapiler menurut hasil riset Garg dkk., dalam Indian Journal of Pharmaceutical Sciences (2022).

  1. Menyembuhkan Batuk

Belimbing wuluh juga ampuh mengatasi batuk dan pilek. Kandungan saponin triterpen dalam buah ini dapat memberikan efek antitusif dan ekspektoran yang membantu menyembuhkan batuk (Lee dkk., 2015). Saat terkena serangan batuk pilek, Anda dapat mencoba menggunakan belimbing wuluh sebagai obatnya.

  1. Mengatasi Jerawat

Menurut laporan hasil penelitian Fahrunnida & Pratiwi dalam Seminar Nasional Konservasi dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam (2015), saponin merupakan senyawa alami yang memiliki sifat pembersih dan antimikroba dan dapat ditemukan dalam belimbing wuluh. Senyawa ini membantu membersihkan pori-pori kulit dan mengurangi pertumbuhan bakteri penyebab jerawat.

 Yuk, Menanam Belimbing Wuluh

Jika Anda tertarik dengan tumbuhan ini, maka penting untuk mengetahui bagaimana cara menanam belimbing wuluh dengan tepat. Merujuk buku Budidaya Belimbing Wuluh oleh Nazarul Ahmad (2015), berikut ini beberapa langkah untuk menanam belimbing wuluh:

Pertama, mempersiapkan bibit belimbing wuluh sebelum proses penanaman. Lakukan pembibitan dengan benar sesuai dengan metode yang Anda pilih hingga bibit belimbing tumbuh dengan baik.

Kedua, memilih lahan tanam yang sesuai. Belimbing wuluh dapat tumbuh baik pada ketinggian 0-500 mdpl sehingga tidak cocok jika ditanam di pegunungan. Tumbuhan ini dapat panen dengan baik pada permukaan tanah yang gembur dan subur. Anda bisa membuat lubang tanam sebesar 30 cm x 30 cm dengan kedalaman 50 cm, dan berilah jarak minimal 6 meter antartumbuhan.

Ketiga, tanam bibit ke lubang tanam bagian tengah agar akarnya dapat berkembang secara merata. Setelah itu, timbun bibit dengan tanah agar bibit tidak mudah tumbang, lalu siram bibit tumbuhan secara rutin sampai akar dan tunasnya muncul.

Setelah penanaman, Anda harus melakukan pemeliharaan agar belimbing wuluh bisa tumbuh dengan baik. Tumbuhan harus selalu mendapatkan sinar matahari secara langsung. Pemeliharaan juga dilakukan dengan rutin, misalnya dengan menyiramnya minimal 2 kali sehari pada pagi dan sore hari. Kemudian, lakukan penggemburan tanah setidaknya satu bulan sekali agar media tanam tidak keras. Penting juga untuk selalu memangkas pucuk pohon agar tidak tumbuh berkeliaran. Selain itu pastikan juga untuk selalu memberi pupuk secara rutin pada tanaman belimbing wuluh.

 

Penulis: Redaksi Mediakom

Latihan yoga dapat membantu meningkatkan kesehatan secara umum dengan menghilangkan stres dan meningkatkan kesehatan mental atau emosional. Perlu dilakukan dengan baik. 

 

Yoga telah menjadi pilihan olahraga atau aktivitas fisik masyarakat dan menjadi semakin popular di masa pandemi COVID-19. Yoga juga termasuk dalam Program Indonesia Sehat Kementerian Kesehatan yang dimaksudkan untuk membudayakan perilaku hidup sehat guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Menurut Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, yoga dapat memberikan manfaat yang luar biasa bagi kesehatan kita, termasuk membantu tubuh mencegah terjadinya berbagai gangguan kesehatan seperti obesitas, stress, tekanan darah tinggi, dan diabetes. Ini karena saat stres sekresi glucagon (hormon yang bertanggung jawab meningkatkan level glukosa dalam darah) akan meningkat dan yoga membantu mengendalikannya.

Encyclopedia Britannica mencatat bahwa yoga sebenarnya salah satu dari enam sistem filsafat India. Teks dasarnya adalah Yoga-sutra karya Patanjali. Namun, aspek praktis yoga berperan lebih penting dibandingkan konten intelektualnya. Secara umum, proses yoga dijelaskan dalam delapan tahap, dari yama (pengekangan) hingga samadhi (pengumpulan diri secara total). Seiring berjalannya waktu, tahap-tahap tertentu yoga menjadi tujuan tersendiri, terutama, pranayama (mengendalikan pernapasan), asana (postur duduk), dan dhyana (meditasi).

Menurut National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH), lembaga pemerintah di bawah Departemen Kesehatan Amerika Serikat yang khusus meneliti mengenai pendekatan kesehatan komplementer dan integratif,  yoga dapat membantu meningkatkan kesehatan secara umum dengan menghilangkan stres, mendukung kebiasaan kesehatan yang baik, dan meningkatkan kesehatan mental atau emosional, tidur, dan keseimbangan. Selain itu, yoga  juga bisa meringankan nyeri leher, migrain atau sakit kepala, dan nyeri yang berhubungan dengan osteoartritis lutut. Gerakan yoga mungkin juga memiliki sedikit manfaat untuk nyeri punggung bawah, membantu orang yang kelebihan berat badan atau obesitas menurunkan berat badan, membantu berhenti merokok, mengelola gejala kecemasan atau depresi, meringankan gejala menopause, tambahan untuk program pengobatan pengguna narkotik, dan membantu penderita penyakit kronis dengan mengelola gejalanya dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

NCCIH memaparkan sejumlah manfaat yoga untuk beberapa aspek kesehatan, termasuk manajemen stres, kesehatan mental atau emosional, pola makan, aktivitas yang sehat, tidur berkualitas, dan keseimbangan. Yoga dalam beberapa kondisi juga bisa meredakan rasa sakit, termasuk nyeri punggung bawah, nyeri leher, sakit kepala, dan osteoartritis lutut.

Survei nasional pelaku yoga di Amerika Serikat yang dilakukan Alyson Ross dkk. menunjukkan bahwa orang yang berlatih yoga tidak terbebas dari masalah kesehatan tapi sebagian besar percaya bahwa kesehatan mereka meningkat karena yoga. Yoga mungkin bermanfaat bagi sejumlah populasi, termasuk perempuan lanjut usia dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan kronis.

Survei Ross dkk. yang dipublikasikan di jurnal Complementary Therapies in Medicine pada 2013 itu meneliti 4.307 individu yang dipilih secara acak dari 15 studio yoga yang mewakili 41 negara bagian. Meskipun tingkat depresinya tinggi (24,8 persen responden), hampir semuanya berada dalam kondisi kesehatan mental sedang atau berkembang.

Hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas responden setuju atau sangat setuju bahwa latihan yoga meningkatkan kesehatan mereka secara umum (89,5 persen), meningkatkan energi (84,5 persen), dan kebahagiaan (86,5 persen). Mayoritas juga setuju atau sangat setuju bahwa yoga meningkatkan kualitas tidur mereka (68,5 persen) dan hubungan antarpribadi (67 persen). Lebih dari separuh setuju atau sangat setuju bahwa yoga membantu mereka mencapai atau mempertahankan berat badan yang lebih sehat (57 persen) dan hampir separuh setuju atau sangat setuju (47 persen) bahwa pola makan mereka menjadi lebih baik karena yoga.

Walau yoga umumnya dianggap sebagai bentuk aktivitas fisik yang aman bagi orang sehat, NCCIH menyarankan agar hal itu dilakukan dengan benar dan di bawah bimbingan instruktur yang berkualifikasi. Namun, seperti bentuk aktivitas fisik lainnya, cedera juga bisa terjadi.

Cedera yang paling sering terjadi, menurut NCCIH, adalah keseleo dan tegang dan bagian tubuh yang paling sering cedera adalah lutut atau tungkai bawah. Cedera serius jarang terjadi. Risiko cedera yang terkait dengan yoga lebih rendah dibandingkan dengan aktivitas fisik berdampak tinggi. Orang dewasa yang lebih tua mungkin perlu sangat berhati-hati saat berlatih yoga. Tingkat cedera terkait yoga yang dirawat di unit gawat darurat lebih tinggi pada orang berusia 65 tahun ke atas dibandingkan pada orang dewasa muda. M

 

Tip Mengurangi Cedera Saat Yoga

NCCIH memberikan beberapa tip agar orang berlatih yoga tidak cedera.

  1. Berlatih yoga di bawah bimbingan instruktur yang bersertifikat. Mempelajari yoga sendiri tanpa pengawasan berhubungan dengan peningkatan risiko cedera.
  2. Jika Anda baru mengenal yoga, hindari latihan ekstrem seperti berdiri terbalik dan bertumpu pada kepala, posisi lilin (posisi tubuh terbalik yang bertumpu pada bahu di bawah), posisi lotus, dan pernapasan kuat.
  3. Yoga juga memiliki risiko panas berlebih dan dehidrasi.
  4. Wanita hamil, orang lanjut usia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu harus membicarakan kebutuhan masing-masing dengan penyedia layanan kesehatan dan instruktur yoga. Mereka mungkin perlu menghindari atau mengubah beberapa pose dan latihan yoga. Beberapa kondisi kesehatan yang mungkin memerlukan modifikasi dalam yoga termasuk cedera yang sudah ada sebelumnya, seperti cedera lutut atau pinggul, penyakit tulang belakang, tekanan darah tinggi yang parah, masalah keseimbangan, dan glaukoma (kelainan pada saraf mata).

 

Penulis: Redaksi Mediakom

Hasil penelitian WHO dan Federasi Diabetes Internasional menemukan hubungan kuat antara merokok dan peningkatan risiko diabetes melitus tipe 2. Dapat dicegah dengan berhenti merokok.

 

Hasil penelitian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Federasi Diabetes Internasional (IDF), dan University of Newcastle, Australia mengungkapkan bahwa berhenti merokok dapat menurunkan risiko terkena diabetes melitus tipe 2 sebanyak 30-40 persen. “IDF sangat menganjurkan masyarakat untuk berhenti merokok untuk mengurangi risiko diabetes dan, jika mereka menderita diabetes, membantu menghindari komplikasi. Kami menyerukan kepada pemerintah untuk memperkenalkan langkah-langkah kebijakan yang akan mencegah orang merokok dan menghilangkan asap tembakau dari semua ruang publik,” kata Akhtar Hussain, Presiden IDF, dalam rilis WHO pada 14 November lalu.

IDF memperkirakan 537 juta orang di seluruh dunia menderita diabetes. Jumlah ini terus meningkat dan menjadikan diabetes sebagai penyebab kematian kesembilan secara global.

Menurut WHO, diabetes adalah penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak memproduksi cukup insulin atau ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif. Insulin adalah hormon yang mengatur glukosa darah. Hiperglikemia atau peningkatan gula darah adalah efek umum dari diabetes yang tidak terkontrol dan dapat menyebabkan kerusakan serius pada banyak sistem tubuh, terutama saraf dan pembuluh darah.

WHO menjelaskan, ada dua jenis diabetes yang umum dikenal, yakni tipe 1 dan 2. Diabetes tipe 2 mempengaruhi cara tubuh Anda menggunakan gula sebagai energi. Ia menghentikan tubuh menggunakan insulin dengan benar yang dapat menyebabkan tingginya kadar gula darah jika tidak diobati. Diabetes tipe 2 sebagian besar dapat dicegah dan, dalam beberapa kasus, berpotensi disembuhkan. Adapun diabetes tipe 1 ditandai kurangnya produksi insulin sehingga memerlukan pemberian insulin setiap hari.

WHO mencatat, diabetes tipe 2 adalah salah satu penyakit kronis paling umum di seluruh dunia, mencakup lebih dari 95 persen dari seluruh kasus diabetes. Diabetes tipe 2 merupakan faktor penyebab utama kondisi kesehatan yang parah, seperti kebutaan, gagal ginjal, serangan jantung, stroke, dan amputasi anggota tubuh bagian bawah. Meskipun demikian, diabetes jenis ini dapat dicegah.

IDF dan WHO menemukan hubungan diabetes dan kebiasaan merokok pada pankreas. Di pankreas ada sel β (beta)  yang bertanggung jawab untuk sintesis dan sekresi insulin. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa nikotin, salah satu komponen yang sangat beracun dalam tembakau, merusak fungsi dan massa sel dan pada gilirannya mempengaruhi produksi insulin dan regulasi produksi glukosa, sehingga berperan penting dalam timbulnya diabetes tipe 2. Hasil penelitian mereka menemukan bahwa berhenti merokok akan menurunkan risiko terkena diabetes tipe 2 sebesar 30-40 persen dibandingkan dengan orang yang tidak merokok dan meningkatkan pengelolaan kondisi kronis ini.

Penelitian IDF juga menemukan bahwa penggunaan rokok tanpa asap secara berlebihan atau dalam jumlah besar juga meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2. Hal ini konsisten dengan fakta bahwa penggunaan tembakau tanpa asap menyebabkan kecanduan nikotin dan nikotin yang terkandung di dalamnya berkontribusi terhadap perkembangan diabetes tipe 2 dan kondisi kesehatan terkait lainnya.

Peneliti IDF dan WHO mencatat bahwa penggunaan tembakau merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap penyakit kardiovaskular, yang merupakan komplikasi penting dari diabetes tipe 2, terkait dengan timbulnya komplikasi mikrovaskuler secara dini dan dapat memperburuk komplikasi akibat diabetes tipe 2. Penggunaan tembakau juga dapat menyebabkan kerusakan saraf, yang menyebabkan neuropati diabetik (komplikasi diabetes melitus pada ginjal) yang dapat berakhir pada gagal ginjal.

Disertasi Nisrina Sari di Universitas Sumatera Utara yang membandingkan kadar gula darah pada kelompok penderita diabetes melitus yang merokok dan tidak. Hasilnya menunjukkan bahwa kadar glukosa darah saat puasa, setelah makan siang, dan kadar glukosa yang menempel pada hemoglobin (HbA1c) lebih tinggi pada kelompok perokok yang masing-masing sebesar 64 mg/dl, 58,00 mg/d, dan 0,39 persen dibandingkan dengan kelompok tidak merokok.

Selain hal tersebut, WHO menekankan bahwa kebiasaan merokok juga meningkatkan risiko komplikasi terkait diabetes seperti penyakit kardiovaskular, gagal ginjal, dan kebutaan. Merokok juga memperlambat penyembuhan luka dan meningkatkan risiko amputasi anggota tubuh bagian bawah sehingga memberikan beban yang signifikan pada sistem kesehatan.

“Para profesional kesehatan memainkan peran penting dalam memotivasi dan membimbing individu dengan diabetes tipe 2 dalam perjalanan mereka untuk berhenti merokok. Pada saat yang sama, pemerintah harus mengambil langkah penting untuk memastikan semua tempat umum dalam ruangan, tempat kerja, dan transportasi umum benar-benar bebas rokok. Intervensi ini merupakan perlindungan penting terhadap permulaan dan perkembangan penyakit ini dan banyak penyakit kronis lainnya,” kata Ruediger Krech, Direktur Promosi Kesehatan WHO.

Strategi Menurunkan Risiko Merokok dan Diabetes

 

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memberikan beberapa langkah untuk mencegah diabetes dan risiko yang terkait merokok.

  1. Jalani pola hidup sehat, seperti perbanyak olahraga. Selain menyehatkan tubuh, olahraga juga menurunkan risiko kanker paru-paru, dapat menjaga metabolisme tubuh, dan mengurangi kemungkinan kelebihan berat badan atau obesitas.
  2. Mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat, seperti buah, sayur-sayuran, biji-bijian, dan makanan rendah lemak serta rendah karbohidrat. Kandungan dalam buah dan sayur juga sangat penting karena membantu menurunkan kadar gula darah.
  3. Lakukan pengobatan jika sudah telanjur terkena diabetes agar mendapat penanganan yang tepat dan mengurangi risiko komplikasi penyakit lain.
  4. Berhenti merokok adalah cara satu-satunya untuk terhindar dari berbagai macam penyakit seperti peradangan, kanker, penyakit komplikasi seperti gagal ginjal, serta diabetes. Semua aktivitas merokok dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius sehingga pengguna rokok perlu berkonsultasi pada ahli kesehatan untuk menghentikan kegiatan tersebut.

 

Penulis: Redaksi Mediakom

Pola makan nabati tak hanya menyehatkan fisik, tetapi juga dapat melindungi bumi. 

 

Tak hanya bermanfaat untuk tubuh, dengan menerapkan pola makan nabati (plant-based diet) Anda juga dapat membantu menjaga keberlangsungan kehidupan di bumi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di Eropa semakin banyak orang yang beralih ke pola makan nabati karena alasan kesehatan dan pertimbangan etis tentang perubahan iklim dan keberlangsungan ekologi.

Pola makan nabati berfokus pada makanan yang utamanya berasal dari tumbuhan. Pola makan ini tidak hanya mencakup mengonsumsi buah-buahan dan sayuran, tetapi juga kacang-kacangan, biji-bijian, minyak nabati, dan polong-polongan. Namun, bukan berarti Anda menjadi vegetarian saja—yang juga mengonsumsi beberapa produk olahan susu selain tumbuhan—atau bahkan vegan, yang tidak pernah mengonsumsi produk hewani seperti daging atau produk susu. Sebaliknya, Anda secara proporsional memilih lebih banyak makanan yang berasal dari sumber nabati.

Menurut Plant-Based Diets and Their Impact on Health, Sustainability and the Environment (2021) terbitan Kantor WHO Eropa untuk Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, terdapat sejumlah manfaat pola makan nabati. Tulisan ini sebagian besar berdasarkan laporan tersebut.

Di beberapa negara, perubahan pola makan ini baru saja muncul, sedangkan di negara lain tren ini meningkat lebih cepat. Namun, menurut WHO, bukti bahwa pola makan nabati itu sehat sudah banyak ditemukan berdasarkan penelitian nutrisi mengenai pola makan nabati seperti diet Mediterania dan diet vegetarian.

Diet Mediterania, menurut WHO, memiliki pola dasar makanan yang dominan yang bersumber dari nabati tetapi juga mencakup ikan, unggas, telur, keju, dan yogurt yang dikonsumsi beberapa kali seminggu. Tentunya, konsumsi daging dan makanan manis lebih jarang. Dalam studi populasi besar dan uji klinis acak diet ini telah terbukti dapat mengurangi risiko penyakit jantung, sindrom metabolik, diabetes, kanker tertentu (khususnya kanker usus besar, payudara, dan prostat), depresi, dan penurunan daya ingat pada orang lanjut usia, serta fungsi mental dan fisik yang lebih baik.

Diet vegetarian, kata WHO, juga telah terbukti mendukung kesehatan, termasuk menurunkan risiko terkena penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi, diabetes, dan meningkatkan umur panjang. Selain itu, pola makan nabati bisa mencegah, alzheimer, autoimun, gangguan pencernaan, kanker, hipertensi dan lain-lain.

WHO mencatat bahwa secara keseluruhan, pola makan nabati ini rendah garam, lemak jenuh, dan gula tambahan sehingga direkomendasikan sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Pola makan nabati mengandung protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral yang diperlukan untuk kesehatan yang optimal, termasuk tinggi serat dan fitonutrien. Orang dengan pola makan seperti itu memiliki risiko kematian dini rendah dan terlindungi dari penyakit tidak menular. Saran ini melengkapi keseluruhan bukti yang menunjukkan bahwa membatasi konsumsi daging merah (daging sapi, daging babi, dan domba) dan daging olahan (seperti sosis dan daging yang diawetkan, diasap, dan diasinkan) dapat melindungi Anda dari berbagai penyakit tidak menular. Namun, beberapa vegan mungkin perlu menambahkan suplemen, khususnya vitamin B12, untuk memastikan bahwa mereka menerima semua asupan nutrisi yang dibutuhkan.

Orang yang menerapkan pola makan nabati juga cenderung lebih bisa menjaga berat badan dengan stabil. Tentu saja, hal ini menjadi salah satu cara efektif untuk Anda yang ingin menurunkan berat badan, dan alasan inilah yang memicu kenaikan popularitas pola makan nabati.

Dalam pengolahan makanan yang bersumber dari hewani dibutuhkan proses olahan yang menghasilkan emisi karbon tinggi dan sangat membutuhkan air dan lahan yang jauh lebih besar untuk beternak hewan-hewan yang menjadi sumber makanan. Penelitian Veronique De Sy dkk., yang dipublikasikan di jurnal Environmental Research Letters pada 2015, menunjukkan bahwa padang rumput merupakan penyebab utama luasnya hutan (71,2 persen) dan hilangnya karbon (71,6 persen) di Amerika Selatan, diikuti oleh lahan pertanian komersial yang masing-masing 14 dan 12,1 persen. Pola makan nabati tentunya memiliki potensi untuk mengurangi dampak lingkungan yang terkait dengan tingginya konsumsi makanan hewani seperti daging dan produk susu.

Dalam catatan WHO, konsumsi daging yang berlebihan membebani sistem layanan kesehatan. Misalnya, diperkirakan pada tahun 2020 terdapat 2,4 juta kematian di seluruh dunia dan biaya layanan kesehatan sekitar 240 juta euro yang disebabkan oleh konsumsi daging merah dan daging olahan yang berlebihan.

Menurut WHO, pergeseran ke pola makan nabati juga dapat membantu mencegah hilangnya keanekaragaman hayati. Pola diet ini dapat secara signifikan mengurangi penggunaan lahan pertanian dan penggembalaan. Dia juga turut menjaga populasi hewan, yang banyak digunakan sebagai sumber makanan, dan menurunkan jumlah peternakan.

Bagi Anda yang baru mengenal pola makan ini atau mereka yang saat ini lebih sering mengonsumsi produk hewani mungkin bisa mulai berfokus pada transisi bertahap menuju pola makan nabati. Anda dapat mengurangi mengonsumsi produk hewani secara bertahap sesuai dengan ajaran agama dan budaya yang Anda anut. Anda juga perlu memiliki rencana pola makan nabati yang sehat dan terencana dengan baik agar dapat memberikan tingkat mikronutrien yang memadai. American Heart Association Academy of Nutrition and Dietetics saat ini mengakui bahwa pola makan nabati yang terencana dengan baik adalah pilihan sehat dan aman untuk kebanyakan orang dewasa.

Menurut WHO, banyaknya manfaat pola makan nabati bagi kesehatan ini diprediksi akan menjadi tren diet yang tumbuh pesat hingga tercetus konsep One Health. Namun, hal ini memang perlu mendapat perhatian khusus dari para dokter dan ahli gizi agar penerapan pola makan nabati yang sehat benar-benar dapat memaksimalkan dampak One Health, yang menguntungkan bagi manusia, hewan, dan lingkungan.

 

Penulis: Redaksi Mediakom 

WHO meluncurkan pedoman baru mengenai pencegahan dan penanganan gizi buruk dan malanutrisi akut pada anak dengan pendekatan komunitas.

 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meluncurkan pedoman baru mengenai pencegahan dan penanganan  gizi buruk dan malanutrisi akut (gizi edema) pda anak usia di bawah lima tahun (balita) pada Senin, 20 November lalu. Pencapaian ini merupakan respons penting terhadap permasalahan kekurangan gizi akut global yang terus terjadi dan berdampak pada jutaan anak di seluruh dunia.

Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO, mengatakan, pedoman ini membantu mendukung negara-negara dalam mencegah dan menangani malanutrisi akut dengan penekanan khusus pada keberlanjutan perawatan dengan memberikan layanan terbaik bagi anak-anak dan keluarga mereka. “Kami menyerukan lebih banyak integrasi layanan nutrisi ke dalam sistem kesehatan dan penguatan sistem kesehatan tersebut. Ini adalah pendekatan yang lebih komprehensif untuk mengatasi masalah kompleks kekurangan gizi akut pada anak-anak dibandingkan sebelumnya,” katanya dalam rilis WHO.

Menurut National Center for Biotechnology Information, yang berada di bawah Perpustakaan Kedokteran Nasional Amerika Serikat, malanutrisi atau gizi buruk adalah suatu kondisi kesehatan akibat mengonsumsi makanan yang mengandung kalori, karbohidrat, vitamin, protein, atau mineral dalam jumlah yang tidak cukup atau terlalu banyak. Malanutrisi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama bagi balita di banyak negara berpendapatan rendah dan menengah. Dampak malanutrisi pada balita antara lain adalah berat badan kurang, stunting, gizi buruk dengan atau tanpa edema, dan bahkan bisa berujung pada kematian.

Faktor-faktor khusus gizi mencakup asupan makanan yang tidak memadai, pola asuh dan pengasuhan buruk, praktik pangan yang tidak tepat, dan penyakit penyerta menular. Padahal, perkembangan kesehatan fisik dan mental merupakan hak dasar anak dan tingkat kesehatan optimal dapat diakses oleh mereka dengan dukungan nutrisi yang baik.

Pada tahun 2015, dunia berkomitmen untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG), termasuk target ambisius untuk menghilangkan segala bentuk malanutrisi pada tahun 2030. Namun, menurut WHO, proporsi anak-anak dengan malanutrisi akut masih berada pada tingkat yang mengkhawatirkan dan mempengaruhi sekitar 45 juta balita di seluruh dunia pada tahun 2022. Pada 2022, sekitar 7,3 juta anak menerima pengobatan gizi buruk akut yang parah. Meskipun cakupan pengobatan telah meningkat, anak-anak penderita gizi buruk akut di banyak negara masih belum dapat mengakses perawatan penuh yang diperlukan agar mereka dapat pulih.

Indonesia juga masih menghadapi masalah yang sama. Menurut Survei Status Gizi Indonesia oleh Kementerian Kesehatan, jumlah balita yang mengalami stunting menurun tapi tetap tinggi, dari 5.253.404 anak pada 2021 menjadi 4.558.899 anak pada 2022.

Pedoman baru yang diterbitkan WHO ini adalah bagian dari Rencana Aksi Global Mengenai Kekurangan Gizi Anak, yang dibentuk Sekretaris Jenderal PBB pada 2019 untuk mencegah, mendeteksi dan mengobati kekurangan gizi anak di seluruh dunia. Pedoman ini menggunakan Family MUAC, atau kadang-kadang juga disebut Mother MUAC, yakni pendekatan komunitas yang memberdayakan ibu, pengasuh, dan anggota keluarga lainnya untuk melakukan skrining awal pada anak mereka untuk mengetahui adanya malanutrisi akut dengan menggunakan pita MUAC.

Pita pengukur MUAC digunakan untuk mengukur lingkar lengan atas pada anak-anak dan wanita hamil untuk membantu mengidentifikasi malanutrisi awal. Keterampilan membaca dan berhitung tidak diperlukan. Pita ini memiliki kode warna merah, kuning, dan hijau. Ibu tinggal melingkarkan pita itu pada lengan anaknya dan melihat kode warnanya. Warna hijau berarti tidak ada malanutrisi, warna kuning berarti malanutrisi moderat, dan warna merah termasuk malanutrisi akut.

Menurut panduan WHO, manajemen penanganan malanutrisi di tingkat terendah berada pada pekerja kesehatan komunitas, seperti tenaga kesehatan di pos pelayanan terpadu dan pusat kesehatan masyarakat. Mereka  dapat memberikan nutrisi tambahan pada balita dengan malanutrisi akut/sedang dan pengobatan gizi pada anak dengan malanutrisi akut berat. Hal ini bisa dijalankan bila pemerintah atau mitra pelaksana dapat memastikan pelatihan dan pengawasan yang memadai terhadap pekerja kesehatan tersebut. Pemberian suplemen harus dengan standar tertentu dan pekerja kesehatan mengukur berat badan anak sebagai bagian dari pemantauan kemajuan pengobatan. Semua kegiatan ini harus didokumentasikan.

Pedoman ini menggariskan bahwa ibu dan bayinya yang berusia kurang dari enam bulan yang berisiko mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan harus diidentifikasi sejak dini dan dirawat sebagai satu kesatuan. Pelayanan yang efektif dan sesuai dengan budaya masyarakat, terutama untuk dukungan pemberian ASI, sangat penting bagi kesehatan mereka dan juga merupakan salah satu tindakan pencegahan yang paling penting untuk mengurangi prevalensi gizi buruk. Intervensi untuk pencegahan gizi buruk dan stunting ini harus dilaksanakan melalui pendekatan multisektoral dan multisistem, seperti pangan, kesehatan, air bersih, sanitasi, dan kebersihan, serta sistem perlindungan sosial, sebagaimana dituangkan dalam Rencana Aksi Global Mengenai Kekurangan Gizi Anak untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan anak yang sehat.

 

Penulis: Redaksi Mediakom

Riset obat khusus anak masih minim. WHO mendorong percepatan penelitian obat yang lebih ramah anak yang sesuai dengan usia, kondisi fisiologis, dan berat badan anak. 

 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis daftar pertama formulasi pediatrik prioritas untuk lima penyakit tropis terabaikan (NTD) pada Selasa, 21 November lalu. Daftar menargetkan penelitian dan pengembangan obat untuk memenuhi kebutuhan khusus bayi dan anak-anak. Daftar tersebut merupakan hasil dari kegiatan Optimasi Obat Anak (PADO) yang dilakukan oleh WHO yang bertujuan untuk mengidentifikasi obat-obatan dan formulasi prioritas untuk diselidiki dan dikembangkan dengan jangka waktu 3-5 tahun (daftar prioritas PADO) atau dengan jangka waktu 5-10 tahun (daftar pantauan PADO).

“Saya menyambut baik perluasan konsep PADO ke NTD. Meningkatkan akses terhadap formulasi pediatrik adalah kuncinya karena NTD berdampak pada sejumlah besar anak-anak dan karena hanya dengan menyasar semua kelompok umur, termasuk anak-anak, kita akan mampu menghentikan penularan NTD dan mencapai eliminasi,” kata Ibrahima Socé Fall, Direktur Program NTD WHO Global, dalam rilis WHO. “Saya mengundang lebih banyak investasi untuk menyelesaikan pengembangan formulasi ini, mendukung produksinya, dan memfasilitasi akses bagi kelompok yang paling rentan.”

Menurut WHO, NTD adalah kelompok penyakit menular yang beragam dengan epidemiologi, prevalensi lokal, strategi pengendalian, dan eliminasi yang berbeda serta tantangan dalam ketersediaan pengobatan yang dirancang untuk anak-anak. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2022 menunjukkan bahwa secara keseluruhan kurang dari separuh obat NTD yang direkomendasikan WHO disetujui untuk anak-anak. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk meningkatkan aktivitas penelitian NTD di bidang ini.

Dalam hari anak sedunia pada 20 November lalu, Akselerator Global untuk Formulasi Pediatri (GAP-f), jaringan WHO dalam penelitian untuk menanggapi kesenjangan pengobatan pediatrik, juga menyoroti beberapa upaya inovasi dan akses terhadap obat-obatan anak yang lebih baik. Menurut WHO, sejak 2015, penurunan angka kematian bayi dan anak telah melambat, namun penelitian mengenai obat-obatan untuk anak-anak masih kurang karena, antara lain, rumitnya pelaksanaan penelitian pada kelompok usia termuda. Sayangnya, 50-90 persen obat yang digunakan pada anak-anak saat ini belum pernah diteliti untuk mereka dan hasil penelitian obat yang dilakukan pada orang dewasa seringkali digunakan pada anak-anak. Lebih buruk lagi, banyak obat-obatan anak tidak diberi label atau bahkan tidak berlisensi. Hal ini berbahaya karena dapat terjadi peningkatan resistensi obat akibat pemberian resep antimikroba yang terlalu berlebihan dan tidak sesuai indikasi, misalnya penggunaan dosis atau durasi penggunaan obat yang tidak memadai.

Anak-anak pada umumnya tidak dapat menelan tablet atau kapsul, seringkali tidak tahan dengan rasa obat cair, dan mengolah obat secara berbeda seiring dengan perkembangan dan pertumbuhannya. Menurut WHO, obat-obatan anak idealnya mempunyai rasa yang enak, dapat digores, dapat dihancurkan, dapat tersebar (cepat hancur dalam air), dapat dikunyah, ditaburkan pada makanan, atau dicampur dengan air susu ibu (ASI). WHO menyatakan bahwa obat anak yang ideal adalah yang sesuai dengan usia, kondisi fisiologis, dan berat badan anak serta tersedia dalam bentuk sediaan oral padat yang fleksibel yang dapat diminum utuh, dilarutkan dalam berbagai cairan, atau ditaburkan pada makanan, sehingga memudahkan anak untuk mencernanya.

WHO menyatakan bahwa penyakit menular yang dapat dicegah dan diobati masih menjadi penyebab utama kematian pada anak usia di bawah lima tahun. Infeksi bakteri, terutama pneumonia, sepsis neonatal, dan infeksi saluran cerna, merupakan penyebab utama kematian akibat infeksi pada kelompok usia ini di seluruh dunia. Masalah ini semakin diperburuk dengan meningkatnya resistensi antimikroba secara global.

WHO melakukan upaya untuk menghasilkan daftar prioritas antibiotik untuk pengembangan PADO untuk semua produk, termasuk yang memiliki indikasi yang disetujui untuk anak-anak tetapi tidak memiliki formulasi yang sesuai dengan usia mereka. Dari daftar tersebut, penelitian yang paling banyak dilakukan hingga saat ini berfokus pada cefiderocol, antibiotik yang digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih.

Adapun daftar prioritas PADO untuk NTD mencakup enam obat di lima bidang penyakit, yakni acoziborole untuk trypanosomiasis Afrika atau penyakit tidur, penyakit yang disebabkan parasit Trypanosoma brucei yang dibawa lalat tsetse); ivermectin dan moxidectin untuk kudis dan onchocerciasis, penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing parasit Onchocerca volvulus; miltefosine dan amfoterisin B untuk leishmaniasis visceral, infeksi pada kulit yang disebabkan oleh protozoa leishmania; dan L-praziquantel untuk schistosomiasis atau demam keong, infeksi yang disebabkan oleh cacing skistosoma.

Mitra jaringan GAP-f bekerja sama untuk menghilangkan hambatan dalam mengembangkan dan memberikan obat-obatan yang tepat, berkualitas, terjangkau, dan dapat diakses oleh anak-anak serta berkontribusi terhadap cakupan kesehatan universal. GAP-f bekerja dengan mendorong kolaborasi antarpemangku kepentingan untuk mengidentifikasi kesenjangan, menetapkan prioritas kebutuhan, dan mempercepat penyelidikan, pengembangan, dan pengiriman produk untuk meningkatkan dan menyelamatkan nyawa anak-anak.

Musim kemarau berkepanjangan dan tidak terkendalinya pencemaran udara meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut. Kementerian Kesehatan mengkampanyekan gerakan 6M 1S. 

 

Musim kemarau berkepanjangan dan tidak terkendalinya pencemaran udara, baik yang berasal dari asap kendaraan bermotor maupun industri, menyebabkan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, D. H. S. M., M. A. R. S., telah terjadi peningkatan kasus ISPA yang dilaporkan oleh pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) maupun rumah sakit di Jabodetabek.

“Dalam beberapa waktu terakhir tren polusi udara di Jabodetabek melebihi batas aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan batas aman peraturan kualitas udara di Indonesia. Di sisi lain, juga terjadi kenaikan ISPA di DKI Jakarta dalam enam bulan terakhir yang mencapai di atas 100 ribu kasus per bulan,” kata Maxi ketika menyampaikan keterangan pers pada 28 Agustus lalu.

Menurut dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Dr. dr. Heidy Agustin Sp. P. (K.), peningkatan kasus ISPA tidak dapat dikaitkan secara langsung dengan meningkatnya polusi. Namun demikian, polusi udara merupakan salah satu faktor penyebab kejadian ISPA, di samping musim kemarau yang berkepanjangan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, kasus ISPA di Jakarta mencapai 638.291 kasus selama Januari-Juni 2023.

Sementara itu, data dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, tren kasus ISPA di Indonesia dalam kurun waktu Januari hingga September 2023 cukup tinggi, yakni di kisaran 1,5-1,8 juta kasus secara nasional. Adapun tiga provinsi tertinggi terkait kasus ISPA adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.

Dokter spesialis paru dari Unit Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, dr. Sri Mulyani, Sp. P., berdasarkan data indeks standar pencemaran udara di berbagai kota besar seperti Jabodetabek secara fluktuatif mencapai angka tertinggi pada kategori tidak sehat. Menurut Sri, polusi udara tidak bisa dianggap remeh karena sangat berdampak pada kesehatan manusia. “Asap atau polusi udara yang masuk ke sistem pernapasan akan mengganggu dan bahkan melemahkan pertahanan tubuh sehingga rentan terkena ISPA. Bagi orang yang telah terkena ISPA sebelumnya, tentu ini bisa memperberat gejala yang sudah ada,” kata Sri ketika berbincang dengan Mediakom pada Selasa, 5 Desember lalu.

Sri menambahkan, dampak buruk dari penurunan kualitas udara ini sangat bisa dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan. Karena, lanjut Sri, paparan polusi udara yang berasal dari asap kendaraan bermotor dan polusi industri dapat merusak silia, rambut kecil di saluran napas yang berfungsi untuk mengeluarkan zat asing seperti debu dari paru-paru, sehingga memicu infeksi penyakit ISPA.

Orang yang mengalami gejala ISPA dan menunjukkan tanda-tanda memburuk hingga kesulitan bernapas, Sri menyarankan agar mereka segera dibawa ke instalasi gawat darurat yang tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Menurut Sri, penyakit saluran pernapasan termasuk berbahaya dan bisa mengancam keselamatan penderitanya sehingga dianjurkan untuk mengedepankan upaya pencegahan.

Salah satu upaya yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada Agustus lalu adalah mengkampanyekan gerakan 6M 1S. Adapun yang dimaksud dengan 6M dan 1S adalah memeriksa kualitas udara melalui aplikasi atau situs web; mengurangi aktivitas luar ruangan dan menutup ventilasi rumah, kantor, sekolah, dan tempat umum di saat polusi udara tinggi; menggunakan penjernih udara dalam ruangan; menghindari sumber polusi dan asap rokok; menggunakan masker saat polusi udara tinggi; melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat; serta segera konsultasi dengan tenaga kesehatan jika muncul keluhan pernapasan.

“Berbagai riset yang ada menyebut infeksi sekunder terhadap penyakit respirasi biasanya lebih tidak baik daripada infeksi yang pertama. Oleh karena itu, cegah jangan sampai terjadi, terutama pada empat kelompok risiko tinggi sehingga kalau aktivitas di luar ruangan pakai masker. Kuncinya adalah 6M 1S untuk mencegah risiko dampak kesehatan,” ucap Ketua Komite Penanggulangan Penyakit Pernapasan dan Dampak Polusi Udara, Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp. P. (K.), F. I. S. R., F. A. P. S. R., ketika memberikan keterangan pers pada 28 Agustus lalu.

 

Penulis: Redaksi Mediakom