Penulis: pbnbigesdi

Palu kecil medis untuk mengecek refleks saraf sudah berkembang sejak pertengahan abad ke-19. Diilhami kebiasaan petani anggur mengecek kadar anggur di tong anggur.       

 

Salah satu tema kartun atau anekdot kedokteran populer adalah yang menggambarkan seorang dokter yang mengetuk lutut pasien dengan sebuah palu kecil dan kaki pasien bergerak refleks menendang sang dokter. Ada banyak variasi cerita dari kartun ini, tetapi intinya tetap berfokus pada palu tersebut.

Palu itu bernama palu refleks. Palu itu sebenarnya digunakan ahli saraf untuk memeriksa refleks spontan, gerakan menendang kaki bagian bawah secara tiba-tiba sebagai respons terhadap ketukan pada tendon patela, yang terletak tepat di bawah tempurung lutut.

Salah satu posisi untuk melakukannya adalah dengan mendudukkan pasien dengan lutut ditekuk dan satu kaki disilangkan di atas kaki lainnya sehingga kaki bagian atas menggantung bebas dari lantai. Ketukan tajam pada tendon akan sedikit meregangkan paha depan. Akibatnya, otot-otot ini berkontraksi dan kontraksi tersebut cenderung meluruskan kaki dalam gerakan menendang. Reaksi yang berlebihan atau tidak adanya reaksi menandakan kemungkinan adanya kerusakan pada sistem saraf pusat.

Palu kecil yang sangat berguna ini mulai dikembangkan sejak pertengahan abad ke-19. Douglas J. Lanska dalam artikel “The History of Reflex Hammers” di jurnal Neurology edisi November 1989, mencatat bahwa teknik mengetuk dalam dunia kedokteran ini sebenarnya diilhami oleh kebiasaan petani anggur Eropa mengetuk-ngetuk tong anggur untuk mengetahui kadar anggurnya.

Leopold von Auenbrugger, seorang dokter di Wina, Austria, pertama kali menggambarkan penggunaan ketukan jari sebagai bantuan diagnosis medis pada 1761. Dalam monografinya, Penemuan Baru untuk Mendeteksi Penyakit Tersembunyi Jauh di Dalam Dada, Auenbrugger menulis bahwa dengan mengetukkan jari langsung pada dada, punggung, dan perut, serta mendengarkan suara yang dihasilkan, kondisi organ di bawahnya dapat ditentukan.

Pada 1826, Pierre Adolphe Piorry, dokter Prancis, memperkenalkan pleksimeter, sebuah resonator berbentuk piringan kecil dari gading, logam, kayu cedar, atau karet yang diletakkan di dada dan diketuk dengan jari. Tak lama kemudian, Sir David Barry, dokter Skotlandia, membuat palu kecil untuk memukul pleksimeter. Sayangnya, Piorry menganggap palu Barry sebagai penemuan yang berlebihan dan tidak digunakan secara luas. Yang jelas, sejak itu banyak orang mengembangkan palu refleks ini dengan berbagai bentuk dan bahan.

Menurut Lanska, hampir bersamaan dengan perkembangan palu pengetuk, konsep gerakan refleks dikembangkan oleh para dokter seperti Robert Whytt, John Augustus Unzer, dan G. Prochaska. Pada 1830, Marshall Hall, ahli fisiologi Inggris, memperluas cakupan refleks ini dengan memasukkan gerakan berkedip, menelan, bersin, muntah, dan refleks yang dimediasi oleh sistem saraf otonom. Bahkan, Hall pula yang memperkenalkan istilah refleks, dari bahasa Latin reflexus yang artinya pantulan, karena ia menganggap otot memantulkan rangsangan seperti halnya dinding memantulkan bola yang dilemparkan ke arahnya.

Empat puluh tahun kemudian, pada 1875, Heinrich Erb, ahli saraf Jerman, dan Carl Westphal, psikiater Jerman, pertama kali melaporkan kegunaan diagnosis patela atau refleks spontan. Menurut Lanska, Erb adalah ahli saraf terkemuka pada zamannya dan ahli saraf pertama yang menekankan pemeriksaan sistem saraf secara rinci dan sistematis. Erb juga salah satu orang pertama yang mengenali kegunaan klinis refleks regangan otot dan ahli saraf pertama yang menggunakan palu refleks untuk diagnosis.

Setelah Erb menyerahkan makalahnya tentang sentakan lutut ke jurnal Archives of Psychiatry and Nervous Diseases Jerman, ia menemukan editor jurnal itu, Carl Westphal, juga sedang menyiapkan makalah serupa dan keduanya setuju mempublikasikannya secara bersamaan. Saat menyelidiki fenomena sentakan lutut ini, Westphal pada dasarnya mengidentifikasi ciri-ciri yang sama dengan Erb tetapi, bila Erb menganggap sentakan lutut sebagai gerakan refleks, Westphal salah mengira sentakan tersebut diakibatkan oleh eksitasi langsung pada otot paha depan.

Dalam beberapa dekade berikutnya, mengetuk tendon dengan palu refleks menjadi teknik yang disukai para ahli saraf. Beberapa di antara mereka bahkan mempromosikan model palu tertentu. Sejak itu berkembang beberapa jenis palu refleks yang dari tahun ke tahun disempurnakan hingga menjadi seperti yang kita kenal sekarang.

Salah satu yang populer di Amerika Serikat adalah palu Taylor. Palu ini diciptakan John Madison Taylor, dokter lulusan University of Pennsylvania, Amerika yang berpraktik di bidang pediatri, neurologi, dan kedokteran fisik di Philadelphia. Dia adalah asisten pribadi Silas Weir Mitchell, dokter yang dijuluki sebagai bapak neurologi kedokteran, di Rumah Sakit Ortopedi Philadelphia. Menurut Lanska, di rumah sakit inilah Taylor menciptakan palu refleks pertamanya pada 1888 yang mirip kapak suku Indian yang kepalanya terbalik. Kepalanya berbentuk segitiga yang terbuat dari karet dan pegangannya terbuat dari metal ceper.

Palu Taylor lebih ringan dibandingkan palu-palu bikinan Eropa pada masa itu. Silas Weir Mitchell mempopulerkan palu ini. Lanska mencatat, C. K. Mills, pionir neurologi dan pendiri departemen neurologi pertama di rumah sakit umum Amerika, menilainya sebagai “palu terbaik untuk mengetuk ligamen patela yang banyak disalahgunakan”. Taylor memamerkan palu barunya pada pertemuan Philadelphia Neurological Society, Februari 1888. Hingga kini palu Taylor masih populer di Amerika dan Eropa.

 

Penulis: Redaksi Mediakom

Sekitar 1,25 juta anak-anak dan remaja muda terjangkit TBC pada 2022. WHO meluncurkan kursus daring tentang pengelolaan tuberkulosis pada anak-anak dan remaja.       

 

Kesehatan anak ialah bagian dari hak mereka. Oleh sebab itu, beragam cara dilakukan agar kesehatan mereka terjamin dan bisa terhindar dari penyakit yang membahayakan. Salah satu penyakit pada anak-anak yang menjadi perhatian ialah tuberkulosis (TBC). Bukan tanpa alasan, anak-anak kerap terpapar penyakit TBC dan banyak di antara mereka yang tidak terdiagnosis atau tidak diobati.

Tuberkulosis  merupakan penyakit yang dapat dicegah dan biasanya dapat disembuhkan. Namun, pada tahun 2022, TBC menduduki peringkat kedua terbanyak di dunia sebagai penyebab kematian akibat satu agen infeksi setelah COVID-19 dan menyebabkan kematian hampir dua kali lipat banyak dari HIV/AIDS. Lebih dari 10 juta orang terus terjangkit TBC setiap tahun.

Laporan Global Tuberculosis Report 2023 yang baru-baru ini dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti bahwa sekitar 1,25 juta anak-anak dan remaja muda (usia 0–14 tahun) terjangkit TBC pada tahun 2022, yang merupakan 12 persen dari beban TBC global. Sementara itu, kurang dari separuh anak-anak dan remaja muda penderita TBC terdiagnosis dan mulai menjalani pengobatan dan hanya sepertiga anak kecil yang menerima pengobatan pencegahan TBC meskipun mereka memenuhi syarat.

TBC disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis yang menyebar melalui orang yang sakit TBC yang mengeluarkan bakteri ke udara, misalnya dengan batuk. Penyakit ini biasanya menyerang paru-paru namun dapat menyerang tempat lain juga. Setelah infeksi, risiko perkembangan penyakit TBC tertinggi pada dua tahun pertama (kira-kira lima persen), setelah itu jauh lebih rendah.

Melalui pengobatan yang saat ini direkomendasikan oleh WHO (obat anti-TBC selama 4–6 bulan berobat), sekitar 85 persen penderita TBC dapat disembuhkan. Tersedia regimen 1–6 bulan untuk mengobati infeksi TBC. Tanpa pengobatan, angka kematian akibat penyakit TBC akan meningkat tinggi (sekitar 50 persen).

Cakupan kesehatan universal (UHC) diperlukan untuk memastikan bahwa semua orang yang memerlukan pengobatan penyakit TBC atau infeksi dapat mengakses perawatan ini. Jumlah orang yang tertular infeksi dan terserang penyakit ini juga bisa dikurangi melalui tindakan multisektoral untuk mengatasi TBC faktor penentu, seperti kemiskinan, kekurangan gizi, HIV infeksi, merokok, dan diabetes.

Tindakan mendesak diperlukan untuk mengakhiri epidemi TBC global pada tahun 2030, sebuah tujuan yang telah diadopsi oleh seluruh negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan WHO. Untuk itu, WHO meluncurkan kursus dalam jaringan (daring) baru tentang pengelolaan tuberkulosis pada anak-anak dan remaja. Kursus ini akan berkontribusi dalam memastikan akses universal terhadap pencegahan dan perawatan TBC bagi anak-anak dan remaja secara menyeluruh.

Kursus elektronik WHO ini membangun kapasitas petugas layanan kesehatan, termasuk di tingkat layanan kesehatan primer, untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam mengidentifikasi dan menangani anak-anak penderita TBC atau mereka yang pernah terpapar TBC. Hal ini akan berkontribusi pada percepatan tindakan yang direncanakan selama lima tahun ke depan untuk mencapai komitmen para pemimpin dunia pada Pertemuan Tingkat Tinggi PBB tentang TBC tahun 2023. Selain itu, hal ini juga untuk menutup kesenjangan dalam akses terhadap layanan kesehatan dan melindungi hak-hak anak dan remaja.

“Setiap anak mempunyai hak atas masa depan yang bebas dari TBC,” kata Tereza Kasaeva, Direktur Program Tuberkulosis Global WHO. “Kursus elektronik baru ini memberikan panduan praktis mengenai elemen-elemen kunci dalam pengelolaan TBC pada anak-anak dan remaja serta memastikan akses terhadap layanan berkualitas. Peran petugas kesehatan dalam melakukan skrining, mencegah, mendiagnosis, dan menangani TBC pada anak-anak dan remaja sangatlah penting.”

Dengan menggunakan prinsip pembelajaran mutakhir, kursus ini terdiri dari kombinasi video, presentasi, kuis, dan studi kasus. Panduan ini disusun berdasarkan konten yang terdapat dalam buku pegangan operasional WHO tentang tuberkulosis Modul 5: Penatalaksanaan Tuberkulosis pada Anak-Anak dan Remaja (2022) dan dokumen panduan WHO lainnya. Kursus ini tidak berbayar dan dapat diatur sendiri oleh penggunannya.

Kursus ini selaras dengan peta jalan yang baru saja diluncurkan WHO untuk mengakhiri TBC pada anak-anak dan remaja. Salah satu dari sepuluh tindakan utama dalam peta jalan ini adalah membangun dan mempertahankan kapasitas lokal untuk mencegah dan mengelola TBC pada anak-anak dan remaja sesuai target kursus. Hal ini mencakup penyerapan dan implementasi yang lebih cepat dari pedoman WHO terbaru untuk pencegahan, diagnosis, pengobatan, dan model perawatan TBC serta program pelatihan nasional yang mencakup seluruh rangkaian perawatan TBC pada anak-anak dan remaja, diikuti dengan bimbingan dan pengawasan untuk memastikan masyarakat dan perawatan yang berpusat pada keluarga di semua tingkatan.

Kursus elektronik ini telah ditambahkan ke End TB Channel di OpenWHO dan peserta didik harus terlebih dahulu mendaftar di laman OpenWHO.org untuk mengakses kursus tersebut. Semua kursus elektronik di End TB Channel dirancang untuk membangun pengetahuan strategis dan operasional mengenai pedoman dan dokumen panduan WHO, yang merupakan kunci penerapan Strategi Akhiri TB WHO.

Target audiens kursus elektronik mencakup orang-orang yang menerapkan pedoman WHO, misalnya manajer program nasional dan staf kementerian kesehatan, lembaga teknis, konsultan, staf WHO, dan siapa pun yang mendukung negara dalam pengembangan dan implementasi kebijakan, termasuk petugas kesehatan di tingkat layanan kesehatan utama.

 

Penulis: Redaksi Mediakom

WHO dan berbagai negara di dunia terus berupaya untuk menghilangkan penyakit kanker serviks. Indonesia mengumumkan Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Serviks.   

Dunia merayakan hari aksi pemberantasan kanker serviks pada Jumat, 17 November 2023. Peringatan tahunan yang diprakarsai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ini menandai pertama kalinya negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengadopsi resolusi untuk menghilangkan penyakit tidak menular tersebut dan memperingatinya setiap tahun sejak 2020 untuk menjadi mercusuar harapan, kemajuan, dan komitmen baru dari negara-negara di seluruh dunia.

“Dalam tiga tahun terakhir, kita telah menyaksikan kemajuan yang signifikan, namun perempuan di negara-negara miskin dan perempuan miskin dan terpinggirkan di negara-negara kaya masih banyak menderita kanker serviks,” kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO, dalam siaran pers WHO pada 17 November 2023. “Dengan peningkatan strategi untuk meningkatkan akses terhadap vaksinasi, skrining dan pengobatan, komitmen politik dan keuangan yang kuat dari negara, serta peningkatan dukungan dari mitra, kami dapat mewujudkan visi kami untuk menghilangkan kanker serviks.”

Kanker serviks adalah berkembangnya sel-sel abnormal di dalam serviks (leher rahim). Menurut WHO, secara global, kanker serviks merupakan kanker keempat yang paling umum terjadi pada perempuan, dengan 604 ribu kasus baru pada tahun 2020. Sekitar 90 persen dari 342.000 kematian akibat kanker serviks terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Tingkat kejadian dan kematian akibat kanker serviks tertinggi terjadi di Afrika Sub-Sahara, Amerika Tengah, dan Asia Tenggara.

WHO juga mencatat bahwa masalah kanker serviks ini berkaitan dengan akses terhadap layanan vaksinasi, skrining, pengobatan, faktor risiko termasuk prevalensi HIV, dan faktor penentu sosial dan ekonomi seperti jenis kelamin, bias gender, dan kemiskinan. Perempuan yang hidup dengan HIV, menurut WHO, mempunyai kemungkinan enam kali lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan populasi umum dan diperkirakan 5 persen dari seluruh kasus kanker serviks disebabkan oleh HIV.

Kanker serviks berhubungan dengan virus papiloma manusia (HPV), infeksi menular seksual umum yang dapat menyerang kulit, area genital, dan tenggorokan. Menurut WHO, infeksi HPV yang persisten pada leher rahim, jika tidak diobati, akan menyebabkan 95 persen kanker serviks. Biasanya, diperlukan waktu 15–20 tahun bagi sel abnormal untuk berubah menjadi kanker, namun pada perempuan dengan sistem kekebalan yang lemah, seperti HIV yang tidak diobati, proses ini bisa lebih cepat dan memakan waktu 5–10 tahun. Faktor risiko perkembangan kanker ini, kata WHO, termasuk tingkat ekogenisitas (gen yang bermutasi) tipe HPV, kekebalan tubuh, adanya infeksi menular seksual lainnya, jumlah kelahiran, usia kehamilan pertama yang masih muda, penggunaan kontrasepsi hormonal, dan merokok.

Dalam catatan WHO, sejumlah negara dan komunitas telah mengumumkan komitmennya dan mengembangkan strategi untuk mengeliminasi kanker serviks. Australia, misalnya, menjadi negara pertama yang menargetkan untuk menghapus kanker serviks dalam 10 tahun ke depan. Di Benin, negara di Afrika Barat, Ibu Negara Claudine Talon memimpin kampanye skrining HPV. Kementerian Kesehatan Republik Demokratik Kongo dan organisasi perempuan di sana menggelar pawai pertama yang menyerukan eliminasi kanker serviks di Kinshasa, ibu kota negeri itu.

Kementerian Kesehatan Indonesia mengumumkan Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Serviks yang menargetkan 90 persen anak perempuan usia 15 tahun mendapatkan imunisasi HPV hingga 2027 dan untuk anak laki laki selama 2028-2030. Selain itu, skrining akan dilakukan terhadap 75 persen perempuan berusia 30-69 tahun dengan tes DNA HPV dan mengobati 90 persen perempuan dengan lesi pra-kanker dan kanker invasif pada tahun 2030. Dengan skenario ini, diharapkan 1,2 juta jiwa akan terselamatkan dari kanker serviks pada tahun 2070.

Menurut Kementerian Kesehatan Indonesia, kanker serviks menimbulkan dampak signifikan terhadap perempuan dan keluarga mereka di Indonesia dengan lebih dari 103 juta perempuan berusia 15 tahun ke atas berisiko terkena penyakit ini. Sekitar 36 ribu perempuan terdiagnosis penyakit ini setiap tahun dan sekitar 70 persen di antaranya berada pada stadium lanjut sehingga angka kematian akibat kanker serviks tergolong tinggi, dengan sekitar 21 ribu kematian pada tahun 2020.

“Kita harus bekerja sama dalam perjuangan memerangi kanker serviks. Bersama-sama, kita dapat melengkapi perempuan dengan alat yang mereka butuhkan untuk menangkal penyakit yang merusak ini. Kolaborasi dan tekad kita akan membuat kanker serviks dapat dicegah, tidak mahal, dan dapat diatasi oleh setiap perempuan,” kata Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, sebagaimana dirilis Sehat Negeriku, pada 16 November 2023.

 

Penulis: Redaksi Mediakom

Makanan beku yang aman dan sehat dapat dikonsumsi dan lebih praktis sebagai stok bahan makanan. Bagaimana memeriksa keamanannya?     

 

Banyak orang yang beranggapan bahwa makanan beku (frozen food) tidak aman untuk dikonsumsi dan berbahaya bagi kesehatan. Faktanya, proses pembekuan makanan merupakan salah satu cara untuk membuat nutrisi dari makanan tersebut tetap terjaga. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), pembekuan adalah salah satu proses yang paling banyak digunakan untuk konservasi makanan.

Proses pembekuan ini didasarkan pada penghilangan panas dari makanan yang akan diawetkan dengan menjaga suhu yang cukup rendah pada titik yang dapat menghambat atau mengurangi tindakan destruktif mikroorganisme, oksigen, dan enzim. Namun, makanan beku tetap memiliki batas waktu simpan.

Menurut Frozen Food Science and Technology (2008) karya Judith A. Evans, terdapat beberapa jenis makanan beku yang aman dan sehat untuk dikonsumsi sebagai berikut.

  1. Sayuran

Sayuran beku umumnya tanpa tambahan pengawet. Sayuran beku masih memiliki kandungan nutrisi seperti vitamin, mineral, dan serat. Nutrisi paling penting untuk kesehatan manusia yang ditemukan dalam sayur-sayuran beku antara lain adalah vitamin A, C, dan K serta folat yang larut dan serat makanan tidak larut seperti asam lemak tak jenuh, kalium, dan magnesium. Selain nutrisi yang penting untuk kehidupan, sayur-sayuran dan buah-buahan menyediakan sejumlah senyawa lain yang apabila dikonsumsi dapat menjamin kesehatan konsumen dalam jangka panjang, sesuai penjelasan Plants: Diet and Health (2003) yang disunting Gail Goldberg.

Secara keseluruhan, sayuran beku dapat menjadi pilihan yang sehat untuk memenuhi gizi Anda karena memiliki manfaat kesehatan yang sama seperti sayuran segar yang dikonsumsi sesuai porsi. Hasil penelitian Linson dkk. dalam Journal of Food Composition and Analysis tahun 2017 menunjukkan bahwa perbandingan antara nutrisi dalam sayuran kategori segar, beku, dan “segar-disimpan” tidak ada perbedaan yang signifikan. Dalam kasus perbedaan yang signifikan, produk beku lebih baik dibandingkan dengan produk “segar-disimpan”.

Temuan tersebut tidak mendukung pendapat umum konsumen bahwa makanan segar memiliki nilai gizi yang jauh lebih besar daripada makanan beku. Namun, konsumen perlu memeriksa label bahan dan memilih sayuran beku yang bebas dari zat tambahan seperti gula atau garam. Selain itu, sayuran beku juga dapat ditambahkan campuran bumbu penambah rasa yang mampu meningkatkan jumlah natrium, lemak, atau kalori di dalamnya.

  1. Buah-buahan

Buah-buahan beku yang aman dikonsumsi adalah buah-buahan yang dibekukan segera setelah dipetik. Buku Handbook of Fruits and Fruit Processing (2012) yang disunting Nirmal K. Sinha dkk. menerangkan bahwa buah-buahan beku yang disimpan dengan baik dapat bertahan selama beberapa bulan hingga satu tahun, tergantung pada jenis buah-buahan tersebut. Umumnya, terdapat perbedaan yang tidak signifikan dalam hal kandungan mineral antara buah-buahan dan sayuran segar atau beku. Namun, untuk beberapa buah tertentu terjadi perubahan profil serat yang signifikan, misalnya, kadar selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang menurun sebesar 50 persen pada satu varietas mangga dengan penyimpanan beku selama 12 bulan.

  1. Ikan

Ikan yang dibekukan memang masih dapat menjadi pilihan makanan beku sehat. Selain tahan lama, ikan yang dibekukan juga kaya akan nutrisi seperti protein, vitamin D, zat besi, seng, magnesium, dan selenium. Umumnya ikan dibekukan dengan cepat dan disimpan pada suhu minus 18 derajat Celcius atau lebih rendah sesuai dengan informasi yang terdapat Judith A. Evans.

Cara mencairkan ikan beku yang paling aman tanpa menghilangkan nutrisinya adalah dengan menaruh ikan di kulkas bagian bawah dan dibiarkan semalaman. Banyak orang yang sering menggunakan air panas untuk mencairkan ikan beku, padahal cara tersebut membuat nutrisi yang terkandung di dalam daging ikan menjadi hilang dan juga dapat mengubah tekstur dan rasa dari ikan tersebut, sebagaimana dipaparkan Gimmel dkk. dalam Journals of MDPI pada 2022.

  1. Daging

Daging beku juga masih menjadi pilihan utama makanan beku yang sehat. Daging yang dibekukan dapat dianggap sehat jika diproses dan disimpan dengan benar. Berdasarkan Pasal 127 Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2021, daging beku yang diimpor ke Indonesia telah melalui pengecekan terhadap kualitas dan bersertifikasi halal sehingga dipastikan sehat dan halal. Pakar gizi juga menyatakan bahwa mengonsumsi daging segar dan daging beku sama baiknya asalkan produsen mencantumkan tanggal produksi untuk memberikan kepastian bahwa produk daging beku masih baru.

Namun, ada juga pendapat yang menyatakan bahwa makanan beku, termasuk daging beku, mengandung lemak trans yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan berkontribusi pada penyumbatan arteri. Daging beku tidak secara intrinsik mengandung lemak trans karena biasanya lemak trans dihasilkan melalui proses hidrogenasi parsial minyak nabati dan dapat ditemukan dalam makanan olahan.

Dalam konteks daging beku, kandungan lemak trans mungkin tergantung pada jenis daging dan proses pengolahannya. Penelitian oleh Hatta Mardhika dkk., yang dipublikasikan di Jurnal Teknologi Pangan pada 2020, menunjukkan bahwa proses thawing (pencairan kembali bahan yang telah beku) dapat mempengaruhi kadar lemak steak ayam.

Umumnya daging yang masih berwarna merah cerah merupakan daging yang masih aman untuk dikonsumsi. Hal yang harus diperhatikan adalah kemasan masih tertutup rapat saat kita membeli daging beku tersebut. Dalam menyimpan daging beku di freezer, perlu diperhatikan suhu penyimpanan yang tepat, cara membungkus, dan tidak membekukan daging setelah dicairkan lagi. Daging beku dapat disimpan dalam freezer dengan suhu minus 18 derajat Celcius. Meskipun demikian, menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat, makanan beku aman dikonsumsi tanpa batas waktu, meskipun kualitasnya akan menurun dari waktu ke waktu.

Makanan beku merupakan makanan yang mudah digunakan dan praktis bagi orang dengan keahlian minimal dalam memasak atau memiliki keterbatasan alat masak di dapur. Oleh karena itu, makanan beku memberi Anda kesempatan untuk menikmati hidangan lezat dengan sedikit tenaga dan waktu dengan beberapa pertimbangan terlebih dahulu.

 

Penulis: Redaksi Mediakom

Tren global menunjukan terjadinya peningkatan angka prevalensi menopause dini di dunia. Apa saja ya gejalanya?     

 

Tiziana Leone dkk., dalam jurnal BMJ Global Health pada 2023, mendefinisikan menopause sebagai terhentinya fungsi ovarium yang menyebabkan penurunan hormon estrogen yang biasanya diukur dengan tidak adanya menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. Menopause biasanya terjadi antara usia 45 dan 55 tahun, namun, kata mereka, seiring dengan perubahan nutrisi dan kesehatan di seluruh masa perjalanan hidup yang telah menyebabkan peningkatan angka harapan hidup, menopause kini semakin memasuki tahap usia paruh baya.

Secara historis, sejak abad ke-6 Masehi, menopause secara konsisten dilaporkan terjadi pada perempuan usia sekitar 50 atau 51 tahun atau umumnya pada akhir usia 40-an dan awal 50-an. Demikian Mark Brincat dan John W. W. Studd mencatatnya dalam jurnal Baillière’s Clinical Obstetrics and Gynaecology pada 1988. Brincat dan Studd juga menyatakan bahwa usia menopause itu tidak berhubungan dengan ras, faktor sosial-ekonomi, maupun berat dan tinggi orang.

Namun, Tiziana Leone dkk. menyatakan bahwa kini terjadi perubahan usia menopause dengan penyebab yang sangat beragam berdasarkan faktor-faktor seperti etnis, tempat lahir, dan tingkat pendidikan. Menurut mereka, di sebagian besar negara-negara berpendapatan tinggi rentang usia rata-rata menopause berubah dari 47 menjadi 53 tahun. Menopause prematur (sebelum usia 40 tahun) dan dini (40-44 tahun atau sebelum usia 45) biasanya terjadi pada masing-masing sekitar 1-9 persen dan 5–9 persen perempuan.

Hasil penelitian Tiziana Leone dkk. menunjukkan bahwa tingkat menopause dini dan prematur paling tinggi terjadi di Asia Selatan dan Asia Tenggara dengan masing-masing sebesar 2,7 persen dan 4,5 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah lain, tempat prevalensi menopause prematur tertinggi berikutnya adalah di Amerika Latin dan Karibia sebesar 1,5 persen dan Afrika Sub-Sahara sebesar 2,4 persen. Prevalensi terendah terjadi di Afrika Utara, Asia Barat, dan Eropa sebesar 0,1 persen untuk menopause prematur dan 1,4 persen untuk menopause dini.

Penyebab Menopause Dini

Memahami waktu dan mekanisme usia menopause sangatlah penting, karena baik menopause dini maupun terlambat mempunyai potensi dampak pada beberapa kondisi kesehatan. Ada beberapa penyebab utama menopause dini yang harus diwaspadai, sebagaimana dipaparkan Annals of Medical and Health Sciences Research pada Maret 2013.

  1. Kelainan Genetik

Kelainan genetik merupakan salah satu hal umum yang dapat menyebabkan menopause dini. Beberapa kelainan genetik itu di antaranya adalah abnormalitas kromosom, kelainan metabolisme, dan rendahnya imunitas.

  1. Autoimun

Autoimun juga menjadi 30 hingga 60 persen penyebab menopause dini. Beberapa penyakit autoimun yang mendorong terjadinya menopause dini adalah penyakit tiroid, gondongan, hiperparatiroidisme, dan penyakit Addison. Wanita dengan menopause dini karena autoimun berada pada peningkatan risiko insufisiensi adrenal, hipotiroidisme, diabetes melitus, miastenia gravis, arthritis rheumatoid, dan lupus erythematosus sistemik.

  1. Infeksi

Beberapa infeksi yang harus diwaspadai adalah gondongan dan TBC panggul yang dapat menyebabkan kegagalan ovarium.

  1. Merokok

Merokok menjadi salah satu penyebab menopause dini karena kandungan hidrokarbon polisiklik dalam asap rokok mengkontaminasi tubuh dan mengganggu kesehatan sehingga menyebabkan gangguan pada gizi dan fungsi tubuh, termasuk hormon reproduksi.

  1. Paparan Radiasi

Radiasi dan kemoterapi dapat menyebabkan menopause dini. Meskipun  kontribusinya tidak besar tapi paparan dosis tinggi pada ovarium dapat meningkatkan efektivitas kegagalan ovarium.

  1. Pembedahan

Kegagalan ovarium setelah histerektomi atau pembedahan rahim terjadi pada 15 hingga 50 persen kasus yang disebabkan oleh gangguan suplai pembuluh darah ovarium atau hilangnya kontribusi endokrin, yaitu jaringan kelenjar yang menghasilkan dan melepaskan hormon dari rahim ke ovarium.

  1. Obat-obatan

Terapi gonadotropin hormone-releasing hormone (GnRH) atau terapi kesuburan yang berfungsi untuk merangsang sel untuk pematangan folikel dan pelepasan estrogen. Untuk melakukan terapi ini biasanya direkomendasikan obat-obatan goserelin, yang bisa meningkatkan menopause dini.

Gejala Awal Menopause

Gejala awal pada menopause harus diwaspadai karena dapat berdampak secara fisik, emosi, mental, dan sosial. Tidak semua perempuan alami gejala yang sama, tapi, menurut Jawatan Kesehatan Nasional Inggris (NHS), secara umum gejalanya adalah sebagai berikut.

  1. Sensasi panas atau hangat secara tiba-tiba di sekitar wajah, leher, dan dada.
  2. Keringat malam, sensasi panas atau hangat yang dapat menyebabkan keringat dan jantung berdegup kencang yang menyebabkan ketidaknyamanan secara fisik dan terjadi selama beberapa menit.
  3. Berubahnya rutinitas dan pola menstruasi yang berpuncak pada berhentinya menstruasi secara total.
  4. Vagina yang mengering yang dapat menyebabkan sakit pada saat melakukan kegiatan seksual dan berkelanjutan.
  5. Kesulitan tidur atau terjadi insomnia.
  6. Perubahan mood yang signifikan, depresi, atau gejala kecemasan.

WHO memperingatkan beberapa hal wajib yang diwaspadai setelah terindikasi mengalami menopause yaitu meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular yang sebelumnya dapat dicegah oleh hormon estrogen yang ikut menurun secara signifikan setelah menopause. Selain itu, setelah menopause struktur pendukung panggul melemah dan meningkatkan resiko prolaps organ panggul, osteoporosis, dan patah tulang yang disebabkan hilangnya kepadatan tulang.

Untuk meringankan gejala menopause ada beberapa cara hormonal dan non-hormonal, namun tetap harus didiskusikan kepada ahli medis untuk indikasi yang lebih tepat berdasarkan pertimbangan riwayat kesehatan dan preferensi.

Hal yang juga patut diwaspadai saat perimenopause atau masa transisi menopause sebelum memasuki menopause. Penggunaan kondom atau alat kontrasepsi lain diperlukan untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan. Pemakaian alat kontrasepsi juga menurunkan risiko penyakit menular seksual karena saat perimenopause terjadi penipisan dinding vagina yang meningkatkan risiko penularan HIV saat berhubungan seks.

 

Penulis: Redaksi Mediakom

Penyakit jantung koroner merupakan penyebab utama kematian pada wanita. Ada gejala yang berbeda antara pria dan wanita.     

 

Banyak yang belum sadar bahwa penyakit jantung koroner merupakan penyebab utama kematian pada wanita. Mirisnya, risiko penyakit jantung pada ini wanita meningkat drastis setelah menopause. Lantas, bagaimana cara mencegahnya?

National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), lembaga di bawah Departemen Kesehatan Amerika Serikat, memperkirakan 80 persen wanita berusia 40 hingga 60 tahun memiliki lebih dari satu faktor risiko penyakit jantung koroner. Hal ini mayoritas dipengaruhi hormon di tubuh perempuan.

Pengaruh Hormon Estrogen

Hormon reproduksi pada wanita, estrogen, yang terus diproduksi tubuh sebelum menopause ternyata mampu melindungi dari penyakit jantung. National Institutes of Health (NIH), badan riset kesehatan pemerintah Amerika Serikat, menyebutkan, fenomena ini terjadi berkat hormon estrogen yang mampu menjaga arteri atau pembuluh darah tetap fleksibel. Hormon estrogen juga mampu memberikan efek menguntungkan dalam mengontrol kadar lemak dalam darah atau lipid darah. Tapi, sayangnya, setelah masuk masa menopause, wanita berhenti menstruasi, yang artinya hormon reproduksi seperti estrogen berhenti diproduksi tubuh.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) juga menyebutkan, perempuan yang mengalami menopause dini atau tindakan medis seperti histerektomi atau pengangkatan rahim ternyata lebih berpeluang terkena penyakit jantung di usia yang sama pada wanita yang belum mengalami menopause. Risiko sakit jantung ini sayangnya tidak dibarengi kesadaran wanita terhadap penyakit yang mengancam nyawa ini. Ini sesuai dengan data CDC pada 2023 yang menyebutkan hanya sekitar setengah atau 56 persen wanita Amerika yang menyadari bahwa penyakit jantung adalah pembunuh nomor satu mereka.

Sementara itu, menurut Riset Kesehatan Dasar 2018, prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia sebesar 1,5 persen dengan peringkat prevalensi tertinggi di Provinsi Kalimantan Utara, Yogyakarta, dan Gorontalo. Riset itu juga menunjukkan bahwa dari seluruh kematian akibat penyakit tidak menular di Indonesia, 45 persen di antaranya disebabkan penyakit jantung dan pembuluh darah, yaitu 17,7 juta dari 39,5 juta kematian.

Beda dari Pria

Kantor Kesehatan Perempuan (OASH) menyebutkan, kondisi wanita lebih buruk dibandingkan pria setelah serangan jantung. Ini karena wanita berusia antara 45 dan 65 tahun yang mengalami serangan jantung lebih mungkin meninggal dalam waktu satu tahun setelah serangan dibandingkan pria pada usia yang sama. Namun, serangan jantung lebih jarang terjadi pada wanita muda dibandingkan pria muda. Kondisi ini dipengaruhi hormon dan menopause yang terjadi pada tubuh wanita.

Selain itu, wanita berusia lebih dari 65 tahun lebih berisiko meninggal dalam beberapa minggu setelah serangan jantung dibandingkan pria pada usia yang sama. Wanita biasanya mengalami serangan jantung 10 tahun lebih lambat dibanding pria. Usia rerata serangan jantung pertama pria adalah 64 tahun, sedangkan wanita 72 tahun.

Gejala pada Wanita

Berbeda dengan penyakit jantung yang dialami pria, berikut ini gejala penyakit jantung berdasarkan keterangan National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI).

  1. Aktivitas Perempuan

Pada pria, gejala sakit jantung cenderung memburuk saat beraktivitas fisik dan bakal hilang setelah istirahat. Tapi, pada wanita sakitnya sering terjadi saat aktivitas rutin sehari-hari, seperti berbelanja atau memasak, dibandingkan saat berolahraga.

  1. Lokasi Nyeri

Gejala nyeri berbeda-beda pada setiap orang. Wanita yang menderita angina atau serangan jantung sering menggambarkannya dengan nyeri dada mereka seperti tertekan, diremas, atau sesak. Wanita juga mungkin mengalami nyeri di dada, leher, dan tenggorokan.

  1. Stres

Kesehatan mental terganggu atau secara psikologis tidak stabil cenderung bisa memicu sakit jantung wanita dibandingkan pria.

Gejala lain penyakit jantung yang terjadi pada wanita antara lain mual, muntah, sesak napas, sakit perut, sulit tidur, kelelahan, dan kurang energi.

Mengurangi Risiko Sakit Jantung

Mencegah lebih baik daripada mengobati dan daripada menunggu tua, ketika kondisi tubuh sudah menurun drastis. Pencegahan sebaiknya dilakukan sedini mungkin. CDC merekomendasikan sejumlah langkah pencegahan.

  1. Periksa Tekanan Darah

Tekanan darah yang tidak terkontrol atau hipertensi dapat menyebabkan penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan demensia. Hipertensi tidak menunjukkan gejala, jadi wajib rutin memeriksa tekanan darah.

  1. Cek Diabetes

Diabetes atau kadar gula tinggi dalam darah yang tidak terkontrol meningkatkan risiko penyakit jantung. Ini karena diabetes bisa menyebabkan komplikasi dan salah satunya penyakit jantung.

  1. Tidak Merokok

Jika tidak merokok, jangan mulai merokok. Tapi jika merokok, segera cari dan pelajari cara berhenti.

  1. Cek Kolesterol dan Trigliserida

Kolesterol terbentuk dari lemak jenuh yang didapatkan dari makanan. Semakin banyak lemak jenuh, maka semakin banyak kolesterol yang akan diproduksi oleh tubuh. Adapun trigliserida adalah cadangan energi tubuh yang bisa dihasilkan dari makanan berlemak dan makanan sumber karbohidrat.

  1. Olahraga 150 Menit

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan orang berolahraga selama 150 menit per minggu. Sebaiknya jumlah ini tidak dilakukan sekaligus tapi bisa dibagi 3 hingga 4 kali dalam seminggu. Olahraga yang disarankan adalah kombinasi aerobik, fleksibilitas, dan angkat beban.

 

Penulis: Redaksi Mediakom

Banyak orang mengatasi stres dengan makanan dan minuman manis. “Obat” yang justru membahayakan kesehatan.     

 

Sejak menjadi ibu, Windy Marthinda merasa lebih banyak beban. Ibu tiga anak yang bekerja di sebuah instansi kesehatan di Bandung itu harus menangani urusan domestik, bekerja di kantor, dan melanjutkan studi pada saat yang bersamaan. Akibatnya, dia kemudian menjadi suka makan makanan dan minuman manis. “Kalau lagi di kampus dan tempat kerja saya jadi sering ngemil manis seperti cokelat atau es krim. Juga es campur dan es cendol,” kata Windy kepada Mediakom, Jumat, 15 Desember 2023.

Dia merasa jadi bahagia dan punya energi buat mengerjakan banyak hal setelah mengonsumsi makanan dan minuman manis. “Mungkin sugesti, tapi es teh manis paling ampuh bikin segar kalau lagi dinas malam dan banyak pasien. Kebiasaan itu terbawa terus. Saya jadi senang minuman manis dan dingin, termasuk yang kemasan. Selama hamil anak-anak, saya malah lebih sering minum es teh manis ketimbang air putih,” ujar perempuan 38 tahun ini.

Windy menyadari bahwa dia semestinya segera berhenti dari kebiasaan tidak sehat tersebut. Ia merasa khawatir karen makin tua usia fungsi hormon insulin semakin tidak berkurang. “Takut diabetes, apalagi ada keturunan diabetes dari keluarga ibu. Makin khawatir kalau enggak mulai dikurangi,” kata Windy yang tidak pernah mengecek kadar gula darahnya.

Untuk mengalihkan stres, dia melakukan kegiatan yang bikin sibuk dan bahagia. “Misalnya olahraga, baca buku, dan nonton drakor lucu,” kata perempuan asal Bandung ini.

Sari Ermina, seorang karyawan swasta di Jakarta, bahkan tidak bisa lepas dari minuman manis, seperti es teh, teh susu, es boba, hingga es krim, sejak kecil. Walaupun ia tidak merasakan dampak langsung menjadi lebih bahagia, kebiasaan tersebut masih ia jalani sampai sekarang.

Sari sedang berusaha menghentikan kebiasan itu. “Sebenarnya ada keinginan buat mengurangi makanan atau minuman manis dan mengganti dengan camilan buah untuk makanan dan air putih untuk minuman. Masih diusahakan,” kata perempuan 34 tahun ini kepada Mediakom, Jumat, 15 Desember 2023.

Sari juga mengaku jika khawatir terkena diabetes. Apalagi di bukan orang yang rajin periksa gula darah.

Apa yang dialami Windy dan Sari adalah contoh orang yang kecanduan makanan dan minuman manis ketika merasa cemas. Makanan manis memang bisa mengurangi rasa cemas dan lelah dengan menekan sumbu hipotalamus hipofisis adrenal (HPA) di otak yang mengontrol respons terhadap stres. Menurut Achim Peters dalam jurnal Scientific American tahun 2019, meskipun otak kita hanya menyumbang dua persen dari berat badan, organ tersebut mengonsumsi setengah dari kebutuhan karbohidrat harian dan glukosa adalah bahan bakar terpentingnya. Dalam kondisi stres, menurut Peters, otak memerlukan energi sebanyak 12 persen lebih banyak sehingga orang memilih makanan ringan yang manis-manis.

Peters menjelaskan bahwa pada saat lapar, seluruh jaringan wilayah otak aktif. Di tengahnya terdapat hipotalamus ventromedial dan hipotalamus lateral. Kedua wilayah di batang otak bagian atas ini punya fungsi dalam pengaturan metabolisme, perilaku makan, dan fungsi pencernaan. Namun, terdapat penjaga gerbang, yaitu nukleus arcuatus di hipotalamus. Jika otak kekurangan glukosa, penjaga gerbang ini memblokir informasi dari seluruh tubuh. Itu sebabnya, kata Peters, saat mengonsumsi karbohidrat segera setelah otak menunjukkan kebutuhan energi, maka seluruh tubuh kemudian mendapat pasokan energi yang cukup.

Gula, menurut Peters, menurunkan respons stres di otak manusia. Akibatnya, kita mungkin mengonsumsi gula sebagai cara cepat untuk menahan perasaan stres. Untuk menguji hipotesis ini, Peters melakukan tes stres terhadap dua kelompok wanita. Selama dua minggu, satu kelompok diminta meminum minuman mengandung gula tiga kali sehari, sedangkan kelompok lainnya diminta meminum minuman pengganti aspartam. Para wanita tersebut melakukan tes stres sebelum dan sesudah perawatan dan dilakukan pengukuran respons otak terhadap stres, seperti produksi senyawa stres, kortisol, dan aktivitas pada hipokampus di otak. Hasil penelitian Peters menunjukkan bahwa konsumsi gula mengubah kadar kortisol dan aktivitas hipokampus selama stres dan juga bagaimana otak merasakan dan merespons peristiwa stres.

Bagi sebagian orang, kata Peters, otak tidak dapat memperoleh energi dari cadangan tubuh, meskipun terdapat cukup timbunan lemak. Penyebab paling penting dari hal ini adalah stres kronis. Untuk memastikan otak mereka tidak kekurangan pasokan maka harus selalu makan dalam jumlah yang cukup. Seringkali satu-satunya jalan keluar dari kebiasaan makan seperti itu adalah dengan meninggalkan lingkungan yang penuh tekanan.

Meskipun banyak orang yang cenderung keras pada diri sendiri karena makan terlalu banyak makanan manis atau karbohidrat, alasan di balik keinginan tersebut tidak selalu disebabkan oleh kurangnya pengendalian diri. Sebab, bila akar penyebab stres diatasi, kebiasaan makan, termasuk makanan manis, pada akhirnya akan teratasi dengan sendirinya.

 

Penulis: Redaksi Mediakom

Kementerian Kesehatan menerbitkan kebijakan untuk skrining awal diabetes dan bahkan prediabetes. Agar pencegahan dapat dilakukan sedini mungkin.

 

Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2013 tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak Serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji. Peraturan tersebut mewajibkan setiap badan usaha untuk mencantumkan kandungan gula dalam bentuk label gizi makanan. Hal ini dilakukan untuk memudahkan konsumen mengetahui kandungan gula dalam suatu makanan atau minuman, mengingat zat yang berasa manis ini merupakan salah satu faktor pemicu seseorang dapat terkena penyakit diabetes. Dengan membaca nilai gizi yang tercantum masyarakat diharapkan tidak mengonsumsinya secara berlebihan.

Meskipun demikian, menurut International Diabetes Federation (IDF), organisasi payung 230 lebih perhimpunan diabetes di berbagai negara, jumlah penduduk Indonesia yang mengalami diabetes mencapai 19,5 juta jiwa pada tahun 2021 dan diprediksi akan menjadi 28,6 juta jiwa pada 2045. Hal ini membuat Kementerian Kesehatan menerbitkan kebijakan untuk mencegah terjadinya peningkatan kasus penderita diabetes di Indonesia melalui program skrining penyakit tidak menular (PTM).

“Skrining sangat penting dilakukan untuk menemukan diabetes secara dini bagi masyarakat yang berisiko menderita diabetes melitus (DM) sehingga hal itu dapat dicegah dan diberikan edukasi perubahan gaya hidup dan diharapkan dapat normal kembali,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Dr. Eva Susanti, S. Kp., M. Kes., kepada Mediakom pada Kamis, 14 Desember lalu.

Kegiatan deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular dilakukan di pos pembinaan terpadu (posbindu), pos pelayanan terpadu (posyandu), maupun pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Adapun pemeriksaan kesehatan yang dilakukan meliputi pengukuran indeks masa tubuh yang meliputi tinggi badan, berat badan, dan lingkar perut. Kegiatan lain adalah pengukuran tekanan darah atau tensi darah dan tes gula darah. Program ini, kata Eva, menyasar masyarakat usia 15 tahun ke atas, baik orang sehat maupun orang sakit atau yang memiliki faktor risiko.

Eva mengatakan bahwa tahun ini kelompok yang menjadi sasaran skrining ditargetkan dapat mencapai 70 persen, namun hingga bulan Desember baru terealisasi 30 persen dari target yang ditetapkan. Hal ini terjadi, menurut dia, karena belum seluruh masyarakat mengetahui tentang program ini, padahal diharapkan minimal satu kali dalam setahun masyarakat dapat mengikuti program ini sehingga bisa tahu apakah ada atau tidak faktor risiko penyakit tidak menular pada dirinya.

“Ketika kita melakukan deteksi secara dini, maka masalahnya akan lebih mudah karena dia belum berat, kemudian kita akan melakukan upaya tata laksananya lebih baik karena dia belum berat. Jika kondisinya masih ringan saja, maka dengan diberikan intervensi masalahnya akan selesai,” tutur Eva.

Eva menambahkan, dengan melakukan skrining atau deteksi dini, selain lebih mudah dalam proses pengobatannya, hal itu juga akan menekan biaya kesehatan. Jika seseorang sudah terdeteksi diabetes sejak awal, maka langkah selanjutnya adalah menjaga agar gula darah dalam tubuhnya terkontrol sehingga dapat hidup dengan normal. Namun, apabila penyakitnya baru diketahui ketika sudah parah, hal itu bisa menyebabkan penderita mengalami stroke, penyakit kardivoaskular, ataupun masalah pada ginjal.

Lebih lanjut Eva mengatakan bahwa, selain program skrining yang sudah berjalan selama ini, Kementerian Kesehatan juga berencana untuk melakukan skrining prediabetes. Program ini diharapkan dapat mencegah seseorang terkena diabetes.

“Sekarang kita mau bergerak di prediabetes, jadi sebelum sampai diabetes sudah kita tata laksana jangan sampai dia terkena diabetes. Untuk pemeriksaan prediabetes itu ada pemeriksaan gula darah setelah puasa dan dua jam setelah puasa,” kata Eva. “Kalau dia puasa dulu, kadar gula darah 100 sampai 126 itu sudah masuk prediabetes, jadi harus diintervensi. Kalau lebih dari 126, berarti sudah diabetes.”

Menurut Eva, jika seseorang sudah menderita diabetes, maka ia tidak dapat disembuhkan namun masih bisa dikendalikan dengan intervensi gaya hidup, yaitu dengan membiasakan perilaku hidup sehat, melakukan kontrol rutin, dan meminum obat sesuai anjuran dokter. Masyarakat juga dianjurkan menerapkan slogan PATUH agar dapat terhindar dari diabetes, yakni periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter; atasi penyakit dengan pengobatan yang benar dan teratur; tetap diet dengan gizi seimbang; upayakan aktivitas fisik dengan aman; serta hindari rokok, alkohol dan zat karsinogenik lainnya, termasuk tidak mengkonsumsi gula, garam, dan lemak berlebihan.

 

Penulis: Redaksi Mediakom

Konsumsi makanan dan minuman manis berlebih akan menyebabkan penumpukan gula yang melebihi kebutuhan yang diperlukan tubuh.   

 

Makanan-makanan yang mengandung gula itu mengundang selera dan dikemas dengan menarik sehingga membuat orang yang mengonsumsinya ketagihan. Hal itu bisa dilihat dari bermunculannya gerai-gerai makanan masa kini yang belakangan ini kerap digandrungi masyarakat, khususnya anak muda. Namun demikian, ada hal yang patut diwaspadai oleh masyarakat di balik kenikmatan makanan tinggi gula tersebut. “Di balik sensasi rasa yang manis, yang menggoda, tersembunyi ancaman yang dapat merusak kesehatan tubuh secara perlahan-lahan,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Dr. Eva Susanti, S. Kp., M. Kes., kepada Mediakom pada Kamis, 14 Desember 2023.

Menurut Diabetes UK, organisasi di Inggris yang mengedukasi masyarakat tentang penyakit diabetes, menyatakan bahwa gula tidak berperan sebagai faktor risiko lahirnya penyakit diabetes tipe-1. Untuk diabetes tipe-2 yang lebih kompleks, konsumsi gula berlebihan bukanlah penyebab langsung muncul penyakit diabetes melitus tapi bisa menjadi faktor pemicu terjadinya kenaikan berat badan yang akhirnya bisa membuat seseorang terkena penyakit yang dikenal sebagai juga sebagai kencing manis itu.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar 2018, prevalensi kegemukan di Indonesia mengalami peningkatan, dari 10,5 persen pada 2007 menjadi 14,8 persen pada  2013 dan 21,8 persen pada 2018. Menurut hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023, angka obesitas di Indonesia meningkat menjadi 23,4 persen.

Eva Susanti mengatakan, kebiasaan mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik tinggi, karbohidrat tinggi, gula tinggi ,dan tinggi tepung akan dapat menyebabkan munculnya resistensi insulin. Insulin merupakan hormon yang diproduksi oleh pankreas yang memungkinkan pengaturan pengambilan glukosa. Hormon ini dilepaskan sebagai respons terhadap peningkatan kadar glukosa dalam darah dan memungkinkan sel-sel individu mengambil glukosa dari darah untuk metabolismenya.

Sementara itu, kata Eva, konsumsi makanan maupun minuman manis dalam jumlah banyak akan menyebabkan penumpukan gula yang melebihi kebutuhan yang diperlukan tubuh untuk memproduksi hormon insulin. Akibatnya, ketika diperiksa, kadar gula dalam darah tinggi melebihi normal dan terindikasi mengalami penyakit diabetes tipe 2.

“Konsumsi gula yang terus menerus akan menyebabkan resistensi insulin, ketika tubuh tidak bisa menggunakan insulin secara efektif, sehingga kemungkinan akan terkena risiko mengalami diabetes apabila tidak diimbangi dengan aktivitas fisik,” ujar Eva.

Menurut Eva, kelebihan gula yang banyak pada tubuh juga bisa menjadi salah satu faktor risiko seseorang terkena penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi. Gula yang banyak nantinya akan menumpuk di dalam sel tubuh dan akan menjadi lemak sehingga membuat tekanan darah meningkat. Untuk mengalirkan darah ke sel tubuh kita perlu memompa lebih berat karena banyaknya lemak yang ada di tubuh.

Untuk itu, Eva menyarankan agar masyarakat mengonsumsi gula setiap hari sesuai anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni sebanyak 10 persen dari total energi (200 kilo kalori) atau setara dengan empat sendok makan atau 50 gram per hari bagi setiap orang. “Kesadaran akan bahaya konsumsi gula berlebihan sangatlah penting agar orang dapat terhindar dari penyakit serius seperti obesitas, diabetes, penyakit jantung, dan lainnya,” kata Eva.

Meskipun gula berbahaya bagi kesehatan, namun orang tidak disarankan untuk meninggalkan konsumsi gula karena untuk energi dalam tubuh tetap membutuhkan glukosa. Eva mengatakan, terkadang ada penderita diabetes yang salah memandang penyakit kencing manis ini dengan langsung berhenti mengonsumsi gula, padahal jika itu dilakukan justru bisa menyebabkan hipoglikemia, yakni kondisi ketika kadar gula dalam darah berada di bawah normal.

Situs Diabetes UK menulis, tidak masalah penderita diabetes untuk sesekali menikmati makan makanan manis dan tidak masalah jika sesekali memasukkannya sebagai camilan sebagai bagian dari pola makan yang sehat dan seimbang. Selain itu, bagi sebagian penderita diabetes, minuman manis atau tablet glukosa sangat penting untuk mengatasi hipoglikemia ketika kadar glukosa darah terlalu rendah.

Menurut Situs Diabetes UK, orang perlu memperhatikan jumlah gula harian maksimum yang direkomendasikan untuk dikonsumsi, yakni 30 gram untuk orang dewasa, yang berarti hanya tujuh sendok teh sehari. Sebagai ilustrasi, kandungan gula dalam sejumlah makanan sebagai berikut. Satu sendok makan saus tomat mengandung sekitar satu sendok teh gula, sepotong biskuit cokelat mengandung hingga dua sendok teh gula, dan satu porsi kecil kacang panggang hampir setara dengan tiga sendok teh gula. “Anda dapat melihat seberapa cepat sendok teh gula tersebut bertambah,” kata mereka.

Eva memberikan tip untuk mengurangi konsumsi gula berlebih sekaligus terhindar dari penyakit serius yang diawali oleh konsumsi gula berlebih. Pertama, perhatikan label gizi makanan dengan baik. Kedua, jika membeli makanan atau minuman, pastikan tidak dengan pemanis tambahan. Ketiga, kombinasikan antara gula dengan protein lemak sehat dan serat. Terakhir, jadikan mengurangi gula menjadi bagian dari kebiasaan hidup. “Jadikan mengurangi gula menjadi bagian dari kebiasaan, termasuk mengonsumsi makanan karbohidrat harus dikurangi juga karena gula itu bukan hanya dalam bentuk gula yang biasa kita pakai untuk makan dan minum tapi makanan karbohidrat itu juga tinggi gulanya,” ujarnya.

 

Penulis: Redaksi Mediakom

Kementerian Kesehatan mengeluarkan sejumlah aturan untuk mengendalikan konsumsi gula berlebih di masyarakat. Aturan untuk gerai makan siap saji juga sedang disiapkan.

 

Data dari International Diabetes Federation (IDF) menunjukan jumlah penderita diabetes di dunia pada tahun 2021 mencapai 537 juta. Angka ini diprediksi akan terus meningkat mencapai 643 juta di tahun 2030 dan 783 juta pada tahun 2045.  Menurut IDF, Indonesia menduduki peringkat kelima negara dengan jumlah diabetes terbanyak dengan 19,5 juta penderita di tahun 2021 dan diprediksi akan menjadi 28,6 juta pada 2045. Persoalan ini menjadi perhatian dari Kementerian Kesehatan, mengingat diabetes melitus merupakan ibu dari segala penyakit. Seperti ibu yang melahirkan banyak anak, diabetes dapat “melahirkan” berbagai penyakit lain.

“Diabetes itu adalah mother of all diseases. Kalau tidak terkontrol, dia bisa terkena penyakit jantung, stroke, ginjal yang akan lebih berat lagi masalahnya, akan lebih berat lagi biayanya,” ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Dr. Eva Susanti, S. Kp., M. Kes., kepada Mediakom pada Kamis, 14 Desember lalu.

Eva mengatakan, risiko seseorang terkena diabetes dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti gaya hidup, riwayat keluarga yang memiliki diabetes, aktivitas fisik yang kurang, dan konsumsi gula yang tinggi secara terus-menerus. Tingginya konsumsi gula yang tidak diimbangi dengan aktivitas fisik, sebut Eva, akan menyebabkan terjadinya resistensi insulin sehingga meningkatkan risiko terkena diabetes.

Pada tahun 2013, Kementerian Kesehatan menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2013 tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak Serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji. Peraturan tersebut bertujuan agar masyarakat dapat mengetahui informasi nilai gizi yang terkandung di makanan dan minuman yang dituliskan dalam label makanan. Dengan begitu, masyarakat dapat mengetahui jumlah gula, garam, dan lemak yang telah akan dikonsumsi sehingga dapat menghindari faktor risiko terkena penyakit tidak menular. “Karena gula, garam, dan lemak berlebihan dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit tidak menular, termasuk obesitas, hipertensi, diabetes, kanker, dan penyakit kardiovaskular,” ujar Eva.

Eva menambahkan bahwa pertumbuhan gerai makanan cepat saji di Indonesia sangat cepat. Ini disertai dengan kemudahan untuk memperoleh makanan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi belakangan ini, yang telah menjadi tren, khususnya di kalangan anak muda. Padahal, makanan cepat saji tersebut umumnya termasuk kategori junk food, yakni makanan yang hanya mengandung sedikit serat, sementara gula, garam, dan kandungan lemaknya tinggi.

Untuk itu, Kementerian Kesehatan tengah berupaya agar setiap gerai pangan siap saji nantinya diminta untuk mencantumkan nilai gizi pada setiap porsi hidangan yang ditawarkan sebagai upaya mencegah masyarakat mengonsumsi gula garam dan lemak berlebih. “Rencana itu akan kita masukan di rancangan peraturan pemerintah sebagai turunan dari Undang-Undang Kesehatan. Nantinya, kita akan mencoba di gerai-gerai yang sudah terdaftar dulu, misalnya untuk yang sudah punya 200 gerai, supaya lebih mudah. Nanti juga kita akan atur porsinya,” kata Eva.

Menurut Eva, pajanan makanan yang beraneka ragam tanpa pencantuman nilai gizi, khususnya terkait kandungan gula, perlu diatur dengan tegas. Karena, mengonsumsi gula berlebih dapat berisiko menyebabkan obesitas sehingga terjadi penumpukan lemak ektopik di dalam otot yang bisa menimbulkan resistensi insulin yang akhirnya menjadi diabetes melitus tipe 2.

“Undang-undang atau regulasi yang mengatur kandungan dalam makanan dan minuman ini diharapkan memiliki tingkat efektivitas yang cukup tinggi untuk mengurangi konsumsi yang tidak sehat dan menurunkan kematian akibat penyakit tidak menular,” tutur Eva.

 

Penulis: Redaksi Mediakom