Hari: 14 November 2023

Penyakit kanker masih menjadi salah satu penyakit mematikan di Indonesia. Bahkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan adanya peningkatan angka pasien kanker dari tahun 2010 ke 2013. Salah satu penyebabnya adalah makin meningkatnya gaya hidup modern yang tidak sehat.

Menteri Kesehatan dr. Nafsiah Mboi, Sp.A., MPH mengatakan bahwa dibandingkan dengan gaya hidup di Indonesia tahun 1970-an, perilaku hidup saat ini yang modern namun kerap meninggalkan gaya hidup tidak sehat memicu timbulnya penyakit. Akibatnya, penyakit yang dulu hanya menyerang orang tua kini sering ditemukan pada anak, remaja dan dewasa muda.

“Perilaku hidup sekarang sangat berbeda dengan Indonesia 30 tahun yang lalu, tahun 1970-an. Dulu stroke identik dengan lansia 70 tahun ke atas. Tapi sekarang 40, 30 tahun sudah kena stroke. Bahkan ada juga yang umur 28 kena stroke,” tutur Menkes.

Ditambahkan, bahwa saat ini yang mengkhawatirkan adalah banyaknya kasus kanker pada anak-anak. ”Ini sangat memperihatinkan saya,” kata Menkes saat meresmikan fasilitas produksi sediaan onkologi milik PT Fonko International Pharmaceuticals di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (22/9/2014).

Salah gaya hidup modern yang dikritik oleh Menkes adalah semakin banyaknya masyarakat yang meninggalkan konsumsi buah dan sayur, dan berganti menjadi konsumsi makanan siap saji. Padahal, makanan siap saji diketahui mengandung banyak karsinogen (penyebab kanker).

Karena itu, selain menggiatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Menkes juga berharap ada produk obat kanker yang murah namun terjamin kualitas mutunya. Mulai dari pemilihan bahan, proses pembuatan hingga pengemasan produk, semuanya harus sesuai standar nasional dan internasional.

Ferry Soetikno, CEO Dexa-medika Group yang menaungi PT Fonko International Pharmaceuticals mengatakan bahwa pihaknya kini sedang mempersiapkan obat sesuai yang diharapkan oleh Menkes. Meski sebagian besar bahan baku obatnya masih impor, namun dengan adanya fasilitas sediaan onkologi milik PT Fonko, pembuatan obat kanker kini bisa dilakukan di Indonesia.

“Karena buatnya di Indonesia otomatis harganya tentu lebih murah daripada obat impor. Tentunya ini dilakukan dengan tetap menjamin kualitas mutu produk sesuai standar nasional dan internasional,” tutur Ferry.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan email [email protected].


Pelaksanaan seleksi CPNS KEMENKES dan penandatanganan Pakta Integritas penyelenggaraan CPNS 2014…

Ada 5 hal yang bisa kita pelajari dari kasus Ebola pertama di Amerika Serikat, yang 30 September kemarin dilaporkan Kemenkes USA :

1. Pasien baru sakit beberapa hari ( 5 hari) setelah mendarat di Amerika (Dallas – Texas) sepulangnya dari Liberia

2. Orang bisa saja masih sehat ketika naik pesawat di negara terjangkit, dan tidak terdeteksi sakit ketika mendarat di bandara negara tujuan, karena masa inkubasi bisa sampai 21 hari

3. Kalau ada seseorang dengan gejala demam, nyeri otot, mual, apalagi perdarahan, maka harus ditanyakan riwayat perjalanannya dalam 3 minggu terakhir, apakah ada ke negara2 terjangkit di Afrika Barat

4. Kewaspadaan dan alertness petugas kesehatan terhadap ebola menjadi amat perlu di kedepankan

5. Ebola memang dapat menyebar dari Afrika Barat ke negara2 lain di dunia, yang punya hubungan penerbangan dengan negara terjangkit Ebola.

Sesudah 6 bulan Ebola dinyatakan WHO sebagai wabah kesehatn di Afrika Barat, maka ada 9 analisa ilmiah yang bisa dipakai baik untuk penanganan Ebola di dunia, dan juga pengetahuan Kesehatan Masyarakat yang jugaa bermanfaat untuk Indonesia.

Sembilan hal itu adalah :

1. Kasus pertama Ebola di Guinea ternyata sampai 3 bulan baru terdeteksi sebagai kasus awal Ebola. Kalau terdeteksi dan ditangani sejak Desember 2013 (kasus anak 2 tahun dan keluarganya itu), maka mungkin Ebola tidak jadi masalah dunia spt sekarang ini. Artinya, kalau ada kasus awal suatu penyakit menular berpotensi wabah, segeralah diatasi maksimal agar wabah tidak meluas.

2. Di Liberia
Dampak Ebola bukan hanya kesehatan, tapi juga psikologis daan tekanan lainnya. Masalah wabah penyakit memang bukan hanya kesehaatan, tapi juga pssikologis, ekonomis, sosial dan politis.

3. Di Sierra Leone ada seorang dukun / pengobat tradisional yang meninggal karena Ebola. Pada proses pemakamannya banyak sekali yang hadir, dan ternyata terjadi penularan pada lebih dari 30 kasus Ebola dari proses pemakaman itu. Artinya, penularan Ebola memang cukup luas, khususnya bila ada cairan tubuh terinfeksi (bahkan dari jenazah sekalipun) dan upaya pencegahan penularan harusnya jadi perhatian utama

4. Nigeria and Senegal berhasil menangaani wabah Ebola mereka. Situasi mereka kini stabil, dan sebentar lagi ke dua negara ini dapat dideklarasikaan “all clear”. Ini menunjukkan, bahwa wabah Ebola dapat diatasi kalau ditangani dengan baik.
5. Di negara Democratic Republic of Congo timbul wabah Ebola “klasik”, tidak berhubungan dengan kasus-kasus di Afrika Barat. Konggo sudah tujuh kali mengalami wabah Ebola . Wabah kali ini bermula dari seorang Ibu tertular dari daging binatang yang dibawa pulang suaminya. Artinya, penyuluhan kesehatan ke masyarakat harus terus menerus dilakukan (walaupun wabah sudah berlalu seperti 6 wabah terdahulu di Konggo ini) agar perilaku masyarakat dapat berubah menjadi perilaku sehat.

6. Wabah Ebola kali ini berkembang amat pesat, antara lain juga karena baru pertama kali wabah Ebola Afrika melanda kota besar dan daerah slum perkotaan. Hal ini menunjukkan bahwa penanganan penyakit menular yang berdampak luas di masyarakat di daerah perkotaan memang memerlukan pendekatan khusus, yang mungkin berbeda dengan penananganan di daerah lain secara umumnya

7. Salah satu pelajaran penting dari terus meluasnya Ebola di 3 negara awal wabah (Guinea, Liberia dan Sierra Leonne) adalah kenyataan bahwa buruknya sistem kesehatan secara umum akan membuat penyebaran penyakit jadi tidak terkendali. Karena itu, “health system strenthening” atau penguatan sistem kesehatan merupakan kegiatan utama pembangunan kesehatan di setiap negara.

8. Dalam abad ini sudah ada setidaknya empat kali wabah penyakit yang besar, dan meresahkan dunia. Kuman, virus, parasit dan penyebab penyakit lainnya juga mungkin terus bermutasi, berevolusi dan berubah. Pola kehidupan juga terus berkembang, yang bisa memicu hal yang tidak sehat. Bukan tidak mungkin di masa datang akan ada wabah kembali, dan semua kita harus siap mengantisipasinya

9. Analisa ke sembilan, adalah apakah Ebola di Afrika Barat ini akan berkembang lebih buruk, lebih luas dan lebih mematikan? Tentu kita tidak ingin ini terjadi, dan karena itu perlu upaya penangulangan yang baik kuat. Untuk pengendalian penyakit menular dibutuhkan :
– pimpinan yang menguasai masalah
– program penanggulangan penyakit yang berbasis bukti
– petugas yang bertanggung jawab
– sistem kesehatan yang tertata baik

Prof Tjandra Yoga Aditama

#Ebola #ProfChandraYoga #BalitbangKemenkes

Organisasi Kesehatan Sedunia, WHO, memperkirakan ada sekitar lima hingga sepuluh ribu kasus baru Ebola setiap minggu menjelang bulan Desember.

Asisten Direktur Jenderal WHO, Dr. Bruce Aylward, Selasa (14/10), melaporkan bahwa jumlah kasus baru Ebola telah berkisar sekitar seribu orang dalam sebulan terakhir ini.

Menurutnya, tingkat infeksi tampaknya akan mereda di beberapa daerah, tetapi dia tetap prihatin dengan bertambahnya jumlah kasus di ibukota-ibukota Guinea, Liberia dan Sierra Leone. Ada lebih dari 8.900 kasus selama merebaknya wabah sekarang ini, dengan virus Ebola membunuh sekitar 4.450 orang.

Perkiraan-perkiraan baru itu muncul sementara kepala misi Ebola PBB di Afrika Barat, Anthony Barbury, mengemukakan dia “amat cemas” bahwa semua yang telah dilakukan untuk melawan merebaknya virus Ebola itu masih belum cukup untuk menghentikannya.

Barbury menyampaikan kepada DK PBB bahwa Ebola harus dimusnahkan sekarang, jika tidak, dunia akan menghadapi krisis
parah yang tidak terbayangkan.

#KasusEbolaperminggu #Ebola #Wabah #DKPBB #WHO

http://www.voaindonesia.com/content/who-kasus-kasus-ebola-baru-dapat-tulari-10-ribu-orang-per-minggu/2484381.html

Kementerian Kesehatan terus melakukan deteksi dini secara rutin sebagai bentuk kewaspadaan terhadap timbulnya Penyakit Virus Ebola di Indonesia, baik di pintu masuk negara maupun di wilayah. Deteksi dini yang dilakukan antara lain dengan pemantauan kesehatan terhadap orang dalam pengawasan (person under surveilance) dan orang dalam investigasi (person under investigation) selama 21 hari sejak meninggalkan daerah/negara terjangkit.

 

Orang dalam pengawasan (person under surveilance) adalah orang yang memiliki riwayat perjalanan dari negara/daerah terjangkit atau memliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi, tetapi tidak ditemukan tanda dan gejala penyakit yang dicurigai PVE pada saat dilakukan penilaian risiko. Orang ini dapat melakukan aktivitas secara bebas atau terbatas sesuai hasil penialian risiko di tengah masyarajat. apabila orang dalam pengawasan menunjukkan gejala dalam rentang waktu 21 hari sejak meninggalkan daerah/negara terjangkit, maka akan dikategorikan sebagai orang dalam investigasi.

 

Orang dalam investigasi (person under surveilance) adalah orang yang memiliki tanda dan gejala penyakit yang dicurigai PVE. Ini ditandai dengan perdarahan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya atau kematian mendadak yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Orang dalam investigasi memiliki riwayat perjalanan dari negara/daerah terjangkit atau memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi PVE dalam rentang waktu 21 hari sejak meninggalkan daerah/negara terjangkit. Semua orang dalam investigasi harus dipantau di rumah sakit.

 

Sejak Agustus 2014 sampai dengan saat ini telah dilakukan pemantauan terhadap 32 orang dalam pengawasan dan 5 orang dalam investigasi. Hasil pemantauan terhadap 32 orang dalam pengawasan menunjukkan 30 orang tidak memiliki tanda dan gejala sampai akhir masa pemantauan dan 2 orang lainnya masih dalam masa pemantauan. Sementara, hasil pemeriksaan laboraturium terhadap 5 orang dalam investigasi menunjukkan tidak ada yang positif mengidap PVE. Sampai saat ini belum ditemukan kasus konfirmasi PVE di Indonesia.

 

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan email [email protected].

Menkes Nila F. Moeloek mengumumkan hasil investigasi Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) di RS Siloam Karawaci, Tangerang terkait Buvanest Spinal, (23/3). Hasil investigasi yang dilakukan Tim Penanganan Kejadian Sentinel Serius (KSS) menyatakan bahwa penyebab meninggalnya 2 pasien di RS Siloam Karawaci adalah zat yang disuntikkan saat dilakukan anestesi spinal.

Hasil investigasi sejauh ini tidak dijumpai penyimpangan standar profesi; Aktivitas pengelolaan dan penyerahan obat. Pada kasus ini tidak bermasalah karena telah dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku di RS; Kekeliruan ada dalam isi ampul dengan label buvanest 0,5 % heavy 4 ml yang isinya adalah Asam Traneksamat 5 ml.

Dalam kasus ini, Kemenkes dan Badan POM telah melakukan tindakan regulatori kepada RS Siloam Karawaci dan PT. Kalbe Farma selaku produsen maupun di PT. Enseval Mega Trading selaku distributor.

Kemenkes telah memberi teguran tertulis kepada RS Siloam Karawaci, Tangerang, karena dalam kasus ini tidak segera melaporkan kejadian tersebut secara resmi kepada Dinas Kesehatan dan Kementerian Kesehatan. Selanjutnya, Kemenkes mendorong Badan Pengawas Rumah Sakit (BPRS) dan Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten Kota untuk lebih aktif melakukan pembinaan dan pengawasan RS dan mendorong Badan POM untuk meningkatkan pembinaan dan pengawasan kepada PT.Kalbe Farma, Tbk dalam hal Cara Pembuatan Obat yang baik (CPOB) agar kasus ini tidak terulang.

Sementara itu, Badan POM telah membatalkan Izin Edar Obat Buvanest Spinal 0,5% Heavy Injeksi. Konsekuensinya, PT. Kalbe Farma harus memusnahkan semua persediaan obat yang ada dalam penguasaannya. Pada tanggal 3-5 Maret Badan POM melakukan inspeksi sistemik ke Industri Farmasi PT. Kalbe Farma, tbk untuk menilai penerapan sistem mutu secara menyeluruh. Berdasarkan hasil audit sistemik ini diputuskan seluruh produk yang belum didistribukan harus dilakukan uji. Sementara bagi produk yang sudah diedarkan harus ditarik dari peredaran dan dilakukan hal yang sama.

Investigasi terhadap kasus ini dilakukan oleh Tim Penanganan KSS. Tim terdiri dari unsur Kemenkes, BPOM, BPRS, Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KPRS) serta wakil-wakil pakar dari organisasi profesi kedokteran terkait (POGI dan PERDATIN). Tim ini bertugas antara lain melakukan klarifikasi kasus sentinel serius akibat penggunaan obat Buvanest Spinal 0,5 % Heavy secara komprehensif dan menyeluruh.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan email [email protected].

Pada tanggl 3 Februari 2015, Kemenkes meluncurkan Program Nusantara Sehat (NS). Program ini diluncurkan sebagai salah satu prioritas kunci Kemenkes selama 5 tahun kedepan. Program NS adalah program penguatan pelayanan kesehatan primer yang fokus pada upaya promotif, preventif, dengan berbasis pada tim.

“Intervensi berbasis tim pada fasilitas layanan kesehatan ini merupakan suatu terobosan, karena tim-tim ditempatkan langsung diwilayah-wilayah terpencil dimana suatu sistem kegiatan bisnis akan dikembangkan di Puskesmas terpencil tersebut,” jelas Menkes Nila F. Moeloek pada acara Rapat Koordinasi Teknis (Rakontek)  Bina Upaya Kesehatan Dasar (BUKD), di Jakarta (25/3).

Tujuan utama program NS adalah mewujudkan layanan kesehatan primer yang dapat dijangkau oleh setiap anggota masyarakat, terutama oleh mereka yang berada di wilayah-wilayah terpencil di berbagai pelosok Nusantara.

Tim NS adalah para tenaga profesional kesehatan dengan latar belakang medis seperti dokter, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan lingkungan, ahli teknologi laboratorium medik, tenaga gizi, dan tenaga kefarmasian yang berusia di bawah 30 tahun. Besaran gaji/insentif bagi tenaga kesehatan penugasan khusus berbasis tim (team based)  adalah sebesar Rp.7.850.000,- ( Tujuh Juta delapan ratus lima puluh ribu rupiah) untuk dokter umum dan dokter gigi, sedangkan untuk Bidan/perawat/Tenaga kesehatan Lingkungan/Tenaga Gizi/ Ahli Teknologi Laboratorium Medik/ Tenaga kefarmasian / Tenaga Kesehatan Masyarakat sebesar Rp. 4.400.000,- (Empat Juta Empat Ratus Ribu Rupiah). Besaran gaji/insentif tenaga kesehatan penugasan khusus berbasis tim (Team based) dalam mendukung program Nusantara Sehat ditetapkan oleh Menteri Kesehatan atas persetujuan Menteri Keuangan.

Tim pertama NS akan mulai bertugas pada tanggal 29 April 2015 hingga 2 tahun ke depan. Proses perekrutan telah dilakuan secara online dan direct assessment. Proses seleksi calon berdasarkan resume, tes tertulis, wawancara tatap muka, tes psikologi serta Focus Group Discussion (FGD) untuk menilai individu dalam dinamika kelompok. Bagi peserta yang telah lulus seleksi akan diberi pelatihan dan pembekalan oleh Pusdiklat Aparatur Kemenkes bekerja sama dengan Armabar, Fakultas Kedokteran UI dan RSCM serta Puskesmas.

Pada tahun 2015, lokus program NS direncanakan di Puskesmas kecamatan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga baik darat dan laut di 48 kab/Kota pada 15 Provinsi yaitu Aceh, Sumut, Riau, Kepri, Bengkulu, NTT, Kalbar, Kaltim, Kaltara, Sulut, Sulteng, Maluku Utara, Maluku, Papua dan Papua Barat.

Dalam kegiatan Rakontek BUKD ini dilakukan penandatanganan komitmen mendukung Program NS oleh 48 Bupati/Walikota dari 15 provinsi lokus, disaksikan Menkes. Dukungan yang diharapkan dari Bupati/Walikota untuk keberhasilan program NS diantaranya adalah 1) Menjamin keselamatan dan keamanan tenaga kesehatan penugasan khusus berbasis tim (team based); 2) Menyediakan sarana, prasarana, dan fasilitas tempat tinggal yang layak untuk menunjang pelaksanaan tugas; 3) Menerbitkan Surat Izin Praktik (SIP) untuk tenaga kesehatan penugasan khusus berbasis tim (team based) dalam mendukung program NS sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan email [email protected].

Surakarta, 28 Maret 2015. Peringati Hari TB Sedunia tahun 2015 BBKPM Surakarta adakan dalam rangkaian kegiatan mulai dari Kampanye Stop TB, Lomba Penyuluhan, Pembagian Souvenir dan Sarasehan Pegawai.

 

BBKPM Surakarta telah selesai menggelar beberapa kegiatan dalam rangkaian peringatan Hari TB Sedunia tahun 2015. Kampanye Stop TB yang menjadi agenda rutin dilaksanakan pada 22 Maret 2015 dia area Car Free Day Slamet Riyadi. Kampanye dilakukan dengan aksi simpatik ‘long march‘ dari Depan Hotel Diamond hingga Hotel Dana dengan membawa beragam poster pesan kesehatan mengenai TB. Selain itu, BBKPM Surakarta juga membagikan masker bertuliskan “Stop Tuberkulosis” kepada masyarakat pengunjung Car Free Day.

 

“Kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penyakit TB ini. Kami juga mengajak masyarakat dan juga media untuk membantu menemukan kasus TB dilingkungan sekitar ” ujar Kepala BBKPM Surakarta, Dr. Riskiyana Sukandhi Putra dalam wawancaranya dengan media. Kampanye ini diikuti oleh karyawan BBKPM Surakarta, Institusi Pendidikan, Dinas Kesehatan Kota Surakarta dan didukung T.K Baiturrahman dan Bank Mandiri.

 

Selain kegiatan diluar gedung, BBKPM Surakarta juga peringati Hari TB dengan kegiatan di dalam gedung yaitu lomba penyuluhan, apresiasi kepada pasien/pelanggan dan sarasehan pegawai.

 

Lomba Penyuluhan diselenggarakan oleh Promkes BBKPM Surakarta di aula BBKPM Surakarta, Senin, 23 Maret 2025. Lomba ini bertujuan untuk menggali potensi para karyawan dalam melakukan penyuluhan kepada masyarakat.  Tema yang diusung dalam lomba penyuluhan ini adalah “Kesehatan Paru pada Remaja”. Lomba diikuti 10 orang peserta yang merupakan perwakilan dari unit-unit yang ada di BBKPM Surakarta. Juri Lomba berasal dari Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Solo Pos dan BBKPM Surakarta.

 

Puncak Peringatan Hari TB Sedunia yaitu tanggal 24 Maret 2015 diselengarakan di BBKPM Surakarta dengan menyajikan ketoprak humor untuk memberikan hiburan sebagai bentuk apresiasi kepada pasien/pengunjung sekaligus sebagai media penyampaian pesan kesehatan mengenai TB. Untuk sajian ketoprak humor ini BBKPM Surakarta bekerjasama dengan Tim Kesenian Balekambang Surakarta. Selain menampilkan Ketoprak Humor, BBKPM Surakarta menyediakan kudapan jajan pasar, pembagian balon untuk pasien anak, dan souvenir kepada pasien/pengunjung BBKPM Surakarta.

 

Rangkaian hari TB Sedunia ditutup dengan Sarasehan Pegawai di aula BBKPM Surakarta. Sebagai bentuk terima kasih BBKPM Surakarta kepada pegawai yang telah memberikan pelayanan terbaik untuk pasien. Sarasehan pegawai ini diisi dengan games, pembagian doorprize, pengumuman pemenang lomba penyuluhan, dan gladi bersih penampilan kontingen BBKPM Surakarta untuk lomba dalam pertemuan ARSABAPI.

 

Terima kasih atas bantuan berbagai pihak, sehingga rangkaian peringatan Hari TB Sedunia tahun 2015 oleh BBKPM Surakarta dapat berjalan dengan lancar. Sampai bertemu kembali dalam kegiatan selanjutnya.

 

Humas, BBKPM Surakarta

@bbkpmska

Hasil pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes menyatakan pasien berkewarganegaraan Cina (L/37 th) menunjukkan negatif MERS-CoV dan negatif Influenza. Hasil ini diketahui kemarin petang (17/6) setelah Balitbangkes menerima sampel pasien yang saat ini masih dirawat di RSUD dr. Soetomo Surabaya.

 

Berdasarkan pemantauan medis, pasien mengalami perbaikan klinis: tidak demam dan tidak sesak pada hari ke-3 sejak mulai gejala; Hasil pemeriksaan lab mengarah ke demam dengue. Selain itu, hasil pemeriksaan rontgen tidak mendukung ke arah pneumonia. Pasien juga tidak‎ ada riwayat perjalanan ke daerah terjangkit MERS-CoV di Jazirah Arab maupun Korea Selatan, serta tidak ada riwayat kontak dengan penderita MERS-CoV.

 

Pasien mulai sakit pada tanggal 14 Juni 2015 dengan gejala demam (suhu >39˚C) dan sesak nafas. Pasien berobat ke RS PHC Surabaya dengan diagnosa awal suspek SARS, diagnose sekunder immunocompremise, dan diagnosa banding adalah DBD.‎ Tanggal 16 Juni 2015 pasien dirujuk ke RSUD dr. Soetomo. Pada tanggal 17 Juni 2015 kondisi umum pasien baik.

 

MERS-CoV

Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus (MERS-CoV) pertama kali dilaporkan di Saudi Arabia pada Maret 2012. Sebelumnya, Corona Virus ini tidak pernah ditemukan di dunia. Virus ini berbeda karakteristik dengan virus corona SARS yang menjangkiti 32 negara di dunia pada tahun 2003. Komite International Taxonomy Virus atau The Corona Virus Study Group of The International Committee on Taxonomy of viruses pada tanggal 28 Mei 2013 sepakat menyebut Virus corona baru tersebut dengan nama MERS-CoV, baik dalam komunikasi publik maupun komunikasi ilmiah.

Gejala klinis pada umumnya demam, batuk, gangguan pernafasan akut, timbul gambaran pneumonia, dan kadang-kadang terdapat gejala saluran pencernaan misalnya diare. Kelompok yang berisiko tertular adalah orang usia lanjut (lebih dari 60 tahun), anak anak,wanita hamil dan penderita penyakit kronis (diabetes mellitus, Hipertensi, Penyakit Jantung dan pernafasan, dan defisiensi immunitas).

 

Hingga saat ini belum ada vaksin atau pengobatan khusus untuk pasien MERS-CoV. Perawatan bersifat pendukung kelangsungan hidup tergantung dari keadaan pasien.

 

Agar terhindar dari MERS-CoV, masyarakat diimbau untuk selalu menjaga kebersihan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat; menghindari kontak erat dengan penderita; menggunakan masker, menjaga kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan pakai sabun dan menerapkan etika batuk ketika sakit.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, dan alamat email [email protected].

Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek

Oleh Prof. Dr. Nila F. Moeloek

Menteri Kesehatan, Republik Indonesia

Nutrisi memegang peran sentral dalam mewujudkan kehidupan kita yang lebih sehat dan sejahtera. Pentingnya kecukupan nutrisi dalam keberadaan kita sehari-hari untuk menopang kehidupan yang produktif dan bermanfaat merupakan kenyataan yang tak terbantahkan. Dapat dipastikan bahwa tanpa nutrisi yang mencukupi upaya kita untuk mencapai kehidupan yang sejahtera dan bermartabat   akan sulit terwujud.

Keberhasilan dalam implementasi pembangunan kesehatan nasional sangat bertumpu pada bagaimana kita memberikan perhatian pada nutrisi dalam keluarga, terutama pada anak-anak dalam masa tumbuh kembang. Nutrisi menyediakan fondasi yang kokoh untuk mencapai kehidupan yang sehat, keberhasilan dalam dunia pendidikan, dan kehidupan yang produktif untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih baik. Ketidakmampuan kita untuk memastikan kecukupan gizi pada masayarakat akan menghambat upaya-upaya pencapaian tujuan pembagunan nasional dalam pengertian yang paling mendasar.

Dalam konteks Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals, MDGs), yang telah menjadi komitmen bersama kita untuk dicapai, kemajuan dalam target-target yang terkait dengan nutrisi akan memberikan sumbangan positif bagi percepatan pencapaian MDGs. Pencapaian dalam upaya memberantas kemiskinan ekstrim dan kelaparan, menurunkan tingkat kematian anak, serta target-target MDGs lainnya yang terkait dengan kesehatan dan pendidikan, banyak bergantung pada seberapa jauh kita mencapai kemajuan dalam bidang nutrisi.

Pentingnya peran nutrisi dalam kemajuan pembangunan bangsa harus digaungkan dan dikedepankan oleh semua pembangku kepentingan pembangunan, tidak terbatas pada pemangku kepentingan di sektor kesehatan saja. Setiap tahun, diestimasi bahwa kekurangan gizi menyebabkan kematian sekitar 5,6 juta anak usia di bawah lima tahun (balita) di seluruh dunia. Sementara satu dari empat anak di bawah lima tahun memiliki bobot kurang (underweight) untuk anak-anak seusia mereka, dan kondisi ini meningkatkan resiko akan kematian dini.

Nutrisi dan Keluarga

Jelas bahwa kekurangan nutrisi memberikan dampak buruk yang signifikan pada kesehatan individu dan masyarakat. Ibu hamil yang tidak cukup gizi akan melahirkan bayi dengan berat badan rendah, dan dengan demikian memiliki resiko yang meningkat terhadap penyakit-penyakit yang mengancam kelangsungan hidup anaknya. Demikian pula, para gadis yang yang kekurangan gizi beresiko tidak mampu mengandung dan melahirkan anak yang sehat.

Kekurangan gizi ini menciptakan lingkaran jahat (vicious circle) lebih jauh, karena kondisi ini akan menghambat tumbuh kembang anak hingga dewasa. Pada gilirannya kondisi ini akan menghasilkan individu-invidu yang kurang produktif ketika mereka beranjak dewasa, dan bahkan bisa menjadi beban pembangunan.

Di balik semua itu, kesadaran akan pentingnya peran gizi dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang produktif dan pencapaian tujuan pembangunan nasional kita, ternyata belum cukup terefleksi dalam pencapaian target-target nasional kita yang terkait dengan nutrisi. Angka-angka terakhir yang menjadi indikator dalam pencapaian di bidang gizi (Riskesdas 2013) menunjukkan bahwa   prevalensi   bobot kurang pada balita mencapai 19,6%, sementara kondisi kurus kering (wasting) mencapai 21,1%,   dan kondisi kerdil (stunting) sebesar 37,2%.

Menarik, tetapi sekaligus memprihatinkan, untuk dicatat karena untuk kondisi kerdil pada balita meningkat dari 36,8% pada 2007 menjadi 37,2 pada 2013. Temuan ini cukup menggelitik karena ternyata pertumbuhan ekonomi kita yang relatif cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir — yang menjadi salah satu tolok ukur bagi kesejahteraan masyarakat – tidak serta merta paralel dengan kemajuan dalam kondisi gizi masyarakat.

Menyikapi tantangan pembangunan gizi

Kondisi yang tidak menguntungkan dalam bidang gizi ini perlu dijawab oleh semua pemangku kepentingan pembangunan terkait. Ini terutama karena pertumbuhan ekonomi dan tingkat kesejahteraan yang lebih baik tidak akan memiliki landasan yang kokoh untuk bertahan lama tanpa ditopang kecukupan gizi yang memadai.

Penting untuk melihat bahwa pencapaian dalam target-target nutrisi terkait secara erat dengan pencapaian bidang-bidang pembangunan lainnya dan kebiasaan sosial dalam masyarakat. Upaya pencapaian dalam bidang nutrisi, misalnya, tidak dapat diisolasikan dari isu-isu utama dalam ketahanan pangan dan pola makan masyarakat kita. Keterkaitan yang kompleks dengan isu-isu pembangunan lain ini merupakan salah satu masalah fundamental yang harus diselesaikan, sebelum kita memusatkan perhatian lebih jauh pada pemenuhan gizi masyarakat.

Secara geografis malnutrisi umumnya tersebar di berbagai wilayah di tanah air yang memang rentan dengan kerawanan pangan. Namun malnutrisi juga berkaitan dengan perilaku dan konsumsi masyarakat. Temuan yang diperoleh dalam studi tentang kondisi ketahanan pangan dan gizi di Indonesia, yang dilaksanakan oleh Smeru, UKP4 dan WFP (2014), menunjukkan bahwa malnutrisi juga tersebar dalam semua spektrum pendapatan. Sebagai contoh, prevalensi kondisi kerdil ditemukan cukup tinggi di kelompok rumah tangga terkaya.

Ini menunjukkan bahwa malnutrisi tidak hanya merupakan persoalan yang membelit kelompok berpendapatan rendah dan mereka yang menetap di wilayah rawan pangan, tetapi juga kelompok rumah tangga kaya di wilayah perkotaan.

Isu-isu lain yang turut menyumbang pada kompleksitas permasalahan nutrisi mencakup, antara lain, capaian pembangunan yang belum merata di antara bebagai wilayah, pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, urbanisasi yang masih tinggi, dan tingkat pemahaman yang masih rendah mengenai pentingnya gizi pada masyarakat.

Pendekatan lintas-sektor dan inovatif

Tantangan dalam upaya meningkatkan status gizi masyarakat menjadi semakin berat jika bidang-bidang pembangunan yang terkait langsung kecukupan nutrisi, seperti ketahanan pangan, infrastruktur, air bersih dan sanitasi, belum berkembang secara optimal. Oleh karena itu, kerja sama lintas sektor antara berbagai pemangku kepentingan terkait, apakah pemerintah, sektor swasta maupun masyarakat madani, merupakan pra-kondisi mutlak untuk meningkatan status gizi masyarakat.

Besarnya skala persoalan dan kompleksitas tantangan yang dihadapi mengharuskan semua pemangku kepentingan untuk menempuh pendekatan yang lebih dari sekedar busines as usual. Upaya-upaya terobosan yang inovatif dan berkesinambungan perlu dieksplorasi dan diimplementasikan, terutama oleh pemangku kepentingan di sektor pemerintah, yang umumnya terbelenggu oleh ikatan-ikatan birokratis.

Berpikir secara kreatif (out-of-the-box) untuk menyelesaikan persoalan dengan melibatkan pemangku kepentingan non-pemerintah, mungkin masih sering menjadi kendala, terutama bagi mereka yang terbiasa berpikir dalam kotak-kotak birokrasi. Tapi tanpa upaya-upaya kreatif dan inovatif yang bekelanjutan seperti ini upaya-upaya dalam meningkatkan status gizi masyarakat akan terus menemui jalan terjal.

Dari sudut kebijakan, pemerintah telah melahirkan berbagai kebijakan dan rencana aksi untuk mewujudkan peningkatan status gizi. Dari dari semua rangkaian aksi telah dilalui, terlihat bahwa upaya-upaya koordinatif di tingkat implementasi serta aspek pemantauan dan evaluasi masih merupakan mata rantai lemah yang masih harus diperbaiki.

Salah satu upaya prioritas   pemerintah, yakni Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), merupakan jawaban terhadap permasalahan status gizi masyarakat dengan meletakkan fokus yang kuat pada pendekatan lintas-sektor. Kesadaran akan pentingnya kerjasama multi-sektor, dan peningkatan fungsi-fungsi koordinatif di antara semua pemangku kepentingan, baik sektor pemerintah maupun non-pemerintah, merupakan karakteristik dasar dari gerakan ini.

Gerakan 1000 HPK ini bertolak dari postulat bahwa periode terpenting dalam kehidupan manusia adalah masa 1000 hari pertama dalam kehidupan, yang mencakup 270 hari dalam kandungan dan 730 hari setelah kelahiran. Kekurangan gizi selama periode tersebut akan mempengaruhi secara negatif tumbuh kembang anak, mengakibatkan kondisi kerdil, kurus kering atau pun obesitas, dan pada gilirannya memperburuk kualitas hidup di masa dewasa.

Pemerintah, melalui Kementerian Kesehatan, menyadari bahwa diperlukan juga komitmen dan terobosan inovatif lebih jauh untuk memperkuat   berbagai upaya peningkatan gizi yang ada. Komitmen ini telah diaktualisasikan Program Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat yang memberikan prioritas pada penguatan pemberdayaan masyarakat, penguatan penyedia pelayanan, serta penguatan pada aspek pemantauan dan evaluasi.

Pada tataran global, dalam rangka menyongsong agenda pembangunan pasca-2015 yang diprakarsai oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan akan diadopsi secara global tahun ini, pembangunan gizi harus terus mendapat fokus yang semakin kuat.

Agenda pembangunan global pasca-2015 dan agenda pembangunan nasional kita perlu terus memastikan agar pembangunan gizi tetap menjadi titik sentral dalam program-program pembangunan mendatang.   Kekurangan gizi yang tidak ditangani secara mendasar dan komprehensif lambat laun akan menggerus capaian pembangunan yang diperoleh dengan susah payah. Demikian pula, upaya kita untuk dapat bersaing dengan bangsa-bangsa yang maju akan sulit diwujudkan tanpa menjadikan gizi sebagai fokus sentral dalam pembangunan kita.