Hari: 12 November 2023

Jakarta, 27 November 2015

Menkes Nila Farid Moeloek turut berduka cita dan prihatin atas meninggalnya 32 anak di Papua, Pemerintah bertanggungjawab terhadap kejadian di Papua ini. “Data yang kami terima dari Dinas Kesehatan Prov Papua adalah 32 anak di bawah usia 2 tahun yang meninggal sejak bulan Oktober 2015 hingga saat ini. Saya sudah menugaskan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) untuk mengirim tim investigasi ke lokasi, melakukan penyelidikan epidemiologi (verifikasi dan investigasi)”, ungkap Menkes (27/11).

Menkes menyatakan bahwa medan perjalanan ke lokasi cukup jauh dan berat. Saat ini tim Respon Cepat dari Kementerian Kesehatan yaitu tim surveilans dan Litbang sudah menuju lokasi, yaitu desa Mbua di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua.

“Segera setelah tim mencapai lokasi akan melaporkan hasil investigasi epidemiologi lebih jauh, diharapkan saat itu situasi sudah lebih jelas sehingga kami dapat menentukan langkah selanjutnya”, terang Menkes.

Terkait ini, Menkes sudah menugaskan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan untuk mengadakan pertemuan, saat ini sedang berlangsung rapat koordinasi lintas kementerian/lembaga terkait, antara lain BNPB, Kementerian Pertanian dan TNI.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 1500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021)52921669, dan alamat email [email protected].

Penyakit radang hati atau hepatitis ada beberapa jenisnya, antara lain adalah hepatitis A, hepatitis B dan hepatitis C, hepatitis D dan hepatitis E. Penyakit hepatitis A disebabkan oleh virus hepatitis A (Hepatitis A Virus – HAV), termasuk famili picornaviridae genus hepatovirus yang merupakan RNA virus positif.

Menurut data WHO maka hepatitis A adalah salah satu food borne diseases yang paling sering ditemui di dunia, setiap tahu ada sekitar 1,4 juta orang tertular hepatitis A di dunia. Pada keadaan tertentu maka kasusnya dapat amat meluas, seperti terjadi di Shanghai tahun 1988 yang terjadi sampai pada 300.000 orang.

Tanda dan gejala penyakit ini adalah keluhan demam, malaise (lemah, lesu), anoreksia (tidak nafsu makan) , gangguan perut serta mata menjadi tampak berwarna kuning (ikterus). Masa inkubasi (jarak antara virus masuk ke tubuh dan gejala timbul) berkisar antara 15 sampai 50 hari, rata-rata 28-30 hari.

Penularan

Cara Penularannya adalah dengan mengkonsumsi makanan atau cairan yang terkontaminasi virus ini, atau kontak dengan pasien. Virus dapat ditemukan pada tinja seorang pasien dan mencapai puncak 1-2 minggu sebelum timbulnya gejala, dan berkurang secara cepat setelah timbulnya gejala . Karena itu, mencuci tangan menjadi salah satu upaya penting mencegah penularan meluas. Gangguan fungsi hati dapat timbul bersamaan setelah munculnya antibodi HAV didalam peredaran darah.

KLB biasanya terjadi dengan pola common source, di tempat umum yang banyak dikunjungi masyarakat untuk makan-makan, yang kebetulan lingkungannya kotor. Umumnya terjadi pada pencemaran air minum, makanan yang tidak dimasak dengan baik, makanan yang tercemar, sanitasi yang buruk dan higiene rendah.

Masa Penularan (infeksifitas) maksimum terjadi pada separuh masa inkubasi, dan berlanjut setelah timbulnya warna kekunigan di mata (ikterus). Virus dikeluarkan melalui tinja pasien yang pada fase infeksius sampai beberapa waktu setelah itu.

Penanganan

Pasien hepatitis A yang berat dapat dirawat di rumah sakit, utamanya untuk meningkatkan daya tahan tubuh (istirahat dan makan bergizi) serta untuk mencegah penularan ke sekitarnya. Pengobatan memang tidak spesifik, tidak diperlukan antibiotika.

Yang amat penting adalah upaya khusus utk meningkatkan sanitasi lingkungan dan kebersihan perorangan untuk mengurangi kontaminasi makanan dengan air dan tinja. Perlu dilakukan Disinfeksi serentak terhadap bekas cairan tubuh pasien. Dari kacamata petugas kesehatan masyarakat maka perlu segera lakukan investigasi dengan penyelidikan epidemiologis (PE) untuk mengetahui apakah penularan terjadi dari orang ke orang atau sudah ada sumber penularan common source yang jelas, untuk kemudian dilakukan upaya penanggulangan kebersihan lingkungan , penyediaan air bersih, sistem pendistribusian air yang baik dan pengelolaan limbah yang benar.

Pencegahan

Berikut disampaikan 9 cara pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat luas :

  1. Selalu cuci tangan sebelum masak , sebelum makan dan setelah keluar toilet,
  2. Selalu cuci alat-alat masak dan alat-alat makan
  3. Dapur harus selalu bersih, sampah padat dan cair terkelola baik, tidak ada binatang , serangga dll
  4. Gunakan air yang bersih dan bahan makanan yang baik. Pilih mahan makanan yang segar, proses memasak yang benar dan baik, cuci buah dan sayur dengan baik, tidak menggunakan bahan makanan yang sudah kadaluarsa.
  5. Masak makanan hingga matang, terutama daging sapi, ayam, telur, seafood, rebus sup hingga 70°C.
  6. Pisahkan bahan makanan matang dan mentah dengan menggunakan alat dapur dan alat makan yang berbeda, serta simpan di tempat berbeda.
  7. Simpan makanan di suhu aman, jangan simpan makanan matang di suhu ruangan terlalu lama, masukkan makanan ke dalam lemari es bila ingin disimpan, sebelum di hidangkan, panaskan sampai lebih dari 60°C, serta jangan terlalu lama disimpan di lemari es.
  8. Jangan menkonsumsi makanan dan minuman yang kotor dan berjamur
  9. Selalu menjaga kebesihan dan sanitasi lingkungan dan pribadi.

Jenewa, 23 Januari 2016

 

Indonesia resmi memimpin keketuaan Steering Group serta Ketua Troika kelompok negara-negara Global Health Security Agenda (GHSA) periode tahun 2016. Ketetapan ini dilakukan pada pertemuan Steering Group of the Global Health Security Agenda (GHSA) yang berlangsung tanggal 23 Januari 2016 di Kantor World Health Organization (WHO), Jenewa, Swiss.

 

Indonesia merupakan salah satu negara yang terlibat sejak awal pembentukan kerjasama GHSA pada tahun 2014. Untuk tahun 2016, Indonesia akan menjadi Ketua Steering Group GHSA beranggotakan 10 negara (Indonesia, Amerika Serikat, Korea Selatan, Finlandia, Chili, Kenya, Arab Saudi, India, Kanada, dan Italia) serta beberapa organisasi internasional (WHO, FAO, dan OIE). Selain itu, Indonesia juga juga menjabat selaku Ketua Troika GHSA untuk tahun 2016 bersama Finlandia dan Korea Selatan.

 

Dalam sambutannya, Menkes Nila F. Moeloek menegaskan bahwa masyarakat internasional saat ini hidup tanpa batasan wilayah negara yang jelas, di mana pergerakan dan perpindahan manusia antar negara terjadi dalam skala yang sangat besar. Pergerakan ini tentu memungkinkan ancaman kesehatan global.

 

Oleh karena itu masyarakat internasional perlu menetapkan langkah untuk mengatasi berbagai ancaman kesehatan global, terutama dengan memperkuat kapasitas nasional masing-masing menghadapi ancaman tersebut.

 

Menkes Nila menegaskan kerjasama negara-negara di dalam GHSA akan dapat membantu meningkatkan kapasitas nasional setiap negara yang terlibat. Berbagai Action Packages telah disusun dan tengah dijalankan oleh anggota GHSA untuk membantu tiap negara memperkuat kemampuannya untuk prevent, detect and respond terhadap berbagai ancaman pandemi.

 

Menurut Menkes seluruh kegiatan yang akan dilakukan oleh seluruh negara GHSA hendaknya tetap dilandaskan pada tujuan utama untuk peningkatan kapasitas nasional seluruh negara dalam mengimplementasikan WHO International Health Regulation 2005 (IHR) sebahai guidelines utama bagi seluruh negara dalam menghadapi berbagai ancaman pandemi.

 

GHSA merupakan kerjasama yang bersifat sukarela (voluntary) di antara sekitar 60 negara dengan tujuan utama meningkatkan kapasitas negara-negara pesertanya dalam menghadapi berbagai ancaman pandemi global melalui tukar pengalaman serta kerjasama untuk peningkatan kapasitas negara dalam mengcegah, mendeteksi dan menanggulangi terjadinya pandemi.

 

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI.

Kejadian gawat darurat dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, dan memerlukan penanganan yang segera, karena dapat mengancam jiwa atau menimbulkan kecacatan permanen. Kejadian gawat darurat dapat disebabkan antara lain karena kecelakaan lalu lintas, penyakit, kebakaran maupun bencana alam.

 

Salah satu dari tiga pilar utama Program Indonesia Sehat adalah penguatan pelayanan kesehatan, di antaranya meliputi strategi peningkatan akses pelayanan kesehatan, optimalisasi sistem rujukan dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan, dimana salah satu caranya adalah melalui Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT).

 

Demikian pernyataan Menteri Kesehatan, Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek, Sp.M(K) saat membuka Seminar Nasional “Kebijakan, Implementasi dan Kendala Dalam Pelaksanaan SPGDT Pra-RS” dan Workshop ”Penanggulangan Gawat Darurat Pra-RS dan RS” yang diprakarsai oleh Ikatan Konsultan Kesehatan Indonesia (IKKESINDO) dan Indonesia Healthcare Forum di Jakarta Selatan, Rabu pagi (3/2).

 

Lahirnya sistem penanggulangan gawat darurat terpadu (SPGDT) dilatarbelakangi karena adanya kebutuhan masyarakat akan suatu sistem penanganan kegawatdaruratan yang standar dan terpadu di Indonesia, dari awal tempat kejadian, selama perjalanan menuju fasilitas pelayanan kesehatan, selama menerima bantuan di fasilitas pelayanan kesehatan sampai paska penanganan.

 

“SPGDT akan melibatkan berbagai unsur seperti tenaga kesehatan, pelayanan ambulans, sistem komunikasi dan masyarakat umum. Untuk mewujudkan SPGDT perlu dibentuk suatu sistem yang terintegrasi, mulai dari pra-Fasilitas Pelayanan Kesehatan, intra Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan antar Fasilitas Pelayanan Kesehatan”, ujar Menkes.

 

Terkait sistem komunikasi SPGDT, Kementerian Kesehatan akan memberikan cara baru dalam pelayanan kegawatdaruratan bidang kesehatan yakni melalui telepon dengan satu kode akses nomor tertentu, yang disebut dengan Pusat Komando Nasional atau disebut National Command Center (NCC) yang akan  memberikan pelayanan selama 24 jam untuk mempermudah akses pelayanan kegawatdaruratan dalam mempercepat respon penanganan korban.

 

Dalam melaksanakan tugasnya, NCC akan berjejaring dengan call center di tingkat Kabupaten/Kota, yang disebut dengan Public Safety Center (PSC). PSC tersebut merupakan bagian utama dari rangkaian  dari SPGDT pra-Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan seperti yang dinyatakan dalam Lampiran Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2013, maka setiap kabupaten/kota diamanahkan untuk membentuk PSC. Di dalam SPGDT, PSC akan melakukan pelayanan kegawatdaruratan dengan menggunakan algoritme kegawatdaruratan yang ada dalam sistem aplikasi NCC.

 

Berkaitan dengan hal tersebut, data Kementerian Kesehatan sampai saat ini baru sekitar 40 Kabupaten/Kota dari total 539 Kabupaten/Kota (7,4%) yang telah membentuk PSC dengan sistem yang beragam sesuai dengan kemampuan daerah masing-masing.

 

“Saya harapkan jumlah ini akan terus bertambah, dan untuk menunjang keberlangsungan PSC sangat diperlukan dukungan serta peran aktif pemerintah daerah”, imbuh Menkes.

 

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline (kode lokal) 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email [email protected].

 

Jakarta, 15 Februari 2016 – Hari ini masyarakat internasional memperingati Hari Kanker Anak Sedunia. Setiap tanggal 15 Februari menjadi momen yang dapat mengingatkan masyarakat bahwa ancaman penyakit kanker, tidak hanya menjangkiti orang dewasa namun juga mengintai anak-anak. Berbeda dengan anak-anak lain yang aktif bermain dan belajar, pada anak-anak mengidap kanker aktivitas ini dapat berkurang karena harus ‘rajin’ terapi dan minum obat agar pertumbuhan sel kanker tidak menyebar ke organ tubuh lain.

Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 (Riskesdas) menunjukkan prevalensi kanker anak umur 0-14 tahun sebesar sekitar 16.291 kasus. Sementara jenis kanker yang paling banyak diderita anak di Indonesia yaitu Leukemia dan kanker bola mata (Retinoblastoma).

“Lebih dari 50 persen kasus kanker pada anak yang datang ke fasilitas kesehatan, sudah dalam keadaan stadium lanjut. Minimnya pengetahuan orang tua tentang kanker, menjadi salah satu penyebab kanker yang diderita anak-anak dalam kondisi stadium lanjut. Padahal apabila dapat terdeteksi secara dini, kanker pada anak dapat disembuhkan dengan pengobatan dan terapi yang baik”, kata Direktur Pengendalian Penyakit Menular dr. Lily S. Sulistyowati.

Kanker dapat menyerang anak mulai dari usia bayi hingga usia 18 tahun. Kanker pada anak berbeda dari kanker pada orang dewasa. Kanker pada orang dewasa dapat dicegah, sementara pada anak sampai saat ini belum ada pencegahannya. Walaupun demikian, pola hidup dan makan-makanan yang sehat harus tetap diajarkan sejak kanak-kanak. Tujuannya agar anak dapat terhindar dari berbagai jenis kanker yang timbul pada usia dewasa.

Hingga saat ini penyebab kanker pada anak belum diketahui secara pasti. Namun, jikalau si kecil dicurigai terkena kanker, sebaiknya segera membawanya ke Puskesmas, RS atau fasilitas kesehatan lainnya. Tujuannya adalah untuk mengonfirmasi apakah gejala yang dijumpai tersebut benar kanker atau bukan.

Apa saja tanda dan gejala awal kanker pada anak?
• Pucat, memar/pendarahan dan nyeri tulang.
• Terlihat adanya benjolan atau pembengkakan yang tidak nyeri dan tanpa demam. Atau adanya tanda-tanda infeksi lain.
• Penurunan berat badan atau demam tanpa sebab yang jelas, batuk yang menetap atau sesak napas dan berkeringat di malam hari.
• Perubahan-perubahan yang terjadi pada mata seperti terlihatnya manik putih, juling, hilangnya penglihatan dan memar/bengkak di sekitar mata.
• Perut yang membuncit.
• Sakit kepala yang menetap atau berat. Kemudian muntah, yang biasanya terjadi pada pagi hari atau dapat memburuk dari hari ke hari.
• Nyeri pada tangan, kaki atau tulang, sehingga mengalami pembengkakan tanpa riwayat trauma atau infeksi.

Upaya Kemenkes Dalam Pengendalian Kanker pada Anak

Program pengendalian kanker anak mulai dikembangkan dengan penyusunan buku pedoman penemuan dini kanker pada anak yang disusun bersama-sama dengan profesi kanker pada anak dan telah disosialisasikan di beberapa provinsi dengan memprioritaskan pada enam jenis kanker pada anak, yang meliputi: leukemia, retinoblastoma, neuroblastoma, limfoma, osteosarkoma, dan karsinoma nasofaring. Penentuan prioritas ini berdasarkan atas dua kriteria, yaitu tingginya angka penyakit (prevalensi) dan kemudahan pengenalan gejala dan tanda serta diagnosis.
Pada tahun berikutnya akan datang terus dikembangkan sehingga penemuan dini kanker pada anak bisa dilaksanakan di puskemas, dengan meningkatkan pengetahuan bagi masyarakat dan kemampuan petugas kesehatan di Puskesmas dalam mengenali tanda dan gejala kanker pada anak, penemuan kanker yang lebih dini dapat meningkatkan angka keberhasilan pengobatan yang lebih efektif dan pembiayaan yang lebih murah melalui BPJS dan Kartu Indonesia Sehat.

Kemenkes juga mengimbau masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PBHS) untuk mengurangi risiko atau kemungkinan terserang kanker. Perilaku yang perlu diterapkan antara lain melakukan aktivitas fisik secara benar, teratur dan terukur; makan makanan bergizi dengan pola seimbang, cukup buah dan sayur; serta mengelola stres dengan tepat dan benar.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021)52921669, dan alamat email [email protected].

Di era globalisasi, yang ditandai dengan persaingan bebas di bidang ekonomi, suatu bangsa akan unggul bila ada kemajuan Iptek. Inovasi teknologi merupakan bagian penting dalam memajukan Iptek. Bahkan, dalam laporan World Competitiveness Index, inovasi merupakan pilar ketiga dalam menentukan daya saing bangsa.

Dalam tulisan ini saya hanya akan membatasi inovasi teknologi kesehatan. Untuk memudahkan bahasan, kita batasi juga inovasi terkait obat dan alat kesehatan. Setiap orang tentunya berhak untuk melakukan penelitian untuk menemukan obat dan alat kesehatan. Persoalannya, bagaimana mengembangkan obat dan alat kesehatan sesuai standar dan akhirnya bisa diterima oleh pengguna.

Obat dan alat kesehatan modern

Yang dimaksud dengan obat dan alat kesehatan modern di sini adalah obat dan alat kesehatan yang bisa digunakan di fasilitas kesehatan formal. Fasilitas kesehatan formal mencakup dokter praktik, klinik, puskesmas, atau rumah sakit. Pelaku pelayanan kesehatan di fasilitas tersebut tentunya tenaga medis (dokter) dan penunjang medis (perawat, bidan, dan sebagainya).

Sesuai dengan UU No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran seorang dokter dalam memberikan pelayanan harus mengacu pada standar pelayanan. Standar pelayanan pada dasarnya pilihan terbaik untuk pasien seuai dengan perkembangan ilmu.

Pilihan terbaik ini didasarkan pada pelayanan pengobatan berbasis bukti (evidence based medicine). Prinsip ini juga dipakai oleh lembaga otoritas, yakni Badan POM dan Ditjen Faralkes, untuk memberikan ijin edar obat dan alat kesehatan modern.

Baik obat maupun alat kesehatan, sebelum dapat digunakan oleh tenaga kesehatan harus terlebih dahulu mendapatkan ijin edar. Untuk mendapatkan ijin edar harus memenuhi syarat cara pembuatan yang baik (good manufacturing practice) dan bukti klinis sesuai indikasinya.

Ambil contoh kasus jaket anti kanker Warsito. Karena jaket Warsito diindikasikan untuk terapi kanker, maka sesuai dengan PERMENKES No. 1190/2010 tentang ijin edar alat kesehatan dan PKRT, jaket ini termasuk alat kelas III. Sebelum bisa dipakai oleh tenaga medis, alat kelas III harus mempunyai bukti klinis yang kokoh, di samping tentunya pembuatannya juga baik (good manufacturing practice).

Untuk mendapatkan bukti klinis tiada cara lain kecuali dengan penelitian. Penelitian untuk mendapatkan bukti klinis harus melalui pentahapan sesuai standar. Setiap tahapan juga mengandung metodologi ilmiah sesuai tujuan pembuktian.

Kaidah pembuktian bertahap ini merupakan prinsip pengembangan obat dan alat kesehatan yang dapat diterima oleh ilmu kedokteran. Pentahapan mencakup uji pra-klinik dan uji klinik.

Untuk alat kesehatan, tahapan pra-klinik mencakup disain alat, uji in-vitro, dan uji hewan coba.

Untuk obat mencakup identifikasi senyawa kandidat, uji in-vitro, dan uji hewan coba. Setelah ada bukti kuat secara kumulatif, barulah masuk uji klinik (uji pada manusia).

Uji klinik mencakup fase 1, 2 dan 3. Fase 1 untuk melihat efek obat atau alat pada tubuh manusia (keamanan); fase 2 untuk melihat khasiat awal; dan fase 3 untuk melihat efektivitas obat atau alat pada jumlah pasien yang lebih banyak. Bukti ilmiah kumulatif pra-klinik dan klinik inilah yang mengantar suatu obat atau alat untuk mendapatkan ijin edar dan bisa digunakan oleh tenaga kesehatan dalam pelayanan pengobatan. Secara umum, sampai mendapatkan ijin edar, akan memakan waktu untuk riset 10-15 tahun.

Konsorsium

Dalam inovasi obat dan alat kesehatan, pendekatan yang selama ini dianggap tepat adalah “triple helix”. Pendekatan ini menghimpun peneliti (akademisi), pemerintah (regulator), dan bisnis (industri farmasi) menjadi entitas yang bersinergi. Agar ketiga elemen ini menjadi entitas yang saling bersinergi, maka untuk mengawal inovasi ada baiknya dibentuk konsorsium yang melibatkan peneliti (akademisi), lembaga otoritas (Kemenkes dan Kemenristekdikti) dan bisnis (Industri Farmasi dan Alat Kesehatan).

Dalam dunia pengembangan obat atau alat kesehatan modern terdapat dua wilayah dengan demarkasi yang jelas. Dua demarkasi tersebut adalah wilayah pra-klinik dan wilayah klinik. Penelitian pada wilayah pra-klinik adalah berkaitan dengan ilmu dasar.

Dengan demikian, riset wilayah pra-klinik membutuhkan kepakaran ilmu biologi, patologi, fisika medik, onkologi, farmasi, farmakologi, dan sejenisnya. Sementara penelitian wilayah klinik, mau tidak mau harus melibatkan tenaga medis (dokter) sesuai dengan bidang keahliannya (spesialisasinya).

Banyak contoh bagaimana mengawal inovasi teknologi kesehatan secara baik. Untuk obat anti kanker, penemuan Paclitaxel (Taxol) adalah contoh yang baik. Paclitaxel adalah obat kemoterapi untuk kanker payudara, indung telur, paru, juga sarkoma Kaposi. Bahan aktif ini diisolasi dari tanaman sejenis pinus (Taxus brevifolia) di pantai timur Amerika Serikat.

Sejarah pengembangan Taxol menunjukkan sinergisme yang bagus antara peneliti ilmu tumbuhan dari U.S. Department Agriculture, peneliti kanker dari National Cancer Insitute di bawah NIH, dan industri farmasi Bristol-Myers Squibb (BMS). Senyawa kandidat anti kanker ini ditemukan oleh sarjana pertanian, kemudian dilakukan riset pra-klinik oleh lembaga riset kanker, dan setelah menjadi prototipe dikembangkan oleh industri farmasi melalui tahapan uji klinik yang baik.

Contoh lain adalah saudara kembar temuan Warsito, yakni Tumor Treating Field (TTF) yang dikembangkan oleh perusahaan Novocure. Alat TTF yang dikembangkan Novocure juga menggunakan medan listrik statis. Bedanya, jaket Warsito tidak menempel di kulit, alat TTF menempel di kulit. Pada awalnya alat TTF juga dikembangkan oleh seorang ahli fisika. Kemudian setelah melihat ada potensi sebagai modalitas terapi kanker, dilakukanlah uji klinik dengan menggandeng para dokter di bidangnya. Bahkan, Novo-TTF-100 sudah mendapatkan persetujuan FDA untuk Glioblastoma Multiforme.

Dari apa yang telah diuraikan, pointers berikut harus menjadi pemahaman bersama. Pertama, praktik kedokteran pada dasarnya menggunakan modalitas terapi yang sudah mempunyai bukti klinis (evidence based medicine). Kedua, lembaga otoritas (Badan POM, Ditjen Faralkes) akan memberikan ijin edar obat atau alat kesehatan setelah ada bukti ilmiah kumulatif yang kuat. Ketiga, untuk pengembangan obat dan alat kesehatan modern harus melalui tahapan riset yang kokoh. Agar kesemuanya itu berjalan dengan baik, maka perlu komitmen dan sinergi lintas pemangku kepentingan. Semoga ke depan semakin sinergi.


*Dr. Siswanto, MHP, DTM, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemenkes RI

Jakarta, 3 Maret 2016

Di Indonesia, kematian bayi baru lahir (neonatal) masih menjadi permasalahan kesehatan. Angka kematian bayi di Indonesia adalah 32/1000 kelahiran hidup dan kematian neonatal 19/1000 kelahiran hidup (SDKI, 2012) . Saat ini, kelainan bawaan mempunyai kontribusi yang cukup besar sebagai penyebab kematian neonatal.

 

Data laporan Riskesdas tahun 2007 menyatakan bahwa sebesar 1,4% bayi baru lahir usia 0-6 hari pertama kelahiran dan 18,1% bayi baru lahir usia 7-28 hari meninggal disebabkan karena kelainan bawaan. Data WHO SEARO tahun 2010 memperkirakan prevalensi kelainan bawaan di Indonesia adalah 59.3 per 1000 kelahiran hidup. Jika setiap tahun lahir 5 juta bayi di Indonesia, maka akan ada sekitar 295.000 kasus kelainan bawaan pertahun.

 

Demikian pernyataan Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes RI, dr. Eni Gustina, MPH dalam suratnya kepada Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Selasa (2/3).

 

“Di samping menyebabkan kematian neonatal, kelainan bawaan juga merupakan penyebab bayi lahir mati dan abortus spontan. Bila pun bayi bertahan hidup, banyak diantaranya yang menjadi penyandang disabilitas dan mengidap penyakit kronis”, jelas dr. Eni Gustina.

 

Kementerian Kesehatan RI telah melakukan surveilans sentinel bersama 13 RS terpilih di 9 provinsi sejak September 2014. Terdapat 15 jenis kelainan bawaan yang disurveilans dengan kriteria antara lain kelainan bawaan yang dapat dicegah, mudah dideteksi dan dapat dikoreksi (preventable, detecteble dan correctable) dan merupakan masalah kesehatan masyarakat. Dari data tersebut, terdapat 231 bayi mengalami kelainan bawaan. Sebagian besar lahir dengan 1 jenis kelainan bawaan (87%) dan ditemukan pula bayi lahir dengan > 1 jenis kelainan bawaan (13%). Kelainan bawaan yang paling banyak ditemukan adalah dari kelompok sistem muskulo skeletal (talipes equinovarus) 22,3%, sistem saraf (anenchepali, spina bifida dan meningochele) 22%, celah bibir dan langit-langit 18,5% dan omphalocele 12,5%.

 

Walaupun penyebab utama kelainan kongenital adalah  faktor genetik, infeksi dan faktor lingkungan, namun sebenarnya banyak dari kelainan tersebut dapat dicegah, misalnya melalui vaksinasi dan konsumsi zat tertentu, seperti asam folat dan iodium, menghindari mengkonsumsi obat yang tidak direkomendasikan oleh dokter, alkohol atau zat berbahaya seperti pengawet dan pewarna buatan, hindari terpapar dari bahan berbahaya dan beracun seperti timbal, merkuri dan pestisida, beraktivitas fisik/olahraga yang teratur, dan menghindari asap rokok selama kehamilan.

 

Permasalahan kelainan bawaan harus mendapatkan perhatian khusus. Berdasarkan latar belakang tersebut, tanggal 3 Maret setiap tahun diperingati sebagai Hari Kelainan Bawaan Sedunia atau World Birth Defect Day. Di tahun kedua peringatan tersebut di Indonesia, mengusung tema ”Cegah Bayi Lahir Cacat dengan Terapkan Pola Hidup Sehat Sebelum dan Selama Kehamilan”. “Pelayanan antenatal yang terpadu dan berkualitas memberikan kesempatan untuk melakukan upaya pencegahan”, tandas dr. Eni Gustina.

 

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline (kode lokal) 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email [email protected].

Fenomena gerhana matahari total yang terjadi hari ini menyedot perhatian sebagian besar masyarakat Indonesia. Bahkan daerah dengan lokasi terbaik untuk menikmati gerhana mengemas fenomena ini menjadi wisata. Peristiwa langka ini terjadi akibat bulan berada tepat diantara bumi dan matahari, sehingga matahari terhalang oleh bulan dan bayangannya jika dilihat dari bumi.

 

Saat gerhana matahari total berlangsung, mata relatif aman melihat kearah matahari, tetapi melihat matahari sebelum dan segera setelah gerhana mencapai fase total, sangat berbahaya dan dapat mengakibatkan kerusakan retina. Demikian disampaikan Dr. dr. Lutfah Rif’ati, Sp.M, peneliti Badan Litbangkes yang juga berprofesi sebagai dokter mata.

 

Saat terjadi gerhana, matahari memancarkan radiasi inframerah yang memberikan efek panas pada mata; radiasi ultraviolet (UV), dan blue light (cahaya biru) yang berlebihan. Efek panas inframerah terjadi seperti ketika kita fokuskan matahari dengan lensa pembesar diatas kertas. Seperti kertas, mata kita pun dapat terbakar jika melihat cahaya matahari menggunakan alat bantu yang tidak tepat, tutur Lutfah.

 

Lebih lanjut Lutfah mengungkap, risiko yang paling sedikit dipahami dengan baik adalah dampak dari radiasi cahaya biru, yang terlibat dalam kerusakan biokimia pada sel reseptor dan lingkungannya dalam jaringan saraf sensitif mata. Terlalu banyak terpapar cahaya biru, terlalu banyak radiasi sinar UV, dan terlalu banyak radiasi panas inframerah dari matahari dapat menimbulkan kerusakan mata yang tidak dapat dipulihkan.

 

Lutfah berpesan, paling aman melihat gerhana matahari total adalah dari pantulan bayangan gerhana matahari melalui permukaan air, tetapi ada pula yang menyatakan melihat pantulan dari permukaan air masih berbahaya untuk mata. Jika tetap ingin melihat langsung gerhana matahari, hanya pada fase total, saat seluruh sinar matahari tertutup bayangan bulan. Menatap langsung gerhana matahari sebelum dan sesudah fase total tanpa alat pelindung mata, sangat berbahaya, pungkasnya. (DW)

Oleh: Siswanto*

Dalam kesehatan ada adagium “kesehatan bukanlah segalanya, namun segalanya tanpa kesehatan bukanlah apa-apa”. Health is not everything, but everything without health is nothing.

Kiranya adagium di atas sangat tepat, bila dikaitkan dengan paradigma sehat. Yakni bahwa mempertahankan tetap sehat melalui perilaku hidup sehat lebih penting dan bermakna dari pada mengobati setelah jatuh sakit.

Hari ini tanggal 10 Maret diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Ginjal Sedunia (HGS) (World Kidney Day). HGS digagas oleh the International Society of Nephrology (ISN) dan the International Federation of Kidney Foundations (IFKF) sejak tahun 2006. Pada peringatan HGS, kita semua diperingatkan tentang pentingnya organ ginjal sebagai salah satu organ ekskresi. Organ ginjal sangat vital dalam mempertahankan fungsi tubuh secara keseluruhan (homeostasis). Oleh karena itu, memelihara kesehatan ginjal merupakan sesuatu yang penting.

Peringatan HGS mempunyai misi untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya organ ginjal terhadap kesehatan tubuh manusia dan mengurangi kejadian penyakit ginjal di seluruh dunia. Secara spesifik mempunyai tujuan (1) meningkatkan kesadaran faktor risiko penyakit ginjal kronis (PGK), (2) meningkatkan kesadaran deteksi dini PGK, (3) membudayakan perilaku pencegahan, dan (4) meningkatkan peran tenaga kesehatan dalam deteksi dini dan pengurangan faktor risiko.

Diagnosis PGK ditentukan oleh laju filtrasi glomerulus (GFR). PGK terbagi dalam lima stadium, mulai stadium 1 sampai dengan stadium 5. Stadium 5, sebagai stadium terakhir, apabila GFR kurang dari 15 ml per menit. Stadium inilah yang disebut dengan gagal ginjal (renal failure) yang harus ditolong dengan hemodialisis (cuci darah).

Ginjal, sebagai organ tubuh untuk ekskresi, berfungsi untuk membuang sampah metabolisme, menjaga keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit, serta membuat hormon untuk pengaturan tekanan darah dan pembentukan sel darah merah. Agar tubuh tetap berfungsi dengan optimal, orang dengan gagal ginjal harus menjalani hemodialisis sebagai substitusi dari ginjal yang telah rusak.

Data Riskesdas 2013 menunjukan angka kejadian PGK di Indonesia pada usia ≥ 15 tahun sebesar 0,25%. Penderita di pedesaan (0,3%) lebih banyak daripada di perkotaan (0,2%). Jumlah penderita diperkirakan akan semakin bertambah karena tingginya prevalensi hipertensi dan diabetes di Indonesia. Penanganan PGK di Indonesia sudah dijamin oleh program JKN melalui BPJS. Pembiayaan PGK tersebut saat ini menempati urutan nomor dua dalam penyerapan klaim BPJS.

Beban biaya hemodialisis terhadap penderita PGK cukup besar. Taruhlah sekali hemodialisis sebesar Rp. 982.600,- (klaim BPJS). Biaya hemodialisis per bulan (dengan 3 kali hemodialisis per minggu) akan diperoleh angka Rp. 11.791.200,- Dalam setahun akan diperoleh angka sebesar Rp. 141.494.400,- Ini tentunya belum termasuk biaya out-of-pocket yang tidak dijamin oleh BPJS. Belum lagi biaya tidak langsung (indirect cost), akibat sakit. Biaya tidak langsung mencakup produktivitas yang hilang oleh si sakit dan juga oleh anggota keluarga yang merawat. Kalau biaya langsung (biaya perawatan) dan biaya tidak langsung dijumlahkan tentunya kerugian ekonomi akan cukup besar.

Di pihak lain, sesungguhnya PGK bisa dicegah dan dihindari dengan mencegah faktor risiko terjadinya PGK. Pelbagai faktor risiko terjadinya PGK adalah mulai dari perilaku, diet, dan kejadian penyakit yang menimbulkan komplikasi pada ginjal.

 

Memelihara kesehatan ginjal

Ginjal sebagai organ vital harus dipelihara agar tetap sehat. Berikut adalah beberapa tips untuk memelihara kesehatan ginjal. Pertama, cukupi kebutuhan cairan tubuh dengan minum air. Secara umum kebutuhan air adalah sekitar 2 liter. Apabila diasumsikan buah, sayur, sup, dan lain-lain, menyumbangkan 500 ml air, maka kebutuhan minum air adalah sekitar 1,5 liter. Tentu, kebutuhan ini bersifat relatif tergantung aktivitas seseorang. Bila banyak berkeringat tentu kebutuhan air meningkat.

Kedua, mengonsumsi makanan yang sehat. Makan makanan yang sehat, misal dengan memperbanyak buah dan sayur, akan memelihara kesehatan ginjal. Hindari makan terlalu banyak lemak dan makanan yang mengandung purin (jerohan). Lemak tidak jenuh akan menimbulkan penebalan pembuluh darah, yang ujungnya menyebabkan hipertensi. Makanan banyak mengandung purin akan meningkatkan asam urat, yang bisa mengganggu fungsi ginjal.

Ketiga, lakukan olah raga teratur. Olah raga teratur akan mempertahankan berat badan ideal dan menurunkan tekanan darah. Dengan berat badan ideal dan tensi yang normal akan menyehatkan ginjal.

Keempat, hati-hati dengan suplemen dan jamu yang mengandung bahan kimia obat. Beberapa suplemen mengandung asam amino yang tinggi. Asam amino yang tinggi tentu akan membebani ginjal. Konsumsilah suplemen sesuai dengan aturan pakai yang tertera pada kemasan. Jamu yang dicampuri dengan bahan kimia obat juga berbahaya untuk kesehatan ginjal. Bahan kimia obat yang dicampurkan sering tidak jelas dosisnya. Dan, tindakan semacam ini melanggar aturan Badan POM.

Kelima, berhentilah merokok. Zat-zat toksik dalam rokok dapat merusak pembuluh darah, yang ujungnya dapat menyebabkan hipertensi. Naiknya tekanan darah dapat menyebabkan terganggunya fungsi ginjal. Itulah sebabnya, hipertensi merupakan faktor risiko terjadinya PGK.

Keenam, jangan terlalu berlebihan konsumsi obat penghilang rasa nyeri. Konsumsi obat penghilang rasa nyeri (NSAID) yang terus menerus dalam jangka lama bisa merusak ginjal (nephrotoksik). Sebaiknya penggunaan NSAID yang lama harus berkonsultasi dengan dokter.

Ketujuh, jika menderita hipertensi atau kencing manis, maka harus dipantau fungsi ginjalnya secara berkala. Biasanya dokter yang merawat akan memantau fungsi ginjal (Renal Function Test) secara berkala. Perlu diketahui bahwa salah satu komplikasi kencing manis adalah diabetic nephropathy (kerusakan ginjal akibat diabetes).

Masyarakat luas harus mendapatkan pemahaman yang utuh dan holistik terkait dengan berbagai upaya pencegahan untuk mempertahankan ginjal tetap sehat. Adagium bahwa mencegah lebih baik dari pada mengobati adalah sangat tepat untuk mempertahankan kesehatan ginjal. Teknologi kedokteran memang selalu berkembang dalam memberikan solusi pengobatan. Namun, harus diingat bahwa teknologi sering kali beriringan dengan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan. Dalam hal ini termasuk teknologi hemodialisis (cuci darah). Semoga masyarakat semakin sadar tentang pentingnya menjaga kesehatan ginjal.*)

 

[*] Dr. Siswanto, MHP, DTM. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemenkes RI