Hari: 8 November 2023

Madinah, 08 Agustus 2017

oleh: Prawito

Perjalanan darat, dengan jalan mulus dan lurus, akan sangat menguras energi, karena monoton. Apalagi harus di batasi dengan kecematan tidak boleh lebih dari 120 km/ jam. Kalau lebih akan terpotret kamera pengintai yang ada disepanjang jalan track Madinah-Mekkah atau sebaliknya.

Mereka yang terkena potret kamera akan dikenakan denda yang lumayan besar, minimal 300 royal, apalagi untuk seorang pengemudi yang tak seberapa gajinya. “Sungguh Memberatkan”, kata Muklis pengemudi yang pernah mengantar evakuasi pasien ke Mekkah dari Madinah.

Nah, untuk mengurangi kejenuhan dalam mengemudikan kendaraan track Madinah-Mekkah, ada sebuah lembah gurun batu hitam, terdapat sekawanan kera yang siap menghibur pengendara.

Mereka bisa menari dan jungkir balik di atas kap mobil tanpa alunan gamelan seperti di tanah air. Cukup mereka beri makanan seperti kacang atau biji bijian sejenis. Mereka akan saling berebut dan berteriak teriak, membuat penumpang dalam mobil ketakutan.

Begitu ketakutan, maka pelupuk mata sudah pulih dan membuka sempurna, perjalanan dapat dilanjutkan kembali, karena kantuk sudah hilang melihat tarian maut kera berebut kacang pemberian manusia. Selamat menikmati perjalanan, semoga selamat sampai tujuan.

Sekawanan kera itu tampak gemuk gemuk, padahal tak ada tumbuhan dan buah buahan disekitar yang menjadi bahan makanan sehari hari. Itulah karunia Allah yang menjamin rezeki semua mahluknya.

Mereka kelihatanya juga berkembang biak dan beranak pinak, karena terdapat pejantan dan induk betina, beserta anak cucunya. Kompak menikmati panasnya sahara. Mereka bercanda, senda gurau, dan berbagi suka duka, layaknya manusia. Bersambung,…..

oleh: Prawito

“Banyak sumber kekuatan, namun tak satupun yang bisa menandingi keikhlasan”

“Ini kerjaan kok tak ada selesainya….”

“Tiap hari penyuluhan, periksa pasien, beri obat, menyuapi makan.., terkadang baru mau tidur, sudah panggil lagi, panggil lagi.

Ada saja jemaah yang tersesat, ngak ada habisnya, terus dari pagi sampai pagi lagi..

Semua petugas tak ada waktu libur, termasuk hari jumat, sabtu dan ahad, cuma on call dan harus siap setiap waktu dibutuhkan….

“Butuh libur, butuh piknik, butuh me-time, butuh rehat sejenaaak saja…” Pekerjaan seorang petugas nampak terus, terus berlanjut, tak berkesudahan…

Menanti, sehari, 2 hari, sepekan, 2 pekan, terasa lamaaa…, hingga masa akhir kontrak.

Masih ingat kisah Siti Hajar ?
Ibunda Nabi Ismail ‘alayhi salam ini berlari bolak balik dari Shofa ke Marwah sampai 7 kali. Berharap di padang gurun yang gersang itu barangkali ada air untuk bayinya yang sedang haus.

Ketemukah airnya? Tidak.

Tetapi lari-larinya Hajar yang kelihatannya “sia-sia” itu ternyata menjadi asbab ridhoNya Allah sehingga memancarlah air zamzam yang sampai sekarang tak pernah surut justru dari jejakan kaki bayi Ismail.

Sia-siakah yang dilakukan sang Ibu? Tidak sama sekali ternyata.

Pekerjaan ibu, menyusui, memandikan, ganti popok, menyuapi, and so on.. Memasak, menyapu, mengepel, mencuci, and so on buat yang ga ada ART..

Semua tetek bengek itu seakan terlihat tidak gemerlap, tidak keren, tidak ngeksis. Seakan sia-sia, ga ada hasil. Tapi yang berlelah-lelah itu, bisa jadi asbab ridho Allah…

Bisa jadi yang mengantarkan ke Jannah…

Tidak terlihat mulia dihadapan penduduk bumi tetapi bisa jadi membahana seantero ‘penduduk langit’. Bukankah itu yang lebih penting ?

Bukankah doa ibunda mustajab tanpa penghalang dariNya ?

Demikian pula petugas haji, mari kita seperti ibu, yang sedang menyiapkan segala kebutuhan jemaah haji, semoga menjadi haji yang mabrur.

Tidak ada balasan bagi haji yang mabrur, kecuali surga. Semoga setiap pekerjaan melayani jemaah, bisa jadi asbab masuk dalam surgaNya,

Semoga setiap uluran tangan, sekecil apapun yang mengalir kepada jemaah haji, ini mengalir pula ampunan dariNya,

Semoga setiap tindakan kesehatan yang mengalir kepada jemaah haji, sekecil apapun akan mengalirkan barakah dariNya,

Semoga setiap suapan makanan, yang masuk dan menguatkan tubuh jemaah haji, mengalirkan kelapangan hati dariNya,

Semoga setiap doa untuk kesehatan dan kemabruran jemaah haji, mengalirkan optimesme dariNya,

Bukankah, setiap jemaah haji akan berdoa di raudah dan multazam ? Doa yang akan di ijabah olehNya.

Maka..
Mari buat malaikat Raqib sibuk luar biasa mencatat kebaikan-kebaikan yang kita upayakan untuk jemaah haji.

Boleh jadi, ini kesempatan terakhir untuk melayani jemaah haji, entah karena takdir atau ajal telah menjemputnya, mari berikan layanan terbaik yang kita punya.

Memang, melayani jemaah haji, kalau baik, sudah seharusnya, tapi kalau salah dan khilaf, caci maki luar biasa…

Ikhlas, satu satunya kekuatan yang dapat memaksimalkan pelayanan, dan
Allah sebaik-baiknya pemberi balasan.
Wallahu’alam. Bersambung….

Makkah, 25 Agustus 2017

Siapapun, tak terkecuali, direktur utama, dokter, perawat, bidan, sampai sopir dan petugas kebersihan harus mampu menggunakan alat pemadam kebakaran. Sebab, kebakaran tak dapat di duga kapan akan terjadi dan siapa saja yang saat itu berdekatan dengan alat pemadam kebakaran.

Demikian penjelasan Dirut RS Darmais, Prof. Kadir, di Lantai atas Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), seusai melakukan senam pagi bagi petugas kesehatan haji, 25 Agustus 2017, di Makkah.

Lebih lanjut, Prof. Kadir menjelaskan, periksa dulu alat pemadam kebakaran itu, bila warna hijau, berarti bagus, kalau merah berarti kadaluarsa.

Selanjutnya, tarik kawat pengikat, arahkan selang ke arah api, tekan pegas dan semprotkan ke arah api yang membakar gedung atau rumah sakit. Jangan gunakan alat pemadam kebakaran berlawanan dengan arah angin.

Berikutnya, beberapa peserta berlatih memperagakan penggunaan alat pemadam kebakaran, agar lebih paham pengguaanya, bila terjadi kebakaran. Kemudian giliran dr. Nevy Shinta, Sp.P memperagakan alat pemadam kebakaran.

Dia mengikuti panduan penggunaan TATS, tarik, arahkan selang, tekan dan semprotkan ke kobaran api yang membara. “Nah, bagaimana cara padamkan api Asmara”, tanya dr. Nevy. Mendengar pertanyaan tersebut, seluruh peserta dan nara sumber merespon dengan tertawa.

 

 

09 Agustus 2017

oleh: Prawito

Kejar dead line, terkadàng bisa membuat kita kreatif menuntaskan pekerjaan. Banyak ide muncul seketika yang aplikatif dan solitif tak terduga. Hanya saja tak semua orang mampu mencermati dan menghayati setiap peristiwa kreatif itu sebagai solusi.

Nah, suatu pagi yang full aktivitas pribadi, tim kecil dan tim besar berbarengan dan terkadang beririsan. Bila tak mampu mengatur secara lahir dan batin akan terjadi tubrukan perasaan dan pikiran. Akibatnya stress dan marah marah ngak karuan.

Setelah subuh kamar 412 KKHI Makkah sudah berdenyut sejak sebelum azan subuh berkumandang. Disana ada penghuni bernama wito, latu, nana dan suri. Nama ke tiga dan ke empat juga berkelamin sama, pria semua.

Solu, Solu, Solu, kata saya. Sudah kesepakatan untuk membangunkan shalat subuh. Agar tak tertidur lagi, ucapan solu diiringi dengan pukulan lembut pada kaki, sehingga seluruh penghuni segera bangun untuk shalat.

Semua bergegas menuju masjid shalat subuh berjamaah. Setelah itu ada yang berbaring, bikin teh manis, bikin laporan, tapi saya pilih mencuci pakaian, karena sudah merendam sejak tengah malam sebelum tidur.

Semua penghuni KKHI Makkah yang berjumlah ratusan orang itu punya jenis pakaian yang sama, karena diseragamkan. Atasan putih dan bawahan hitam dengan model yang sama pula.

Maklum seragam, yang membedakan hanya ukuran besar kecil dan nama pada masing masing pakaian. Kalau tak ada nama, pastinya banyak akan tertukar, apalagi ukuran besarnya sama. Bisa salah bawa, salah pakai dan salah cuci, he he he…

Untuk salah cuci, kok bisa, begimana ceritanya, disinilah letak uniknya sebuah cerita. Yang kelihatannya aneh, tapi nyata. Nah, lho….

Setelah merasa punya simpanan rendaman cucian, setelah subuh langsung kamar mandi mencuci. Satu persatu pakaian dikeluarkan dari ember langsung sikat, tak curiga pakaian siapa. Maklum, waktu mencuci tak gunakan kaca mata. Jadi tak mampu baca nama baju siapa yang di cuci. Sekilas info Plus 2.5

Kebetulan, dalam kamar mandi ada dua ember rendeman. Menjelang akhir menyikat seluruh pakaian dalam ember tersebut, terangkat celana panjang putih. Nah, kok celana panjang putih ada dalam ember ? Wah jelas salah cuci pakaian dalam ember. Ternyata, pakaian satu ember penuh, yang saya cuci itu punya Latu.

Tanggung, pikir saya. Akhirnya pakaian Latu saya selesaikan sampai tuntas, baru menyelesaikan satu ember lagi punyanya sendiri. Semoga Latu, berkenan pakaiannya tercuci . Selanjutnya, tinggal menjemurnya. Batin, saya.

Karena saya akan segera pergi melakukan penyuluhan kesehatan haji di sektor 5, apalagi sudah ada berita lewat wa di tunggu di P1 jam 08.00. Saat ini sudah pukul 08.10.

Saya bilang, Bang Latu itu rendeman sudah terlanjur kecuci, salah cuci, silahkan jemur sendiri, saya buru buru, sudah ditunggu jemputan. Siap,…terima kasih, katanya setengah sadar. Maklum nyawanya belum kumpul baru bangun.

Saya salah mencuci pakaian Bang Latu. Apakah saya salah ? Bisa ya, bisa tidak. Tapi, saya pribadi pilih tidak menyalahkan. Karena menyalahkan itu mudah, apalagi menyalahan orang lain, tapi mencari hikmah dibalik peristiwa itu lebih susah. Sekalipun susah, tetap carilah hikmah itu.

Saya mencoba mencari hikmah mengapa salah cuci pakaian. Mungkin itu cara Allah mengajari saya, bagaimana berbuat baik dengan teman dan saudaranya sendiri satu kamar.

Jujur, sebelumnya tak ada rencana, keinginan untuk mencucikan pakaian Bang Latu. Ternyata Allah ajarkan dengan cara itu, salah cuci.

Ah, sudah terlalu panjang, capek ngetiknya, apalagi cuma pakai gadget, salah typo, maaf ya..
Oh, ya..cucian tadi sudah kering, angkat dulu, takut terlalu kering, maklum Saudi terlalu panas untuk mengeringkan jemuran pakaian. Bersambung….

30 Agustus 2017

oleh: Prawito

Minum, minum dan minum. Judul di atas harus saya ulang ulang, dengan cerita dan kasus yang berbeda. Cerita teori dan pengalaman langsung silih berganti, agar dapat memberi pemahanan sepaham pahamnya tentang bahaya dehidrasi, kekurangan cairan tubuh, khususnya kepada jemaah dan petugas haji.

Teori boleh jadi di luar kepala, tapi dalam praktek belum tentu sepaham berteori, terutama ketika di alam terbuka di Arab Saudi, seperti arafah, musdalifah dan mina. Sungguh sangat berbeda dengan dalam ruang tertutup, seperti waktu masih di pondokan atau hotel.

29 Agustus 2017, setelah seharian menyiapkan klinik berbasis tenda di Mina, kebetulan saya mendapat amanah sebagai koordinator. 24 jam berjibaku untuk menyulap tenda jadi klinik. 70 pasukan di kerahkan untuk itu. Alhamdulillah pukul 17.00 waktu setempat selesai.

Tengah hari pukul 14.00 kepala saya mulai sakit, mata ngantuk dan badan lemas. Mungkin lapar, pikir saya waktu itu, karena makan siang baru pukul 14.00. Albaik, menu makan siang hari itu. Karena kepala sakit, saya harus habiskan. Alhamdulillah habis, padahal 4 potong ayam besar, kentang goreng dan sepotong roti.

Tentu saya juga minum setiap saat, apalagi setelah makan, bahkan 2 botol air mineral langsung habis. Saya pikir sudah cukup asukan gizi dan air. Tapi belum sembuh betul sakit kepalanya, namun sudah berkurang. Kemudian saya tidurkan sebentar dalam tenda klinik, ternyata tambah sakit kepalanya, padahal ukuran minum menurut saya sudah berlebih.

Singkat cerita sampai pondokan di KKHI Makkah, sakit kepala tambah parah, padahal kerokan, makan dan minum sudah dilakukan. Tengah malam tambah sakit, sementara pukul 03.00 sudah harus siap melakukan perjalanan ke arafah.

Alarm, sudah bunyi pukul 02.30, bagun dengan kepala sakit. Ingat pesan Ahmad Mohune, ketika setelah selesai ngerokin “banyak minum”,katanya. Setelah itu saya minum obat panadol dan 1 botol mineral 350 ml, habis tapi masih sakit juga kepala.

Akhirnya dalam waktu 30 menit sampai pukul 03.00 saya telah menghabiskan 5 botol mineral. Alhamdulillah, tepat pukul 03.00 sakit kepala, atas Izin Allah hilang, sembuh total. Kemudian berkemas menuju Arafah, bus sudah menunggu di depan kantor KKHI.

Belajar dari pengalaman di atas, kebutuhan minum seseorang bukan ditentukan jumlah liter yang di minum, tapi kalau masih sakit kepala, ngantuk dan lemas, berarti masih kurang cairan. Sekali lagi, ukuranya bukan haus, atau jumlah liter mineral yang telah diminum. Sebab setiap orang ukuranya berbeda beda dalam jumlah liter mineral yang harus diminum.

Tapi ukuranya, ketika masih ngantuk, lemas dan sakit kepala, maka teruslah minum, hingga lemas, ngantuk dan sakit kepala hilang atas Izin Allah SWT. Saat itu kebutuhan air dalam tubuh sudah terpenuhi. Berikutnya jaga kebutuhan air dalam tubuh, dengan cara terus minum, minum dan minum.

Tidak ada dampak negatif kelebihan minum, paling hanya sering buang air kecil. Memang armina juga tidak mudah buang air kecil, harus antri panjang untuk mendapatkanya. Tapi itu cara lebih baik untuk menjaga kesehatan. Minum kencing, minum kencing dan terus minum. Semoga tetap sehat. Bersambung….

9 Zulhijah 1438 H,

oleh: Prawito

Alhamdulillah, itulah kalimat yang terucap pertama kali bangun, 9 zulhijah hari Arafah, di tanah arafah. Badan terasa segar, sekalipun telat tidur dan pastinya kurang istirahat. Saya merenungi heroisme pelayanan kesehatan jemaah haji tadi malam. Semua kejadian itu masih terekam jelas dalam ingatan, yang akan saya ceritakan berikutnya.

Saya akan sampaikan puji syukur kepada Allah, setelah kejadian tumbangnya banyak jemaah haji karena kelelahan, sengatan panas dan heat stroke, tak terkecuali tenaga kesehatan, termasuk dokter, juga mengalami pengaruh sengatan panas.

Mereka adalah dr. Winansih, Sukri Ahmad (perawat) Sifa ( tim pendukung kesehatan) teman seperjuangan pos kesehatan 4 arafah, ikut tumbang. Mereka para korlap yang harus mendapat perawatan dengan infus beberapa jam untuk pemulihan.

Sebelum jarum infus menusuk tubuhnya, sudah saya bujuk untuk minum banyak banyak, sambil saya sodorkan 3-4 botol mineral, tapi tak semuanya masuk, tak sanggup mas, perutku kembung, bahkan mau muntah, kata dr Win.

Beberapa jam kemudian, dr. Win minta dicopot infusnya, badan sudah terasa lebih segar, katanya. Baru saja infus terlepas dari tangan dr.Win, terdengar suara keras “gubrak”persis belakang saya, begitu menoleh sifa terduduk bersandar tiang pintu pos. “Gelap, gelap,gelap”, katanya.

Langsung saya bertiga memapah Sifa ketempat tidur, kemudian dr.Win langsung tensi, kasih minum dan pasang infus untuk Sifa, persis perawat Eli menginfus dirinya. Begitulah suasana tolong menolong untuk saling menguatkan, mengingatkan dalam pelayanan.

Terakhir Sukri, setelah subuh temperatur tubuhnya meningkat tajam dan demam, air minum sudah tak sanggup masuk lagi, mual dan mau muntah, akhirnya jarum infus masuk, sebagai upaya pemulihan. Semoga ini kejadian terakhir tumbangnya tenaga kesehatan di pos 4, doa saya dalam hati.

Sifa, salah satu tim penghubung. Ia mampu berbahasa arab dengan baik, sehingga bisa menghubungkan yang terputus dengan muasasah. Mulai penambahan kipas, air mineral, es batu, lampu mati, makan malam, air panas dll, Sifa jagonya, termasuk mengerjakan rekamedis manual.

Ketika Sifa tumbang, pekerjaanya di hadle yang lain, termasuk menjadi penghubung. Saya mencoba ketemu petugas karena mineral habis. Karena ngak ngerti bahasa arab, petugas itu saya panggil ahmad, ahmad, ahmad…. Kemudian Ia datang, saya katakan moya habis, sambil saya tunjukan botol mineral kosong. Kemudian Dia segera ambil moya 2 krat berisi 40 botol dan batu es. Begitulah, kalau darurat bahasa tarsan pun jadi, yang penting maksud tersampaikan…!

Suasana saling mengingatkan, membantu dan berempati dalam melayani sangat terasa, sehingga seperti sebuah bangunan yang kokoh dalam pelayanan, Masya Allah, Tabarakallah…

Aku pingin kopi, kata dr. Al Ghazali, langsung dr.Win yang lebih tua membuatkan. Ia pergi ke dapur mencari air panas. Begitu juga urusan makanan, semua saling memberi, ya…memberi. semua berlomba untuk memberi apa yang bisa diberikan untuk sesama petugas dan jemaah..

Perenungan itu akhirnya berujung pada suatu titik, mungkin ini episode dari penggalan cerita hidup saya yang tak akan pernah terulang, baik waktu, tempat, pemeran utama, pemeran pembantu dan alur cerita.

Tentu akan sangat bijak, bila dalam heroisme cerita, kita dapat mengambil peran yang memberi manfaat untuk orang banyak, sekecil apapun peran itu. Karena peran kebaikan itu akan menjadi kenangan manis dalam cerita hidup yang akan terbawa ke tanah air, bahkan terbawa hingga akhirat.

Cerita harus berhenti disini dulu, karena kesempatan menulisnya pun ini sambil berdiri antrian toilet, kebelet buang air kecil. Dari belakang ada ibu ibu teriak, ngak tahan….sambil meringis, pegang perut, terlihat lebih kebelet dari saya. Silahkan bu duluan,…kata saya, walaupun ini bukan toilet wanita. Ternyata kaum pria lebih mampu memberi dari wanita, kata ibu itu.

Alhamdulillah, terima kasih pak, ternyata bapak bapak lebih perhatian dari toilet wanita, sama sekali mereka ngak peduli. Bersambung….

11 Zulhijah

oleh: Prawito

Seorang askar Arab atau polisi Arab terus tak henti hentinya, mengibaskan sepotong kardus kepada jemaah haji yang lewat disampingnya. Senyumnya terus merekah setiap jemaah haji lewat. Ia berusaha untuk terus memberi, walau hanya dengan seuntai senyum dan sapuan angin yang juga belum tentu sampai. Itulah yang ia kerjakan sepanjang piket di jalur terowongan mina. Untuk apa ya…Ia lakukan..?

Banyak askar yang berdiri dan duduk, membisu, terkadang tampak curiga, melihat kanan kiri, itu sebenarnya sudah cukup, syah untuk sebuah pekerjaan mendapat gaji, halal. Tapi askar ini melakukan hal yang berbeda dengan askar lain, walau hanya dengan sepotong kardus.

Untuk apa ya…pertanyaan di atas saya ulang lagi. Apakah askar lain tak menemukan kardus yang sama dengan askar ini ? Ada banyak kardus bertebaran disepanjang terowongan menuju jamarat, tapi yang lain tak melakukanya.

Untuk apa ya…pertanyaan saya ulang lagi. Apakah askar lain tak mampu mengibaskan kardus, kalau di timbang berat kardus itu hanya beberapa gram saja. Terlalu beratkah kardus itu untuk seorang askar yang tinggi besar dan kekar untuk mengibaskan ke arah jemaah ?

Mungkin, askar lain terlalu repot untuk sebuah kibasan kardus. Lagi pula untuk apa, toh terowongan sudah ada fasilitas kipas angin besar yang selalu hidup, mengapa harus repot repot dengan kardus, apalagi tak menambah insentif atau bonus ?

Mungkin, askar lain juga akan mengatakan, kibasan kardus kan tidak ada dalam standar operasinal prosedur, nanti salah lagi, melanggar SOP, kerjakan saja sesuai dengan standar yang ada, “disiplin”, begitu bisik dalam hatinya.

Mungkin, askar lain juga akan berfikir, itu hanya kegiatan iseng, main main saja, dari pada ngak ada yang dikerjakan, selain melihat dan memantau jemaah haji yang berlalu lalang di terowongan.

Mungkin askar pengibas kardus ini berpikir, apalagi ya, yang bisa saya perbuat, selain hanya menjadi penjaga yang berdiri dan duduk, sehingga lebih memberi manfaat orang lain, tanpa mengurangi tugas pokok sebagai pengamanan ? Ketemulah kardus.

Kardus, barang tak berguna yang sudah menjadi sampah, segera masuk kantong plastik petugas kebersihan yang juga berjaga disepanjang terowongan. Tapi kardus itu mampir dulu ketangan askar ini menjadi kipas untuk jemaah haji.

Sepotong kardus, ditangan askar ini menjadi manfaat, ratusan, bahkan ribuan jemaah haji tersenyum, berterima kasih. Walau kibasan anginnya tak menyentuh tubuhnya. Tapi gerakan tangan mengibaskan kardus dan senyuman itu, melebihi sapuan agin AC berklualitas tinggi bagi jemaah haji.

Banyangkan, kalau yang ditangan askar itu harta, jabatan, seperti apa manfaat yang akan diterima oleh jemaah haji ? Saya pun menjadi tertarik, berhenti sejenak mengambil gambar, berulang-ulang.

Setalah itu, saya tertegun dalam perjalanan padat di lorong jamarat itu. Lalu bagaimana denganku ? Adakah kardus kardus lain yang menyertai dalam urusan tugas kesehatan haji ini ? Apakah sudah mengeluh capek dan repot, dll, sehingga tak perlu dengan kardus seperti si askar itu ?

Saya yakin, apa yang dilakukan askar itu bukan untuk dirinya, pekerjaanya, apalagi puja puji pimpinan dan atasanya, atau sekedar ucapan terima kasih dari jemaah haji. TIDAK. Tapi Ia melakukan itu hanya untuk RobbNya.

Banyak pertanyaan untuk diri sendiri. Ya…Allah, Engkau Maha Tahu, setiap detik, detak jantung ini. Untuk apa waktu, harta, tenaga, pikiran dan kesempatan yang Engkau berikan. Beri kami kemampuan dan kesempatan memberdayakan diri untuk memberi sesama, walau hanya dengan sepotong kardus seperti askar itu. Bersambung…

03 September 2017

oleh: Prawito

Setiap hari antrian toilet panjang selalu terjadi, khususnya pada tenda mabit di Mina. Ada saja yang main salip dan potong antrian, sehingga ada yang merasa tidak nyaman, terutama mereka yang berada pada antrian berikutnya.

Tapi apa daya penyerobot itu terkadang orang tua, kakek yang sudah renta dan belum mengenal budaya antri. maklum banyak jemaah haji dari desa, kampung yang tidak pernah mengenal antri, karena memang tak pernah ada antrian.

Kampung, tak ada antri kendaraan, toilet, belanja, atau antrian lainnya. Semua berjalan lancar, alami dan sangat bersahabat. Berbeda dengan kehidupan kota besar, apalagi saat berhaji di Arab Saudi, semua serba antri.

Suatu pagi menjelang siang, antrian toilet terlihat lengang, hanya 1-2 saja antrianya. Ketika saya masuk toilet, baru buang air besar setengah porsi sudah ada yang ketuk pintu dari luar, sebentar belum selesai, kata saya dari dalam, padahal rencana mau sekalian mandi dan keramas rambut yang terasa sudah kumal.

Ketika mengguyur badan, sudah diketuk lagi. Akhirnya saya mengakhiri mandi hanya dengan sekali guyur tanpa sabunan, pakai baju dan celana, ikat pinggang pun belum dikancingkan. Begitu keluar, ternyata kakek, seorang kakek sambil pegang perut karena mules. Silahkan kek, lanjutkan…!

Selanjutnya saya keramas rambut dan sikat gigi dipancuran tempat wudhu sampai selesai. Kenapa keramasnya ngak waktu sekalian mandi tadi mas, jadi ngak mengganggu orang mau berwudhu ? tanya seorang jemaah. Tanpa menjawab, silahkan berwudhu pak, sambil saya minggir. Nasib…!

Mengapa harus pintu kamar mandi saya yang menjadi pilihan kakek untuk diketuk, sementara ada 25 pintu toilet lain. Ada apa ya..? Akh ini mungkin cara Allah untuk memberi ide tulisan kepada saya, Alhamdulillah, terima kasih ya kek, bisik saya dalam hati.

Di dunia ini, ada kegiatan paling penting dan mendesak yang tak dapat diwakilkan oleh siapapun. Sekalipun Ia punya kuasa, puluhan staf ahli dan banyak pembantu lain dalam berbagai disiplin ilmu. Tapi untuk urusan buang air besar, karena sudah kebelet, apalagi mules plus mencret, siapun Ia harus mengerjakannya sendiri.

Ini pekerjaan penting dan mendesak, sekiranya saat bersamaan ada panggilan bos atau atasan, yang super cito, pasti tetap akan dikalahkan, lebih mengutamakan lari menuju toilet. Tak peduli dengan pekerjaan yang lain, sepenting dan semendesak apapun. Sama halnya dengan si kakek tadi.

Jadi kalau hanya mandi, keramas dan sikat gigi, itu urusan remeh temeh yang harus mengalah dengan agenda besar yang tak bisa diwakilkan. Harus dikerjakan menit, bahkan detik itu juga, tak bisa ditunda. Wajar kalau kakek harus nekat mengetuk pintu berulang, ngak peduli kalau yang didalam juga baru setengah porsi.

Tak perlu marah, apalagi kesel dan ngomel. Bayangkan kalau kita menjadi kakek itu, pastinya akan melakukan hal yang sama. Tak peduli siapa didalam sedang pada episode apa, ngak peduli, ketuk, segera keluar, gantian, sudah diujung pintu, tinggal jebolnya saja. Maka, berilah kesempatan.

Suatu saat, kita akan sampai pada suatu masa, dimana semua orang mempersilahkan untuk mendahului. Mereka rela berhenti, minggir dan mepersilahkan kita mendahului. Kapan itu ? Ketika sudah ada ketukan pintu sakaratul maut, bukan sekedar pintu toilet lagi. Bersambung…

Makkah, 8 September 2017

Malam menjelang Subuh, Hafiz Quran asal Indonesia, Ahmad (19) sedang sibuk bersama temannya merapikan dokumen pasien di ruang IGD Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah. Ia merupakan salah satu tim pendukung kesehatan (TPK) yang berkuliah di Universitas Arab di Jeddah.

Ahmad mengaku bahagia setiap usai membaca Quran, dan kebahagian itu bukan hanya miliknya, tapi juga milik orang lain yang mendengar suara tilawahnya.

Salah seorang jemaah aktif di musala KKHI, Salman, mengatakan memang suara Ahmad bagus dan membuat dirinya bahagia.

” Ahmad ini tilawahnya bagus sekali, aku bahagia kala mendengarnya,” kata Salman, Jumat (8/9) di Makkah.

Ahmad yang bercita-cita ingin menghafizkan keluarga, terutama adiknya ini sedang bekerja di bagian rekam medik KKHI Makkah selama musim haji ini. Dirinya juga ditunjuk sebagai imam tetap musala KKHI berkat kemampuan tilawah dan hafiz Qurannya.

Menurut pengalamannya, untuk menjadi penghafal Quran, harus mempunyai keinginan yang kuat untuk menghafal, kedua para guru dan ustaz memberi dorongan yang kuat untuk menghafal dan terakhir, dirinya selalu mengikuti itikaf Quran setiap bulan Ramadhan. Selain itu, ia pun bercita-cita ingin menjadi seorang ahli hadis.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, dan alamat email [email protected].

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat

drg. Oscar Primadi, MPH

Pangandaran, 8 September 2017

Pada tanggal 8 September 2017, bertempat di Ruang Teater Nyamuk, Loka Litbang P2B2 Pangandaran telah di-launching “Wisata Ilmiah/ Wisata Edukasi Penyakit Tular Nyamuk”. Pada kesempatan tersebut telah hadir Kepala Badan Litbang Kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran, Perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Pangandaran, Perhimpunan Pemandu Wisata Kabupaten Pangandaran, dan pemangku kepentingan terkait pariwisata di Kabupaten Pangandaran.

Kepala Loka Litbang Lukman Hakim, SKM, M.Epid, dalam laporannya menyampaikan bahwa Loka Litbang P2B2 Pangandaran pada awalnya adalah Stasiun Lapangan Pengendalian Vektor (SLPV) yang didirikan sejak tahun 1999. Kemudian berkembang menjadi Loka Litbang P2B2 yang bernaung di bawah Badan Litbang Kesehatan. Selanjutnya, dalam rangka memasyarakatkan hasil-hasil penelitian kepada publik, dibangunlah “Teater Nyamuk” dan “Museum Nyamuk”. Melalui produk audiovisual yang diputar di Teater Nyamuk, serta koleksi panel-panel di Museum Nyamuk, yang menampilkan jenis-jenis nyamuk, siklus hidup nyamuk, dan penyakit yang dapat ditularkannya, pengunjung wisata ilmiah dapat melihat dan memahami peranan nyamuk dalam menularkan penyakit. Tidak hanya itu saja, namun juga bagaimana melakukan pencegahan dan penanggulangan penyakit melalui pengendalian nyamuk sebagai vektor penyakit.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran, Drg. Yani Ahmad Marzuki, M.Kes dalam sambutannya mengatakan bahwa beliau menyambut baik tentang ide menjadikan Loka Litbang P2B2 Pangandaran menjadi bagian dari simpul pariwisata (khususnya wisata ilmiah/ wisata edukasi) di Kabupaten Pangandaran. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa pengembangan wisata ilmiah ini sesuai dengan visi Kabupaten Pangandaran untuk menjadi pariwisata kelas dunia.

Selanjutnya Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Dr. Siswanto, MHP, DTM dalam sambutan dan arahannya, menyampaikan bahwa nyamuk menjadi hewan yang sangat penting kedudukannya dalam menularkan penyakit pada manusia. Bahkan, tanggal 20 Agustus setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Nyamuk Sedunia. Hal ini merujuk pada penemuan Dr. Sir Ronald Ross pada tahun 1897, yang telah berhasil menemukan penyebab malaria (plasmodium) saat melakukan pembedahan perut nyamuk. Dalam periode selanjutnya, banyak diketemukan penyakit yang ditularkan lewat gigitan nyamuk (Dengue, Filariasis, Chikungunya, dll).

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Badan Litbangkes juga menyambut baik ide Loka Litbang P2B2 untuk mempromosikan hasil-hasil penelitianya melalui wisata ilmiah/ wisata edukasi, yang bisa diintegrasikan menjadi bagian dari program pariwisata Kabupaten Pangandaran. Hal ini akan mampu meningkatkan nilai manfaat litbang, melalui edukasi kepada masyarakat.

Kepala Badan Litbangkes juga menekankan bahwa UPT Litbangkes di daerah, selain menjadi wakil Badan Litbangkes di daerah untuk melaksanakan riset skala nasional, UPT Litbangkes di daerah juga harus mampu melaksanakan riset operasional kebutuhan lokal dan juga melakukan inovasi yang menjadi keunggulan masing-masing UPT.