Hari: 7 November 2023

10 September 2017

 

oleh: Prawito

Aku kangen sama istriku, kata Tamiarji suaminya. Aku kasihan sama suamiku, ngak ada yang melayani kata Dasini, istrinya. Mereka sepasang lansia jemaah haji Indonesia yang saling rindu dan mengasihi sampai tanah suci.

Dasini (72) dan Tamiarji (75), kloter 4 SOC, pasangan suami istri yang terpaksa berpisah, ketika berangkat ke tanah suci. Keterpisahan itu sebagai takdir, ketika Dasini, istri tercintanya jatuh sakit sejak tiba di tanah suci.

Dasini kemudian harus mendapat perawatan bolak balik dari Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) dan Rumah Sakit Arab Saudi. Hampir satu bulan Dasini belum ketemu suaminya.

Tamiarji mengikuti pergerakan ibadah haji dari Madinah hingga Makkah bersama jemaah di kloter, sementara istrinya menghabiskan waktunya dari rumah sakit ke rumah sakit.

Dasini di diagnosa sakit radang paru-paru, karena daya tahannya menurun dan terkena infeksi, sehingga kondisi kesehatanya semakin menurun. Akibatnya semakin lama menjalani perawatan di rumah sakit.

Suatu saat, tepatnya 26 Agustus 2017, anggota tim Asistensi penyelenggara kesehatan haji, dr. Muchtaruddin dan dr. Lily S Setyowati
berkunjung ke sektor 7, Makkah, ada seorang jemaah kakek kakek, duduk termenung, wajahnya menerawang jauh entah kemana.

Ia duduk sendiri, sambil berulangkali membuka dan menutup tas dokumen haji yang selalu dibawa kemana saja pergi. Entah apa yang dicari. Teman ngobrol pun juga tidak ada, sunyi dan tentu terasa lama menjalani bergulirnya waktu.

Dari kejauhan, dr. Muchtaruddin melihat ada sesuatu yang berbeda dengan bapak tua ini. Setelah mendekat, kemudian ditanya oleh dr. Muchtaruddin dan terjadilah dialog, seperti di bawah ini antara dokter (d) dan jemaah (J)

d: siapa pak namanya
J: Tamiarji
d: mengapa kok kelihatan sedih
J: Ya sedih, sudah lama ngak ketemu istri,kangen
d: istrinya dimana
J: istri saya sakit sejak sampai di Madinah
d: sekarang dimana
J: katanya di rumah sakit, tapi ngak tahu dimana

Kemudian dr. Muchtaruddin bertanya tetang keberadaan istri pak Tarmiaji kepada tim kesehatan haji indonesia (TKHI) yang ada di sektor tersebut. Dia menjelaskan istrinya sedang di rawat di KKHI Makkah.

Tanpa pikir panjang, dr. Muchtaruddin langsung bicara, bapak mau ketemu istri, mau jawab Tarmiaji, wajahnya langsung sumringah, gembira sekali, bahkan air matanya meleleh di pipi. Ya..sudah nanti bareng, saya antar, kata dr. Muchtaruddin, sambil memeluknya.

Adegan itu membuat haru, orang yang mengikuti dialog di atas dan menyaksikan obralan Tarmiaji dan dr. Muchtaruddin, pasti akan meneteskan air mata. Bagaimana rasanya penantian seorang kakek merindukan bertemu istri yang sedang sakit, entah seperti apa kabarnya.

Tak seberapa lama tim asistensi, TKHI dan Tarmiaji sampai ke KKHI Makkah. Setelah masuk ruang rawat, Tamiarji di dampingi dr. Muchtaruddin langsung menuju tempat tidur Dasini, istrinya.

Setelah bertemu, mereka saling bertatapan, tersenyun gembira, berpelukan. Alhamdulillah, ibu sudah sehat, tanya Tarmiaji. Sudah, sekarang sudah boleh pulang ke pondokan, kata Dasini sambil menahan haru.

Aku ngak menyangka bapak keseni, kata istrinya pelan, sambil berbenah pakaian yang menyelimuti. Aku juga ngak nyangka bu mau ketemu. Ini tadi juga tiba tiba di tawari pak dokter, katanya mau ketemu istri ? Ya..saya jawab mau. Alhamdulillah…kita bisa ketemu lagi.

Kemudian mereka berkata, Aku kangen sama ibu, kata Tamiarji. Aku juga kasihan sama bapak, ngak ada yang melayani, kata Dasini, istrinya.

Akhirnya, sepasang lansia tanpa pendamping ini menuju pondokan bersama TKHI untuk melanjutkan prosesi ibadah haji berikutnya, setelah lama menunggu penyambung rindu, dr. Muchtaruddin Mansur. Semoga menjadi haji yang mabrur dan sehat wal afiat. Amin.

Oleh : Ria Soekarno, SKM, MCN

Aceh Jaya – Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria (microfilaria). Penyakit ini bisa menular dengan perantaraan nyamuk sebagai vektor. Bersifat menahun (kronis), bila tidak mendapat pengobatan, akan menimbulkan cacat menetap/seumur hidup, yaitu berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin, bisa terjadi pada laki-laki maupun perempuan. Hal ini berdampak pada psikologis penderita dan keluarganya. Penderita tidak dapat bekerja secara optimal. Hidupnya bergantung kepada orang lain sehingga menjadi beban keluarga, masyarakat dan negara.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) sedang melakukan pengumpulan data untuk penelitian filariasis. Kabupaten Aceh Jaya merupakan salah satu lokasi pengumpulan data. Data yg dikumpulkan dari monyet, kucing dan monyet. Sekretaris Badan Litbangkes, Ria Soekarno, SKM., MCN. melakukan supervisi terkait penelitian tersebut, 22 September 2017. “Ketertarikan Saya terhadap monyet, karena saya tadi jalan menuju ketempat ini banyak menemui monyet , ujar Ria. “Sekali nangkep, dapet berapa ?”, tanya dr. Lidwina Sallim, M.Si, Kepala Bagian Tata Usaha, Pusat Litbang Upaya Kesehatan Masyarakat, yang mendampingi.

Yulidar, S.Si, M.Si, peneliti dari Loka Litbang Biomedis Aceh, sebagai penanggung jawab teknis menjelaskan, “Kita sudah mendapat 68 sampel reservoir. Sampel darah dari kera 17 ekor, selebihnya kucing, sekitar 51 ekor. Total target yang harus diperoleh 100 ekor untuk semua hewan, Monyet, Kucing dan anjing Lokasi penangkapan harus di daerah endemis. Di lokasi pertama, kita punya 5 kasus dan sudah diserahkan ke Dinas Kesehatan untuk diberi pengobatan.

Dalam melakukan pencegahan serta untuk mengeliminasi kaki gajah, maka setiap bulan Oktober diadakan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (BELKAGA), setiap penduduk kabupaten/kota endemis Kaki Gajah serentak minum obat. BELKAGA telah dicanangkan tanggal 1 Oktober 2015 di Cibinong, Jawa Barat dan menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dalam pelaksanaannya diperlukan dukungan Kementerian dan Lembaga terkait. Badan Litbang membantu melakukan evaluasi serta pemetaan daerah yang terkena penyakit kaki gajah untuk memudahkan program dalam merencanakan pencegahan serta eliminasi yang tepat sasaran.

oleh: Prawito

Oman Kusyaman (54) PNS SMP 1 Sela Jambe Kuningan Jawa Barat, menunggu istri yang sedang sakit lambung selama 21 hari di Arab Saudi. Ketika tiba di Madinah Dia sangat kepingin menunaikan shalat di masjid Nabawi, sebab sehari lagi pulang ke tanah air.

Sama halnya dengan Sukardi (68) Mojokerto, Jawa Timur juga menunggu istri yang menderita sakit diabet di rumah sakit Arab Saudi. Ketika di Madinah, Ia juga berdoa sangat ingin menunaikan shalat di masjid Nabawi, sebelum pulang ke tanah air.

Keduanya tak pernah lupa untuk berdoa setiap kali selesai shalat 5 waktu, mohon agar dapat menunaikan shalat sekali saja di masjid Nabawi, sebelum pulang ke tanah air. Sehari menjelang pulang doanya terkabul.

Entah bagaimana, tiba tiba ada petugas kesehatan dari tim promotif dan preventif (TPP), Arsyad ngajak ngobrol kedua jemaah yang sedang merindukan masjid Nabawi. Dalam obrolan itu, keduanya tak sengaja ditanya oleh Arsyad anggota tim TPP itu, apakah sudah pernah ke Nabawi, selama menunggu istri di Klinik Kesehatan haji Indonesia di Madinah ?

Belum jawab mereka kompak, kalau begitu nanti ikut rombongan bersama saya ke masjid Nabawi, sekaligus penyuluhan, kata Arsyad.

Singkat cerita berangkatlah mereka bersama rombongan TPP, kebetulan tempat Arsyad penyuluhan agak jauh dengan masjid Nabawi, kebetulan tempat saya yang paling dekat dengan Nabawi. Akhirnya mereka bersama saya, setelah selesai penyuluhan mereka saya ajak ke Nabawi.

Dalam perjalanan menuju Nabawi dengan jalan kaki, kedua kakek itu gembira sekali, berkali kali menanyakan banyak hal, saya berusaha menjawab yang saya tahu. Bila tidak tahu saya juga berterus terang mengatakan tidak tahu.

Ketika melihat payung di pelataran Nabawi, mereka berhenti sejenak, takjub dan berulang mengucapkan subhanallah, alhamdulillah. Tak berapa lama kemudian azan shalat ashar berkumandang, kemudian mereka saya ajak masuk masjid dekat dengan raudah.

Sekali lagi, kedua kakek itu bahagia sekali. Seandainya istriku ikut menyaksikan masjid Rasulullah ini tentu akan bahagia sekali. Sayang, istriku tak dapat menyaksikannya, karena sedang di uji sakit dan tak bisa kemana mana. Ya…Allah, segera sembuhkan istriku, doa lirih kedua kakek itu, seusai shalat di Nabawi.

Selanjutnya kedua kakek itu, saya antar mendekat ke raudah, tempat mustajab untuk berdoa di Masjid Nabawi. ” Itu kek, yang namanya raudah, yang berkarpet hijau, sambil saya tunjuk dari kejauhan. Ya…penuh baget jemaah yang berdoa, kata kakek itu. Betul, ngak pernah kosong, siang malam, kata saya.

Tak seberapa lama, dari kejauhan ada seseorang yang mengejar mengikuti kami bertiga, ternyata dia adalah perawat yang kenal dengan kakek itu, kaget dengan siapa bisa ke masjid Nabawi, karena sebelumnya masih menunggu istrinya dirawat di Makkah.

Setelah itu, mereka saya ajak pulang ke KKHI kembali, karena sudah menjelang magrib.

Terima kasih ya mas, sudah bantu kami orang tua melihat dan shalat di Masjid Nabawi, sekali lagi terima kasih, sama sama kek, jawab saya. Selamat istirahat, agar besuk waktu pulang badan sehat dan segar, selamat jalan, selamat sampai tanah air, kata saya mengakhiri perjumpaan. Bersambung….

Oleh: Prawito

Jemaah haji tahun 2017, memiliki rata rata di atas 60 % risiko tinggi. Mereka menggunakan gelang merah, kuning dan hijau. Bahkan kalau dilihat per kloter ada yang jemaahnya 70 sampai 87 % risti. Jemaah risti memiliki riwayat sakit seperti jantung, hipertensi, gula darah dan penyakit lain yang telah di bawa dari tanah air.

Kloter jemaah haji dengan banyak ristinya ini, ibarat kendaraan atau mobil tua. Roda kendaraan sudah gundul, radiator bocor, air mudah habis. Baut-bautnya sudah tua, tak kuat lagi, mudah copot. Bodi kendaraan sudah banyak karat, berjalan sebentar mesin panas dan keluar asap. Lampu juga sudah tak dapat menyala, apalagi klakson sudah lama tak berfungsi.

Nah, kendaraan tua ini sudah menempuh perjalanan panjang dari Indonesia, Makkah, Arafah, Musdalifah dan Mina ( Armina). Perjalanan yang sungguh melelahkan, apalagi ditambah cuaca panas yang sangat tidak bersahabat, sangat besar memperburuk kesehatan, apalagi risti dan lansia.

Kini, kendaraan itu dalam keadaan terparkir dengan banyak onderdil yang harus diganti dan mesin yang harus mendapat perbaikan. Misalnya, mengganti roda yang gundul, menservis mesin dan mengganti oli, tapi juga ada yang harus turun mesin, bongkar total.

Kendaraan itu sekarang adanya di Madinah, setelah melaksnakan ibadah armina dari Makkah. Banyak yang jantungnya kumat, gula darah naik atau ngedrop, hipertensi, ispa dan banyak lainya telah menggerogoti kendaraan tua itu.Mereka harus mendapat perawatan yang maksimal, bila tak ingin rusak menjadi barang rongsokan.

Madinah, adalah tempat singgah jemaah haji melaksanakan arbain, shalat berjamaah di masjid Nabawi dalam 40 waktu, hukumnya sunah, tak ada hubungan dengan prosesi ibadah haji yang masuk dalam katagori syarat, rukun, wajib dan sunah. Tapi umumnya jemaah haji Indonesia memandang sebagai bentuk ibadah yang penting.

Kendaraan tua dalam kondisi rusak, perlu pengemudi bijak. Tak boleh dipergunakan sebelum masuk bengkel untuk mendapat perbaikan, sehingga layak pakai atau jalan. Untuk memastikan kendaraan dapat menempuh perjalanan sampai tujuan, seperti ibadah arbain dan kepulangan ke Tanah Air.

Pengemudi itu, antara lain Tim Kesehatan, Petugas haji, ketua kloter, ketua rombongan, ketua regu dan pembimbing ibadah. Mereka harus mampu memperkirakan kekuatan kendaraan, apakah mampu menempuh perjalanan berikutnya ?

Kalau mampu, alhamdulillah, kalau tidak jangan paksakan diri, maklum mobil tua, penumpangnya 70% lebih risti. Sebab kalau dipaksakan seperti mengendarai mobil balap, pastinya banyak yang tumbang. Itulah sebabnya, mengapa angka kematian setelah armina lebih banyak, diantara penyebabnya, karena pengemudi kurang bijak.

Mereka kebut arbain, shalat 40 waktu di masjid Nabawi dan ziarah tanpa perhatikan kendaraan yang sudah mulai berasap, besin habis, akhirnya berhenti ditengah jalan sebelum sampai tujuan, yakni tanah air, karena sakit atau meninggal. Sekalipun meninggal adalah taqdir yang tak bisa dihindari, kalau ajal sudah tiba.

Sementara saat ini, 30 September 2017, jumlah jemaah haji meninggal sudah mencapai 625 orang, jumlahnya lebih besar dibanding tahun lalu, padahal musim haji belum berakhir, kurang lebih masih seminggu lagi. Disinilah dibutuhkan pengemudi yang bijak. Bersambung….

Oleh: Prawito

Susi, begitu saja panggil namanya, seorang wartawati media terkenal. Setelah komunikasi beberapa kali, kemudian bertanya tentang suhu udara di Arab Saudi, kemudia saya share accuweather, tertera 46 derajat celcius, wow panas bener. Lalu Dia jawab, Wow😂.. Blm ada kasus dehidrasi ya pak? Kolera gmn?. Ini jawaban asli wartawan tadi.

Kemudian ada wartawan yang lain lagi, sebut saja Udin. Ketika ada kasus seorang jemaah meninggal, hebohnya bukan main. Termasuk sibuk menanyakan apa penyebab kematiannya. Sampai dengan agak rasa kesal, nara sumber yang ditanya, berkata, apasih yang mau dicari ?
Jemaah haji yang sehat dan hidup saja banyak, kenapa sibuk dengan jemaah satu orang yang sudah ditakdirkan meninggal ?

Dua kasus di atas kita dapat mengambil beberapa pelajaran; pertama, seolah olah kita menginginkan sesuatu yang buruk pada orang lain. Saya tidak tahu, apakah ini bagian dari cara berfikir badnews is goodnews ?

Pertanyaan ini kemudian saya jawab, jangan ada yang sakit, dehidrasi dan kolera, semua jemaah haji Indonesia sehat, kita harus berdoa untuk kesehatan semua jemaah haji Indonesia. Lantas di balas oleh wartawan itu, betul pak, setuju, semua sehat, jemaah yang pergi dan pulang ke tanah suci sama jumlahnya.

Jawaban di atas mulai benar menurut kaidah rasa kemanusiaan. Sebab tak ada seorangpun, termasuk jurnalis ketika sedang berfikir lurus menginginkan saudara atau dirinya menderita, sakit, kesulitan dan dalam kondisi apa dan dimanapun, termasuk saat berhaji. Sekalipun sangat menarik menjadi berita.

Sekalipun saya seorang jurnalis, sekalipun hanya juralis plat merah, ketika harus menghadapi situasi lapangan yang mengharuskan memilih menulis atau melayani, membantu, saya lebih cenderung pilihan kedua. Padahal secara formal, kontrak kerja saya sebagai jurnalis untuk meliput kesehatan haji.

Kemudian terfikir, oh bantu dulu mereka yang membutuhkan pertolongan, setelah itu baru memberitakannya. Pilihan ini juga belum terlaksana, karena sampai hari ini drama berjatuhan jemaah haji yang tumbang di terowongan mina karena berbagai sebab dan alasan, tak pernah terekpos. Saya masih merasakan sedih dan duka yang amat dalam atas kejadian itu.

Saya menyakini dan mempunyai persepsi tentang sesuatu nilai, mana yang layak berita dan tidak, kesemuanya harus mendatangkan manfaat untuk orang lain, termasuk yang menjadi sumber berita atau semua yang terkait dengan pemberitaan. Berusaha menjaga agar tidak terjebak pada pemberitaan yang membuka aib seseorang. Padahal kita harus menutup aib saudara, teman dan orang lain, agar kita ditutup aibnya oleh Allah SWT.

Bukankah manusia itu banyak kelemahan, kekhilafan dan kekurangan. Kalaulah saat ini ada diantara kita tampak baik, bersih, shaleh dan berderet atribut kebaikan, itu hanya karena Allah masih menutup aib-aibnya. Tapi, kalau Allah membuka aib dan borok keburukan kepermukaan, maka siapa yang bisa bertahan dan menutupnya ?

Untuk itulah, ketika akan menulis tetap menimbang akan manfaat tulisan yang akan menjadi milik publik, siapa saja dapat membaca dan menshare kemana saja dia suka. Apalagi ketika media sosial sudah menjadi budaya hidup, maka informasi itu akan menyebar luas tanpa kendali. Akibatnya, aib seseorang terbuka dan menjadi trending topik.

Akhirnya, sebagai manusia biasa, bukan siapa siapa dan tak punya apa apa mengaturkan permohonan maaf yang sebesar besarnya, atas salah tulis dan berita selama menjadi petugas liputan kesehatan haji 2017. Selanjutnya saya juga mohon ampun atas salah, khilaf dan perilaku buruk yang tak terlihat manusia. Ya…Allah, ampuni hambaMu yang lemah ini. Amin.

Tulisan ini juga sebagai penutup dari sekian tulisan rubrik sisi lain kesehatan haji yang selalu diakhir dengan kalimat bersambung. Sampai jumpa pada kesempatan dan episode yang lain. Sekian dan terima kasih.

Oleh: Aji Muhawarman

Agats, ibukota Kabupaten Asmat adalah kota yang unik. Kota ini punya julukan kota papan. Saya lebih memilih menyebutnya kota melayang.

Di Agats tidak akan dijumpai bangunan apapun yang berdiri langsung di atas tanah, semuanya ditopang oleh beton atau kayu besi. Kecuali genting yang berbahan seng, mayoritas bangunan berbahan dasar papan kayu. Rumah, perkantoran Pemda, rumah sakit, bahkan lapangan bola pun dari papan.

Jika diukur, bisa jadi Agats adalah kota dengan jembatan terpanjang di dunia karena setiap sudut kota terhubung oleh jalan yang melayang di atas tanah.

Nah bagi anda yang akan berkunjung atau bertugas ke Kota Agats, ada beberapa hal yang mesti anda perhatikan sebagai berikut:
1. Persiapkan fisik yang prima.
Untuk mencapai Agats, dari Jakarta anda akan transit di beberapa kota seperti Makassar dan Timika. Dari Timika akan dilanjutkan lagi dengan pesawat kecil menuju Ewer, Asmat. Kemudian berlanjut dengan transportasi air menggunakan speedboat. Total waktu perjalanan sekitar 14-15 jam (termasuk perbedaan waktu 2 jam). Perjalanan sejauh ini tentu membutuhkan kondisi fisik yang prima.

Cuaca di kota ini juga sangat panas, menguras keringat. Selain itu, di kota ini juga tidak ada mobil dan kendaraan umum, sehingga untuk menuju tempat tertentu harus berjalan kaki, menggunakan ojek, atau menyewa motor. Jadi, pastikan tubuh anda dalam keadaan sehat dan fit sebelum berangkat.

2. Siapkan uang tunai yang cukup.
Di kota ini tidak tersedia banyak bank layaknya di Jakarta. Tercatat hanya ada 2 bank yang beroperasi yakni Bank BRI dan Bank Papua. Begitu juga dengan mesin ATM yang letaknya berjauhan. Sehingga untuk keperluan sehari-hari atau transaksi keuangan seperti membeli makanan dan minuman, membayar ojek, dll diperlukan uang cash. Harga-harga di sini jelas berbeda dengan di pulau jawa. Untuk sekali makan dan minum, sekurangnya anda harus merogoh kocek sebanyak 20-30 ribu rupiah. Nilai yang sama berlaku untuk ongkos naik ojek sekali jalan. Berapa banyaknya uang yang anda perlukan, silakan dihitung saja.

3. Istirahat nyaman di hotel tak berbintang.
Jangan bandingkan dengan kota-kota besar lainnya, untuk tinggal sementara hanya ada beberapa hotel kelas melati atau mungkin lebih tepat disebut losmen. Meski begitu, cukup layak untuk ditempati. Ada yang hanya menyediakan tempat tidur, kamar mandi dan kipas angin, tapi ada juga yang menyediakan fasilitas kamar ber-AC dan TV. Harga per kamarnya juga terjangkau. Oiya karena sumber air sulit, tak semua hotel ketersediaan airnya baik. So, pandai-pandailah mencarinya.

4. Ojek jadi sarana transportasi andalan.
Di sana anda tidak akan menjumpai mobil, apalagi truk atau bis. Kendaraan utama masyarakat setempat adalah sepeda atau motor listrik. Kabarnya Pemda setempat melarang penggunaan kendaraan motor bensin, kecuali bagi aparat kepolisian atau instansi tertentu seperti rumah sakit. Itu pun keduanya tidak memanfaatkan pengecualian tersebut, tetap menggunakan motor bertenaga aki dan dinamo saja. Positifnya, nyaris tidak ada polusi suara dan udara. Tapi bagi para pendatang, ini tentu menyulitkan ruang gerak.

5. Pilihan makanan lengkap.

Jangan terlalu khawatir anda akan kesulitan mendapatkan makanan yang cocok dengan selera. Beragam jenis makanan tersedia. Mulai dari bakso, mie ayam, nasi kuning, masakan jawa, makanan padang bahkan coto makasar juga ada. Rasanya? Yaa lumayan lah. Rata-rata penjualnya bukan penduduk asli, tapi para perantau yang mencoba mengadu nasib di sana. Soal harga, sudah pasti lebih mahal, tapi masih dalam batas wajar.

6. Bawa perlengkapan yang tepat.
Suhu udara yang tinggi, sulit air dan endemik malaria menjadi tantangan tersendiri. Oleh karenanya, pendatang harus menyiapkan perlengkapan yang cukup. Baju lengan panjang berbahan katun, topi, sunglasses, tabir surya dan lotion anti nyamuk adalah beberapa barang pribadi yang jangan sampai anda abaikan. Apalagi jika berencana untuk pergi ke distrik/kampung di pedalaman, harus lebih banyak lagi perlengkapannya.

7. Perhatikan kondisi kesehatan.
Masih berkaitan dengan poin sebelumnya. Bagi yang tak biasa, keadaan di sana kurang bersahabat. Untuk itu konsumsi makanan bergizi dan istirahat cukup mesti diterapkan. Bawalah obat-obatan pribadi dan vitamin untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Guna menghindari dehidrasi, sebaiknya selalu membawa minuman kemana pun anda pergi. Jangan menunggu haus, perbanyaklah konsumsi air putih. Sedangkan untuk mencegah terjangkit malaria, dianjurkan untuk minum obat anti malaria setiap hari. Bila perlu diteruskan meminumnya selama beberapa hari setelah kembali lagi ke daerah asal.

8. Sabar, akses komunikasi terbatas.
Zaman now, faktor ini barangkali akan menjadi pertimbangan utama. Dari 3 operator telekomunikasi telepon seluler, hanya Telkomsel yang bisa tersambung relatif baik. Kualitas dan stabilitas koneksi bisa tergantung dari lokasi dan waktu. Untuk komunikasi data, lebih sulit lagi. Indikator 4G di ponsel anda bukan jaminan dapat berselancar di dunia maya atau berkirim pesan dengan lancar. Untuk hal ini, anda harus lebih banyak bersabar. Sabar itu berat. Jangan diserahkan ke Dilan, kasihan.
Ada alternatif lain untuk mengatasi kendala ini. Sejumlah toko menyediakan fasilitas wifi. Bedanya, di sana tidak gratis. Anda harus membeli voucher dengan paket tertentu. Kalau mau yang gratisan, anda bisa menumpang wifi gratis yang tersedia di beberapa titik seperti sekolah dan pelabuhan. Tetapi sekali lagi, kelancaran koneksi tetap tidak dijamin.

9. Berhematlah, air mengandalkan hujan.
Tak hanya di Agats, di Asmat pada umumnya, air bersih jadi barang mahal di sana. Sumber utama air bagi rumah tangga adalah air hujan atau sungai. Setiap bangunan kebanyakan sudah dilengkapi dengan torent (istilah warga setempat: fiber) sebagai tempat penampungan air. Air ini digunakan untuk bermacam keperluan seperti mandi, cuci dan minum. Di musim penghujan, air cukup berlimpah, sebaliknya di musim kemarau, air menjadi langka. Jadi kalau tidak terpaksa sekali, berkunjung di musim kemarau bukan lah waktu yang tepat. Berhemat adalah tindakan yang wajib dilakukan.

10. Jaga diri, jaga sikap.
Terakhir tapi tidak kalah pentingnya. Masyarakat Agats umumnya relatif ramah dengan orang baru. Mereka terbiasa menyapa atau memberi salam ketika berpapasan. Namun, sebagai tamu ada baiknya anda selalu waspada dengan lingkungan sekitar, tidak berpenampilan mencolok dan jaga sikap. Bila ingin bepergian, usahakan tidak di malam hari dan sebisa mungkin tidak seorang diri. Semua demi keamanan anda sendiri.

Setiap tanggal 12 April diperingati sebagai Hari Bekal Nasional. Adanya peringatan Hari Bekal Nasional merupakan bentuk kepedulian terhadap pemenuhan gizi dan kualitas makanan yang baik. Kebiasaan membawa bekal dari rumah dapat meminimalisir meningkatnya PTM (Penyakit Tidak Menular). Kementerian Kesehatan RI dalam hal ini telah merekomendasikan pemenuhan gizi seimbang melalui program “Isi Piringku”.

Agar bekal yang kita bawa berkualitas tentu saja perlu memperhatikan jumlah asupan yang dibutuhkan oleh tubuh seperti komposisi karbohidrat, protein, dan lemak. Pemenuhan akan kebutuhan asupan gizi dalam bekal makan kita dapat di isi dengan makanan pokok, sayuran, lauk pauk, dan buah-buahan. Jenis makanan pokok apa yang dapat digunakan untuk bekal?

Makanan Pokok

Sebagai negara kepualauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki berbagai jenis makanan pokok yang mengandung karbohidrat dan memiliki fungsi sebagai sumber tenaga utama bagi tubuh. Makanan pokok di Indonesia tidak hanya terpaku pada nasi saja, ada berbagai pilihan selain nasi sebagai sumber karbohidrat dan menjadi referensi untuk bekal antara lain, Singkong, Sagu, Bihun, Mie, Jagung, dan Kentang. Sebagai acuan, 150g nasi dapat diganti dengan 3 buah sedang kentang (300g), atau 11/2 gelas mie kering (75g).

Lauk Pauk

Lauk pauk terdiri dari pangan bersumber protein hewani dan protein nabati. Beberapa sumber protein yang dapat menjadi referensi untuk bekal antara lain Ikan dan hasil laut lainnya, ayam, daging sapi, telur, dan susu beserta produk olahannya. Selain sumber protein hewani terdapat pula sumber protein nabati yang cocok untuk dijadikan bekal sehat kita seperi tempe, tahu, dan kacang-kacangan.

Buah dan Sayur

Buah memilki banyak manfaat bagi tubuh kita. Buah sebagai sumber dari vitamin dan mineral, buah memiliki berbagai manfaat bagi tubuh kita yang antara lain dapat mencegah penyakit jantung dan mencegah serangan jerusakan hati dan stroke, selain itu buah juga dapat dijadikan sebagai diet alami yang dapat mencegah kolesterol jahat yang dapat menyerang tubuh kita. Buah juga memiliki antioksidan yang dapat menjaga kekebalan tubuh kita. Yang terpenting sebagai negara yang memiliki berbagai macam jenis buah, kita patut bangga dengan senantiasa mengkonsumsi buah lokal.

Selain buah-buahan, sayur juga memiliki kandungan vitamin dan mineral yang tinggi. Cara hidup yang sederhana adalah dengan mengkonsumsi sayuran. Beberapa diantara sayuran yang ada dapat di konsumsi tanpa di masak terlebih dahulu, namun ada juga yang memerlukan proses pengolahan terlebih dahulu agar menambah cita rasa dari sayuran tersebut dan lebih higeinis.

Bekal dengan gizi seimbang, seperti ini akan memunculkan kebiasaan untuk mengkonsumsi makanan rumahan yang jauh lebih sehat dibandingkan harus jajan di luar. Membawa bekal juga dapat menjamin makanan tetap higeinis.

Oleh Dede Lukman

Hewan apa yang paling kejam di dunia? Mungkin sebagian orang akan menjawab, singa, piranha, anaconda. Kalau dokter Jane (Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik) pasti akan jawab nyamuk. Ya, nyamuk anopheles betina yang di dalam tubuhnya mengandung plasmodium. Sekejam itukah kau, padahal kau ini kecil dan gak enak didengar suaranya kalau lagi terbang.

Hewan yang kecilnya gak lebih dari lubang hidung itu kalau kata data dari Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit telah menyebabkan 1.229 orang Indonesia meninggal pada 2015 dan jumlah kasus yang terjadi saat itu sebanyak 126.575. Selain itu, Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI merilis data berdasarkan world malaria report 2015, menyebutkan malaria telah menyerang 106 negara di dunia.

Coba cari data berapa banyak orang yang meninggal karena dimakan piranha, diterkam harimau, atau dililit anaconda. Bisa jadi ada, tapi jumlahnya gak semengerikan jumlah korban nyamuk. “So, please jangan gigit aku. Kita win-win solution aja, kamu nggak gigit aku dan aku nggak mukul kamu,”

Tapi sarangmu akan ku berantas

Dari data di atas, amat disayangkan dong, mereka yang terkena malaria seharusnya bisa ngelakuin apa yang mereka inginkan, ibadah, sekolah, kerja, sama pacaran untuk beberapa anak muda. Tapi ya mau gimana lagi, datangnya penyakit tidak bisa kita tentukan. Tapi malaria itu bisa dicegah, dokter Jane bilang upayakan jangan ada air menggenang di lingkungan kita, karena itu bisa menjadi sarang jentik nyamuk si anopheles.

Kalau pun ada genangan air, anclumin aja ikan mujair, atau cupang, nanti telur-telur nyamuknya bakal mereka makan. Selain itu, pasang kelambu sebelum tidur, lebih efektif pakai kelambu berinsektisida. Nyamuk nempel, mati.

Kemenkes telah mengusung pekan kelambu massal dan pemantauan penggunaannya. Secara nasional, jumlah kelambu yang didistribusikan untuk seluruh Indonesia sejak tahun 2004 sampai 2017 sebanyak 27,6 juta kelambu. Pada 2017 saja, sejumlah 3.984.224 kelambu telah disitribusikan dalam pekan kelambu massal di 166 Kabupaten/Kota dan 20 Provinsi di Indonesia.

Selain kelambu, pemerintah pun melakukan upaya lain berupa pelatihan tenaga malaria (dokter, perawat, analis, kader, petugas surveilans, etomolog), dan penyediaan obat anti malaria dihydroartemisinin.
Berkatnya kasus malaria berturun setiap tahunnya, terbukti dengan penurunan jumlah kabupaten/kota endemis malaria. Pada 2017, dari jumlah 514 kabupaten/kota di Indonesia, 266 (52%) di antaranya wilayah bebas malaria. 172 kabupaten/kota (33%) endemis rendah, 37 kabupaten/kota (7%) endemis menengah, dan 39 kabupaten/kota (8%) endemis tinggi.

Pemerintah memiliki target pada 2030 seluruh wilayah Indonesia berhasil eliminasi malaria. Eliminasi malaria adalah suatu upaya untuk menghentikan penularan malaria setempat dalam satu wilayah geografi tertentu. Singkatnya, malaria masih ada tapi bukan masalah, artinya tetap dibutuhkan kegiatan kewaspadaan untuk mencegah penularan kembali. Semoga gak ada lagi yang digigit.

Oleh Dede Lukman

Presiden RI Joko Widodo kalau hadir di acara kesehatan sering menggembor-gemborkan bawa anak ke Pos Pelayanan Terpadu atau kita sering bilang Posyandu. Apalagi sekarang Kementerian Kesehatan RI telah memfokuskan target kesehatan yang harus dicapai di 2019 adalah pada penurunan stunting, serta perbaikan kualitas dan cakupan imunisasi.

Sebenarnya ada satu lagi, yaitu eliminasi tuberculosis (TBC), cuma itu gak bakal dibahas karena TBC tidak termasuk dalam Posyandu.

Presiden makin menjadi-jadi nih dalam menggenjot masyarakat untuk bawa anak mereka ke Posyandu. Sebelum bahas Posyandu, terlebih dahulu saya akan bahas kenapa stunting dan imunisasi, menjadi target perbaikan kesehatan di 2019.

Okay, poinnya adalah dua target di atas merupakan masalah kesehatan yang harus dibenahi dengan segera di Indonesia. Mari kita buktikan.

Pertama, Stunting, banyak faktor yang menyebabkan stunting, di antaranya dari faktor ibu yang kurang nutrisi di masa remajanya, masa kehamilan, pada masa menyusui, dan infeksi pada ibu.

Faktor lainnya berupa kualitas pangan, yakni rendahnya asupan vitamin dan mineral, buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani, dan faktor lain seperti ekonomi, pendidikan, infrastruktur, budaya, dan lingkungan.

Pada 2010, WHO membatasi masalah stunting di setiap negara, provinsi, dan kabupaten sebesar 20%. Sementara itu berdasarkan Pemantauan Status Gizi 2015-2016, prevalensi Balita stunting di Indonesia dari 34 provinsi hanya ada 2 provinsi yang berada di bawah batasan WHO tersebut, yakni Yogyakarta (19,8%) dan Bali (19,1%).

Untuk mengatasi hal tersebut, perlu intervensi spesifik gizi pada remaja, ibu hamil, bayi 0-6 bulan dan ibu, bayi 7-24 bulan dan ibu. Selain itu diperlukan juga intervensi sensitif gizi seperti peningkatan ekonomi keluarga, program keluarga harapan, program akses air bersih dan sanitasi, program edukasi gizi, akses pendidikan, dan pembangunan infrastruktur.

Selanjutnya soal Imunisasi, kejadian luar biasa difteri dan campak yang baru-baru ini terjadi membuat pemerintah harus kembali menganalisa terkait cakupan imunisasi yang telah dilakukan, mutu, dan kualitas vaksin yang ada, serta kekuatan surveilans di berbagai daerah.

Namun demikian, cakupan imunisasi dasar lengkap di Indonesia pada 2015 hingga 2017 mengalami peningkatan. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI, pada 2015 cakupan imunisasi secara nasional mencapai 86,5%, pada 2016 mencapai 91,6%, dan pada 2017 mencapai 92,4%.

Usulan penajaman program penting dilakukan, yaitu berupa peningkatan cakupan imunisasi, edukasi kepada masyarakat dan advokasi pada pimpinan wilayah, dan membangun sistem surveilans yang kuat untuk deteksi kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Data di atas mengharuskan para orangtua membawa anak ke Posyandu. Sebab dengan datang dan memeriksakan anaknya ke petugas di Posyandu, status gizi dan imunisasi anak bisa terpantau. Dengan begitu jumlah anak sehat akan banyak, mereka bisa berpendidikan mencapai cita-citanya, dan siapa tahu bisa jadi presiden.

Oleh Awallokita Mayangsari

Selamat datang Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan… bila kita menyadarinya.

Salah satu berkah Ramadhan yang paling nyata dan bisa kita rasakan sekarang adalah betapa bersihnya nikmat udara yang Tuhan berikan. Pada pagi hari hingga petang menjelang, hiruplah segarnya udara tanpa ada bau asap rokok yang menyesak paru. Bersyukurlah, ini satu kenikmatan lagi yang bisa kita rasakan setiap hari, meski hanya di siang hari, meski hanya satu bulan.

Tidak bisa kita pungkiri, masih ada di antara keluarga, kerabat bahkan teman terdekat yang kita sayangi masih terjerat rasa ketergantungan untuk menghisap rokok. Bahkan sebagian besar di antara mereka menganggap rokok adalah kebutuhan biasa dan mereka enggan dikatakan kecanduan.

Nyatanya, rokok adalah candu yang bisa membuat penggemarnya kecanduan. Kamus Besar Bahasa Indonesia secara jelas mendefinisikan kata kecanduan sebagai kejangkitan suatu kegemaran (hingga lupa terhadap hal-hal lain).

Buktinya, bisa kita lihat saat tiba waktu berbuka puasa. Baru saja beberapa tegukan air membasahi kerongkongan, jari-jemari sudah tidak sabar memainkan pemantik untuk segera menyalakan api. Rasa ketergantungan pun mulai menguasai pikiran, mengalahkan rasa lapar yang sesungguhnya dirasakan. Tanpa sadar, motorik tubuh digerakkan untuk mengambil batang rokok dan menyalakannya, memaksa paru-paru untuk menghisap dan menghembuskannya kembali. Dalam kondisi seperti itu, penggemar rokok tidak menyadari bahwa asap yang dihasilkan sangat mengganggu orang yang ada di sekitarnya, yang juga sedang berbuka puasa. Rokok juga begitu dasyatnya, karena mampu mematikan rasa bersalah bahwa asap yang ditimbulkan bisa mengganggu orang di sekitarnya.

Rokok juga bahkan mampu menguasai logika berpikir manusia, sehingga tidak bisa membayangkan bahaya atau akibat yang akan dapat ditimbulkan, serta tidak mampu memperhitungkan bahaya untuk mengambil keputusan yang tepat, padahal mudharat perilaku merokok jauh lebih besar dibandingkan kemaslahatannya. Mereka terlihat lebih berselera dan menikmati saat menghisap rokok daripada saat menyantap hidangan buka puasa. Padahal sesungguhnya tubuh lebih memerlukan zat gizi yang bersumber dari makanan daripada rokok yang jelas-jelas mengandung zat-zat yang membahayakan.

Ingat, Ada Kewajiban Sebelum Hak

Para penggemar rokok selalu menyatakan bahwa itu merupakan hak mereka. Namun, janganlah lupa bahwa menghirup udara yang bersih juga merupakan hak bagi kami dan mereka yang tidak merokok dan tidak ingin terkena dampak asap rokok.

Well, sebelum membicarakan hak, tentu harus didahului dengan kewajiban. Semua individu pada dasarnya berkewajiban menjaga nikmat kesehatan yang telah Tuhan berikan. Perilaku merokok, bukankah hal itu justru malah kontraprodukif dengan upaya menjaga atau meningkatkan kesehatan?

Bagaimanapun juga, para penggemar rokok memiliki kewajiban untuk memperhatikan tempat khusus untuk merokok (yang disediakan) saat mendapatkan haknya. Etikanya, jangan sampai asapnya terhirup oleh orang lain yang tidak merokok, apalagi ibu hamil dan anak-anak. Sementara itu, bagi orang yang tidak merokok dan tidak ingin terkena dampak rokok, berkewajiban pula untuk senantiasa memberikan perhatian untuk mengingatkan bahaya rokok terhadap kesehatan diri dan keluarga.

Berbagi Pesan Kebaikan di Bulan Ramadhan, Ingatkan Mereka Pentingnya Menjaga Kesehatan

Pemerintah baik di tingkat pusat dan daerah telah bersepakat untuk mengatur Kawasan Tanpa Rokok (KTR), yakni area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan/atau mempromosikan produk tembakau, yaitu: fasilitas pelayanan kesehatan, tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, tempat ibadah, tempat bermain anak baik yang tertutup maupun area terbuka, angkutan umum dan fasilitas publik lainnya, tempat usaha/kerja.

Selain itu, pemerintah juga tidak hentinya berusaha menyadarkan para penggila rokok dengan memasang peringatan keras berupa tulisan “Merokok Membunuhmu” disertai pictorial health warning yang mevisualisasikan bahaya yang bisa mereka alami bila meneruskan kebiasaan buruk mereka. Namun, saat kecanduan, sepertinya tulisan dan gambar peringatan menjadi tidak kelihatan. Maka dari itu, dibutuhkan peran dari orang-orang dan teman terdekat, untuk senantiasa mengingatkan bahwa kesehatan adalah anugerah Tuhan yang perlu dijaga.

Harapannya adalah dengan keberadaan kasih sayang dan perhatian, perlahan-lahan hati akan tergerak untuk tidak ingin mengganggu, sehingga secara sungguh-sungguh berupaya menjauhkan diri dari perilaku yang merugikan, dan mampu melepaskan diri dari jeratan candu yang menguasai.

Maka dari itu, di bulan ramadhan seperti saat ini merupakan saat terbaik untuk berbagi pesan kesehatan yang juga termasuk amalan kebaikan yang bisa dilakukan. Semoga ibadah shaum kita semua bisa diterima oleh-Nya dan kita semua kembali kepada fitrah, bersih tidak hanya fisik dan hatinya namun juga terhindar dari kebiasaan yang merugikan, sehingga menjadi lebih bersyukur atas nikmat sehat dan nikmat udara segar yang telah Tuhan berikan.

Jakarta, 24 Mei 2018 (7 Ramadhan 1439H)